Pemalakan sopir truk di kawasan Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, kembali mengangkat isu premanisme yang meresahkan.
Kejadian ini terekam dalam video berdurasi satu menit lebih dan langsung menyebar luas di media sosial.
Tindakan para pelaku yang meminta uang sambil menunjukkan kuitansi memicu kemarahan publik serta mendesak tindakan cepat dari aparat.
Akar Masalah Pemalakan Sopir Truk di Pasar Tradisional

Fenomena pemalakan sopir truk yang kembali mencuat di wilayah Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, menunjukkan bahwa praktik ini masih menjadi persoalan yang belum benar-benar terselesaikan di banyak kawasan Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Insiden terbaru ini mendapat perhatian besar karena secara visual terekam dalam video amatir berdurasi lebih dari satu menit, kemudian beredar luas di platform TikTok dan media sosial lainnya.
Dalam video tersebut, dua pria tampak menghampiri sebuah truk besar yang sedang berhenti dalam antrean bongkar muat barang, lalu dengan percaya diri menyerahkan secarik kertas yang tampak seperti kuitansi sembari meminta sejumlah uang dari sang sopir.
Kuitansi tersebut menjadi bukti visual yang membuat publik bereaksi, karena menunjukkan adanya pemungutan uang yang dilakukan tanpa identitas atau kejelasan institusi resmi.
Nilai yang diminta pun tidak kecil, yakni sebesar Rp300 ribu, dan dilakukan di tengah aktivitas distribusi barang yang lazim dilakukan oleh para sopir truk pengangkut logistik.
Narasi dalam video secara gamblang menyebut bahwa kejadian ini bukan pertama kali terjadi, bahkan sudah sering berlangsung, dan selalu dengan pendekatan yang bernuansa tekanan atau intimidasi.
Unggahan ini berasal dari akun TikTok bernama fans kang kdm tasik, dengan narasi yang menyulut reaksi keras dari warganet: preman minta uang 300 ke mobil nunggu bongkar.
Hanya dalam hitungan jam, video tersebut menyebar luas dan dibanjiri komentar dari masyarakat yang mengaku pernah melihat kejadian serupa, baik di lokasi yang sama maupun tempat lain di Tasikmalaya.
Muncul pula pengakuan dari sejumlah sopir yang merasa khawatir ketika harus melintasi atau berhenti di pasar-pasar tradisional karena rawan mengalami pemalakan berkedok pungutan resmi.
Premanisme dalam bentuk seperti ini kerap menyasar pekerja sektor informal yang tidak memiliki perlindungan memadai dan berada di posisi lemah saat menghadapi intimidasi lapangan.
Dari sisi sopir, mereka seringkali memilih menyerahkan uang demi menghindari konfrontasi fisik atau hambatan dalam proses bongkar muat barang yang bisa berdampak pada keterlambatan pengiriman.
Tingginya reaksi masyarakat mendorong aparat kepolisian bertindak cepat.
Tim Resmob Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota Tangkap Pelaku Pemalakan
Hanya selang satu hari sejak video itu viral, tepatnya pada Kamis, 5 Juni 2025, Tim Resmob Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota langsung turun ke lapangan melakukan penyelidikan.
Berkat informasi dari warga dan hasil pelacakan dari ciri-ciri dalam video, dua pria yang diduga sebagai pelaku utama berhasil diamankan ketika sedang makan di sebuah warung nasi di kawasan Mangkubumi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






