OOTD Jadi Tren Gaya Hidup Modern di Kalangan Anak Muda
OOTD kini menjadi tren gaya hidup modern yang semakin populer di kalangan anak muda. Istilah Outfit of The Day atau yang disingkat OOTD tidak hanya sekadar menunjukkan pakaian yang dikenakan.
Tetapi juga sudah berkembang menjadi media ekspresi diri, gaya hidup, bahkan sarana membangun citra di media sosial.
OOTD dan Media Sosial
Perkembangan media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube menjadi salah satu faktor utama meningkatnya tren OOTD. Anak muda menjadikan platform digital sebagai ajang berbagi inspirasi fashion dan gaya berpakaian. Satu foto atau video singkat tentang OOTD bisa dengan cepat viral dan ditiru banyak orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut pengamat mode, Rani Wulandari, OOTD tidak lagi sekadar tentang pakaian mahal. Sekarang yang penting adalah bagaimana seseorang bisa memadukan pakaian sehari-hari agar terlihat menarik. Kreativitas dalam mix and match lebih dihargai daripada sekadar merek terkenal, jelasnya.
Dampak Ekonomi Kreatif dari Tren OOTD
Tren OOTD memberikan dampak positif pada sektor ekonomi kreatif, khususnya fashion lokal. Banyak brand lokal dan UMKM di bidang pakaian, aksesoris, dan sepatu memanfaatkan tren ini untuk memasarkan produk mereka. Kolaborasi dengan influencer dan fashion enthusiast menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan penjualan.
Seorang pelaku UMKM fashion di Bandar Lampung, Siti Aminah, mengaku omzet tokonya naik sejak memanfaatkan konten OOTD di Instagram. Saya hanya pakai model biasa, lalu difoto dengan gaya OOTD. Ternyata banyak yang suka karena terlihat sederhana tapi tetap stylish, katanya.
OOTD Sebagai Identitas Diri
OOTD kini juga dipandang sebagai cara seseorang mengekspresikan identitas dirinya. Gaya pakaian kasual, formal, sporty, atau vintage menunjukkan karakter berbeda dari setiap individu. Anak muda bahkan sering kali merasa lebih percaya diri ketika bisa menampilkan OOTD yang sesuai dengan kepribadian mereka.
Psikolog sosial, dr. Hendra Prakoso, menyebut bahwa pakaian berperan besar dalam membentuk rasa percaya diri. OOTD bisa menjadi sarana aktualisasi diri. Saat seseorang merasa penampilannya sesuai dengan dirinya, kepercayaan diri meningkat, dan hal itu berdampak positif pada interaksi sosial, ujarnya.
Tren OOTD di Kalangan Mahasiswa
Di lingkungan kampus, tren OOTD semakin marak. Mahasiswa berlomba-lomba menunjukkan gaya berpakaian mereka, baik saat kuliah, menghadiri acara kampus, maupun sekadar nongkrong bersama teman. Hashtag #OOTDKampus bahkan sering trending di media sosial.
Salah satu mahasiswa Universitas Lampung, Ayu Prameswari, mengaku sering mempersiapkan pakaian untuk ke kampus layaknya menyiapkan OOTD. Rasanya lebih semangat kalau datang ke kampus dengan penampilan yang rapi dan sesuai gaya saya. Kadang teman-teman juga ikut foto bareng dan posting, katanya.
Kritik dan Tantangan
Meski banyak sisi positifnya, tren OOTD juga tak lepas dari kritik. Beberapa pihak menilai fenomena ini bisa memicu gaya hidup konsumtif, karena orang jadi terdorong membeli pakaian baru hanya demi konten media sosial. Selain itu, standar penampilan di dunia maya kadang membuat sebagian orang merasa kurang percaya diri jika tidak mampu mengikuti tren.
Namun, menurut Rani Wulandari, tren OOTD sebaiknya dipandang sebagai ajang kreativitas, bukan perlombaan. OOTD tidak harus pakaian baru. Pakaian lama bisa tetap keren kalau dipadukan dengan tepat. Kuncinya ada pada kreativitas, bukan harga, tegasnya.
Inspirasi OOTD Ramah Lingkungan
Di tengah isu lingkungan, muncul pula gerakan OOTD ramah lingkungan. Anak muda mulai tertarik pada konsep sustainable fashion, yaitu menggunakan pakaian daur ulang, thrifting, atau memilih brand lokal yang peduli lingkungan. Hal ini menjadi bukti bahwa tren OOTD juga bisa diarahkan pada gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Komunitas Thrift OOTD Lampung misalnya, rutin mengadakan acara tukar pakaian dan pameran busana bekas layak pakai. Kami ingin menunjukkan bahwa tampil stylish tidak harus selalu beli baru. Pakaian bekas pun bisa jadi OOTD keren kalau dipadukan dengan baik, ujar ketuanya, Dimas Herlambang.
Peran Influencer dalam Mengangkat Tren OOTD
Influencer memiliki peran penting dalam mengangkat tren OOTD. Mereka menjadi rujukan banyak orang untuk mencari inspirasi berpakaian. Tidak jarang, OOTD yang dikenakan influencer langsung memengaruhi penjualan suatu produk fashion.
Fenomena ini juga memicu lahirnya micro-influencer, yaitu orang biasa dengan jumlah pengikut tidak terlalu banyak, namun tetap berpengaruh karena dianggap lebih autentik dan dekat dengan pengikutnya. Konten OOTD saya hanya untuk seru-seruan, tapi ternyata banyak teman yang akhirnya beli pakaian seperti yang saya pakai, kata Yuli, seorang micro-influencer asal Metro, Lampung.
Tren OOTD tidak hanya berhenti pada sekadar gaya berpakaian, tetapi juga menjadi bagian dari budaya digital masyarakat modern. Dampak melebar mulai dari meningkatnya kepercayaan diri, berkembangnya industri fashion lokal, hingga lahirnya gerakan mode ramah lingkungan.
Bagi anak muda, OOTD adalah cara untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi dengan dunia. Selama disikapi dengan bijak, OOTD akan terus menjadi tren yang sehat, kreatif, dan bermanfaat bagi perkembangan gaya hidup masa kini.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






