Wasiat Terakhir Nabi Muhammad SAW
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Nabi Muhammad SAW sempat memberikan wasiat yang disampaikan oleh beliau di depan para sahabat. Menurut buku ‘Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian sampai Sesudahnya’ karya Abdurrahman bin Abdul Karim, Rasulullah SAW menyampaikan wasiat untuk mengusir orang-orang Yahudi beserta orang-orang yang musyrik berasal dari Jazirah Arab. Pada selagi itu, Rasulullah SAW terhitung bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat sepanjang kalian memegang teguh keduanya, yakni Kitabullah dan sunnahku.”
Pada selagi detik-detik wafatnya Nabi Muhammad SAW, beliau sempat memberikan khutbah dengan suara yang udah terbata-bata. Adapun pesan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Wahai umatku, kita seluruh tersedia didalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka, taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua perihal pada kalian, sunnah dan Al-Quran. Barangsiapa mencintai sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersamaku.”
Setelah mengucapkan perihal tersebut, Nabi Muhammad SAW memandangi wajah para sahabatnya satu per satu. Abu Bakar menatap mata beliau dengan mata berkaca-kaca, sedang Umar menghindar napas dan tangisnya. Sementara itu, Utsman menghela napas yang begitu panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sikap Para Sahabat Mengetahui Nabi Muhammad SAW Telah Wafat
Salah satu kawan akrab Nabi Muhammad SAW yang terlihat paling tegar adalah Abu Bakar. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan didalam buku ‘Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Ibtidaiyah Kelas V’ yang disusun oleh By Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida’, selagi mengetahui Rasulullah SAW udah wafat, Abu Bakar senantiasa tegar dan menyampaikan nasihat kepada kaum muslim yang tengah berkumpul di didalam masjid.
Pada kesempatan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA membacakan firman Allah SWT dalam Surat Ali ‘Imran ayat 144. Berikut bunyi ayat tersebut:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Wa mā Muḥammadun illā rasūl, qad khalat min qablihir-rusul. A fa im māta au qutilanqalabtum ‘alā a‘qābikum. Wa may yanqalib ‘alā ‘aqibaihi fa lay yaḍurrallāha syai’ā. Wa sayajzillāhusy-syākirīn.
Artinya:
“Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang atau murtad? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Sementara itu, dikisahkan bahwa Umar bin Khattab jadi salah satu kawan akrab Rasulullah SAW yang tidak mempercayai kepergian beliau. Bahkan Umar sempat meyakini bahwa kabar mengenai wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah dusta belaka. Namun, kaum muslimin yang mengetahui perihal berikut langsung menolong Umar sehingga mengetahui bahwa itu seluruh adalah kenyataan yang wajib dihadapi. Mereka mengupayakan menasihati sehingga Umar sabar dan menerima kenyataan perihal wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






