Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 7)

- Penulis

Selasa, 22 Oktober 2024 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 7)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 7)

“Mas.” Kirei mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Attala. Ia mencium punggung tangan suaminya. Mereka berdua baru saja selesai menunaikan ibadah Salat Magrib.

Attala mencium kening, lalu membaca doa kebaikan untuk sang istri serta meniupkan ke ubun-ubun. Mereka berdua tidak keluar kamar setelah insiden pembersihan kamar. Baru kali ini, ia merasakan kedamaian setelah melakukan ibadah wajib. Sekarang, ia memiliki tanggungjawab yang besar untuk jadi pemimpin keluarga sekaligus membimbing sang istri ke arah yang lebih baik. Karena itulah, ia juga harus mulai berbenah diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terdengar suara pintu diketuk diiringi suara Bi Minah. “Den, Non, Ibu sama Bapak sudah nunggu di ruang makan.”

Attala bangkit, lalu membuka pintu. “Iya, Bi. Sebentar lagi, kami ke sana.”

Ngih, Den. Bibi permisi ke dapur lagi.” Bi Minah berlalu untuk melakukan pekerjaan yang lain.

Attala melihat wajah Kirei yang ditekuk. Sepertinya, sang istri enggan untuk makan malam dan bertemu dengan mamanya.

Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, sebagaimana jadwal makam malam keluarga Gumilar. Bukan tanpa alasan Gumilar menetapkan jadwal makan malam, sebab waktu tersebut adalah adalah waktu yang ideal. Pada waktu itu, tubuh belum merasa lelah dan perut belum berada dalam kondisi lapar sehingga porsi makan dapat lebih terkontrol.

Bagi perempuan yang ingin melakukan diet, para pakar gizi menyarankan untuk makan pada pukul 17.00 – 18.00. Sebab jam segitu,, tubuh memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan proses pencernaan dan menyerap metabolisme makanan sebelum tidur. Jarak antara makan malam dengan jam tidur disarankan minimal 2 jam.

Kirei melipat mukena yang sudah ditanggalkannya, sedangkan Attala menunggu di ambang pintu. Sebenarnya, ia ingin sekali menghindari makan malam bersama hari ini, tetapi suaminya terus membujuk dengan alasan untuk menghormati orangtua.

“Senyum, dong,” pinta Attala sambil menatap wajah Kirei yang cemberut. “Jangan memasang wajah seperti itu. Nanti, Mama tersinggung, lho.”

Mendengar perkataan Attala, Kirei menarik bibirnya perlahan hingga membentuk senyuman yang manis sekali. Ia menggandeng tangan suaminya, lalu berjalan beriringan menuju ruang makan.

Gumilar dan Gayatri sudah menunggu. Ada empat jenis masakan dan satu wakul nasi di atas meja. Piring dan gelas sudah tertata rapi. Aroma masakan mengugah selera. Menu hari ini adalah masakan khas Jawa Tengah. Ada soto kudus yang kaya akan rempah-rempah, seperti ketumbar, lengkuas, bawang merah, bawang putih, daun serai, daun salam, merica, jahe, dan garam. Ada juga Tempe Mendoan, Sambal Lethok yang bumbunya terdiri dari cabai, bawang merah, bawang putih, kencur, daun salam, lengkuas, gula merah, dan garam serta tempe segar atau bosok dan santan. Membuat sambal ini tidaklah sulit, Gayatri pernah belajar langsung pada Bi Minah karena suaminya menyukai sambal ini.

Bi Minah mengajari Gayatri dengan sabar. Dari mulai merebus tempe segar, tempe bosok (semangit) dan bumbu lainnya hingga lunak, lalu ditiriskan. Kemudian, tempenya ditumbuk setelah itu disisihkan. Lanjut ke tahap selanjutnya, Bi Minah menghaluskan bumbu yang telah direbus tadi, lalu ditumis hingga berbau harum dan masukan daun salam dan lengkuas. Setelah itu, masukkan tempe yang sudah ditumbuk dan bumbu yang sudah ditumis ke dalam santan. Tahap terakhir, masukkan gula merah dan garam, lalu biarkan sampai mendidih hingga bumbunya meresap.

“Wah, ada sambal kesukaan Papa, nih. Bi Minah emang jagonya masak makanan seperti ini. Kamu harus cobain masakan Nusantara, Attala. Pasti kamu belum pernah mencobanya, kan?” Gumilar memulai pembicaraan agar suasana di meja makan ini menjadi cair.

“Iya, Pa. Aku belum pernah mencoba makanan seperti ini karena terlalu lama di Korea.” Attala terlihat kikuk. Ia ragu, apakah lidahnya akan cocok dengan masakan malam ini atau tidak? Jika tidak. Terpaksa, ia akan meminta Kirei untuk memasakkan mie instan saja.

“Soto Kudus buatan Bi Minah, enak banget, Mas. Cobain, ya?” Kirei berinisiatif untuk mengambilkan nasi dan lauk yang ada di meja ke dalam piring Attala, tetapi dengan porsi yang sedikit dulu. Takutnya, sang suami tidak suka dengan rasanya.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Polres Barru menggelar Serah Terima Jabatan (Sertijab) delapan pejabat utama dan kapolsek jajaran. Rotasi ini menjadi bagian dari penyegaran organisasi untuk memperkuat profesionalisme serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Internasional

Sertijab Polres Barru, Kapolres Dorong Pelayanan kepada Masyarakat

Kamis, 6 Agu 2026 - 21:17 WIB