Jakarta, 30 Mei 2025 Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kembali mengingatkan bahwa COVID-19 masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, meski status kedaruratan pandemi secara resmi telah dicabut sejak Mei 2023.
Dalam pernyataan terbarunya pada 28 Mei 2025, WHO menyebut bahwa varian-varian baru COVID-19 terus bermunculan dan dapat berdampak pada kelompok rentan, terutama lansia dan penderita komorbid.
COVID-19 belum berakhir. Kita harus tetap waspada. Virus ini masih berevolusi dan terus menyebabkan kematian, rawat inap, dan gangguan sistem kesehatan di banyak negara, ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
¬ Varian Baru XBB.3 dan FLiRT: Apa yang Berubah?
Salah satu perhatian utama WHO saat ini adalah kemunculan varian turunan Omicron bernama XBB.3 dan subvarian FLiRT, yang telah terdeteksi di Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Eropa. Kedua varian ini memiliki mutasi pada bagian spike protein yang membuatnya lebih mudah menyebar, meski gejalanya relatif ringan pada individu yang sudah divaksin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Indonesia sendiri, menurut data Kementerian Kesehatan, hingga pertengahan Mei 2025 telah ditemukan 135 kasus varian XBB.3, mayoritas di Jakarta dan Surabaya. Belum ada laporan kematian akibat varian ini, namun pemerintah menegaskan bahwa deteksi dini dan vaksinasi tetap menjadi kunci.
💉 Vaksin COVID-19 Generasi Baru Sudah Tersedia
Menanggapi dinamika varian baru ini, sejumlah negara sudah mulai menyediakan vaksin COVID-19 generasi terbaru. Di Indonesia, vaksin berbasis mRNA generasi ke-3 buatan Bio Farma bekerja sama dengan Mitra Global diklaim lebih efektif menghadapi subvarian XBB dan FLiRT.
Menurut Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, vaksin baru ini akan tersedia untuk kelompok prioritas, yaitu:
- Lansia (60+ tahun)
- Tenaga kesehatan
- Penderita penyakit kronis (komorbid)
Distribusi vaksin ditargetkan rampung di 34 provinsi sebelum akhir Juli 2025.

📊 Data Global: Penurunan Tapi Belum Hilang
Menurut dashboard WHO per 27 Mei 2025:
- Kasus baru COVID-19 global dalam 28 hari terakhir: 2,3 juta
- Kematian: 6.450 jiwa
- Negara dengan kasus tertinggi: India, Brasil, Jepang, dan Inggris
Meski jauh menurun dibanding puncak pandemi 20202022, angka tersebut menunjukkan bahwa COVID-19 belum sepenuhnya hilang dari peredaran.
🥠Dampak Laten: Long COVID Masih Jadi Masalah
Selain kasus aktif, WHO juga menyoroti fenomena Long COVID, yakni gejala berkepanjangan yang dialami oleh pasien pasca sembuh, seperti:
- Kelelahan ekstrem
- Gangguan kognitif (brain fog)
- Masalah pernapasan
Studi terbaru dari The Lancet menyebut bahwa 1 dari 5 pasien yang pernah terkena COVID-19 mengalami gejala residual hingga 6 bulan setelah dinyatakan negatif.
Di Indonesia, RSUP Persahabatan Jakarta mencatat peningkatan jumlah pasien dengan keluhan pasca-COVID, terutama usia produktif 2545 tahun.
🛫 Waspada Mobilitas Global & Musim Liburan
Dengan meningkatnya mobilitas menjelang libur sekolah dan musim haji 2025, WHO meminta setiap negara untuk tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Beberapa imbauan yang disampaikan antara lain:
- Melanjutkan penggunaan masker di transportasi publik saat ramai
- Menghindari bepergian dalam kondisi sakit
- Melengkapi vaksinasi hingga booster terbaru
- Memantau kondisi kesehatan setelah perjalanan
Indonesia sendiri telah memperketat pengawasan suhu tubuh dan riwayat vaksinasi di beberapa bandara internasional sejak 25 Mei 2025.
📣 Sikap Pemerintah Indonesia: Kita Waspada, Bukan Panik
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah tetap mengadopsi pendekatan waspada adaptif, bukan kepanikan berlebihan.
Kita tidak akan memberlakukan PPKM atau lockdown lagi. Tapi kesadaran masyarakat tetap penting. Vaksinasi booster terbaru sangat kami dorong, tegas Menkes dalam konferensi pers, Selasa (28/5).
📌 Kesimpulan: COVID-19 Belum Usai
Meski tidak lagi berstatus pandemi global, COVID-19 tetap harus diperlakukan sebagai penyakit serius yang dinamis. Dengan kemunculan varian baru, risiko Long COVID, dan kemungkinan penyebaran di tengah musim liburan, masyarakat diimbau untuk:
- Rutin cek vaksinasi
- Menjaga kebersihan dan etika batuk
- Segera periksa jika alami gejala
- Tidak anggap enteng infeksi ringan
Virusnya berubah. Tapi kewaspadaan kita jangan berubah, tutup Dr. Tedros dari WHO.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber






