Pesta pernikahan kami termasuk sederhana menurut Mas Bayu. Ia menyampaikan kalau ayah dan ibunya ingin pesta yang biasa saja, tidak perlu mewah atau berlebihan. Aku tidak keberatan, karena memang uang tabunganku tidak seberapa. Pesta yang menurut Mas Bayu biasa, menurutku cukup mewah.
Maaf ya, Mir, aku nggak bisa kasih kamu dana lebih untuk bikin pesta yang mewah karena Ayah menolak membantu biaya pernikahan kita. Semua yang aku kasih ke kamu itu hasil tabunganku sendiri selama bekerja, ujar Mas Bayu setelah acara lamaran.
Jangan khawatir, Mas! Aku akan bikin acara yang indah meski dengan dana terbatas. Bagiku, yang penting kita menikah dan mulai mengarungi hidup baru, berdua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Iya, tapi dananya juga jangan dihabis-habiskan. Kita masih perlu dana untuk membeli rumah.
Pelan-pelan aja, Mas. Kita kan bisa kontrak dulu sementara
Jangan! Aku nggak mau ngontrak. Daripada untuk bayar kontrakan, lebih baik untuk biaya cicilan rumah tiap bulan.
Iya, tapi untuk beli rumah kan perlu DP, Mas. Dari mana uangnya? tanyaku ragu.
Nah, makanya sisihkan dari dana pesta. Bisa, kan?
Perlahan aku mengangguk. Otakku bekerja keras menyusun rencana pesta dengan dana terbatas. Mas Bayu menepati kata-katanya. Ia tidak menyerahkan semua tabungannya, sehingga aku terpaksa mengambil tabunganku yang selama bertahun-tahun kukumpulkan dengan susah payah.
Ada rasa tidak nyaman dengan keputusan Mas Bayu. Namun, aku berusaha mengerti dan memakluminya. Akhirnya, sebulan setelah menikah, kami mulai mencari rumah. Sementara ini, ia setuju kami mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan kantorku untuk mengurangi pengeluaran. Sedangkan Mas Bayu menggunakan motor untuk ke kantor.
Mir, aku udah nemu rumah di daerah Depok. Lumayan, nggak terlalu jauh ke stasiun kereta. Lingkungannya juga enak, dekat masjid.
Malam itu kami sedang beristirahat di ruang tamu. Mas Bayu menjatuhkan tubuhnya di sofa hitam di sampingku sambil menunjukkan beberapa lembar brosur perumahan yang cukup elit di daerah Depok.
Lho, kok Mas nggak ngajak aku? Aku kan juga pingin lihat, kataku sedikit kecewa.
Nanti kalau mau ke sana lagi, aku ajak kamu. Tadi pas ada teman yang mau lihat juga, jadi langsung dari kantor. Mas Bayu tersenyum menatapku.
Mas kan bisa telepon, biar aku nyusul, ucapku sambil cemberut.
Lho kamu kerja, kan? Emang bisa izin? Sudahlah, masalah sepele kayak gini nggak perlu dibesar-besarkan. Toh, aku juga belum mutusin beli apa nggak, tandas Mas Bayu. Nanti kita bisa ke sana lagi, katanya melanjutkan.
Aku tersentak kaget, tetapi berusaha mengendalikan diri.
Kamu mau makan apa? Aku masakin ya? tanya Mas Bayu seolah tidak ada apa-apa.
Aku diam, rasa dongkol masih menguasai hati.
Nggak mau, nih? Nggak lapar, ya? tanyanya dengan tatapan menggoda.
Mau tak mau rasa jengkelku menghilang. Ia memang pintar mengubah suasana hatiku.
Ia lalu beranjak ke dapur. Aku menyusul lalu memeluknya dari belakang.
Mau makan soto ayam Surabaya, segar.
Siap, Tuan Putri! Duduk aja di sini sambil liat aku masak. Mas Bayu segera mengambil ayam dan bahan-bahan dari dalam kulkas, lalu mulai mengolahnya.
Aku duduk sambil memperhatikan kesibukan suamiku. Ruang makan sengaja diatur menyatu dengan dapur untuk memudahkan memasak dan menghidangkan makanan. Dengan cekatan, lelaki bermata sipit itu merebus ayam, memotong sayuran dan menyiapkan sambal. Tidak nampak tanda kalau kami baru saja berdebat.
-bersambung-
Halaman : 1 2






