Novel: Nayanika (Part 6)

- Penulis

Minggu, 29 September 2024 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Nayanika (Part 6)

Aku harus tahu dulu alasanmu memintaku. Kalau hanya mau mencari ibu untuk Ren dan Hime, nggak harus aku kan?

Harus kamu. Karena cuma kamu yang aku dan Diandra percayai.

Kenapa begitu? tantangku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena kamu tidak mungkin bisa menyakiti mereka.

Jahat. Arya memanfaatkan kelemahanku yang tidak bisa menolak anak-anaknya. Aku memang selalu mencari tahu kabar dan perkembangan mereka ke Mama sejak mereka lahir, dan Diandra tahu itu. Bahkan Diandra kerap mengirimkan video kelucuan Ren dan Hime meski aku tidak pernah membalasnya. Dia sangat tahu, hubungan burukku dengannya tidak akan mempengaruhi rasa sayangku pada anak-anaknya.

Tapi menikah hanya karena aku yang mereka percayai sebagai pengganti Diandra, ya tidak adil juga bagiku. Aku tidak memiliki pengalaman dalam hal mengasuh anak, terlebih Ren dan Hime sudah berusia lima tahun, tentu saja pola asuh Diandra sudah melekat dalam diri mereka. Jika aku salah langkah, kemungkinan besar mereka sulit menerima, atau justru aku yang kebingungan.

Belum lagi mejadi istri seorang Arya, kakak iparku sendiri. Duh, aku tidak pernah membayangkan, bahkan dalam mimpi terburuk pun akan menikahi seorang duda. Kata orang-orang, kalau bisa jangan menikah dengan laki-laki yang pernah memiliki pasangan di masa lalu. Resiko untuk dibandingkan atau diharapkan sama dengan pelayanan istri terdahulu cukup besar.

Hanya saja aku pun memikirkan hal lain. Tidak munafik jika aku masih menyimpan rasa pada Arya, dan sampai sekarang aku masih meyakini jika dia adalah laki-laki yang baik dan bisa berkomitmen.

Jangan memintaku untuk membandingkannya dengan Ghani. Sementara akan kusimpan alasan mengapa aku tidak meyakini dia akan menjadi pendampingku kelak.

Jadi bagaimana?

Aku tersentak oleh pertanyaan desakan Arya. Lalu sedikit memiringkan dudukku untuk bisa melihatnya.

Kalau aku bersedia, apakah Mas Arya akan memperlakukanku sama sewaktu dengan Diandra?

Arya diam sejenak, memandangku lekat, seolah sedang mengira-ngira ukuran diameter bola mataku. Jangan tanya, bagaimana gugupnya aku. Bahkan seorang Ghani yang menjadi kekasihku tidak pernah memberikan tatapan sejenis itu.

Tentu saja aku akan memperlakukanmu dengan cara terbaik yang aku bisa, ucapnya akhirnya.

Menyerah ditatapi seperti itu, aku meluruskan kembali dudukku. Berpura-pura memperhatikan cat pagar rumah yang sudah usang. Mengutuk mengapa tidak satu pun kendaraan yang lewat.

Kasih aku kesempatan untuk berpikir kalau begitu. Aku harus berbicara dengan Mama.

Karena aku sudah berbicara dengan Mamamu, makanya aku berani ke sini.

Aku menoleh kaget. Ngapain Mas Arya ngomong ke Mama dulu?

Kedua kening laki-laki itu menyatu, tampak berpikir. Lalu harus ke mana kalau aku ingin melamarmu? Bukannya memang sama Mamamu?

Kalau aku menolak Mas Arya malam ini juga, bagaimana?

Berarti aku akan membujuk mamamu supaya mau meyakinkanmu, jawabnya santai. Sorot matanya terasa hangat, menyebabkanku kembali disergap rasa malu.

Tentu saja dia bisa sesantai itu karena tidak menyadari perasaanku. Tidak pernah tahu jika aku diam-diam menyukainya sejak dulu. Apakah semudah itu dia meminta perempuan yang tidak dicintainya untuk dijadikan istri?

Malam itu Arya pulang tanpa mendapat jawabanku. Aku memintanya untuk pulang dengan alasan sudah mengantuk. Padahal alasan sebenarnya adalah aku mencegah jantungku bekerja keras, karena sejak kedatangannya organ tubuhku itu berdetak keras tidak terkontrol

***

Malam Minggu. Kebetulan Ghani tidak memiliki jadwal manggung, pun aku memiliki mood untuk keluar jalan. Kami berencana ke tempat makan yang sudah lama tidak kami datangi. Menu mie ayamnya tidak terkalahkan, selain itu Ghani suka dengan suasananya yang ramai tapi tidak bikin gerah.

Jadi apa yang ingin kamu ceritakan?

Begitu sudah memesan dua porsi makanan, aku dan Ghani memilih duduk di bangku yang berada di sudut ruangan dengan posisi hadap-hadapan.

Soal kita.

Ghani yang tadinya beralih melihat layar ponselnya kembali menatapku. Sepasang matanya bergerak-gerak bertanya.

Kita? Kenapa dengan kita?

Kamu masih belum bisa komitmen?

Lak-laki di hadapanku tertegun, lalu menyimpan ponsel di sisi kanannya. Kini fokus mendengarku.

Kamu nggak berpikir kita akan menjalani hubungan yang seperti ini terus kan? Hubungan kita nggak berkembang, Ghan.

Ghani meraih jemari kananku, memilinnya satu-satu. Kamu nggak mau nunggu, Nay?

Aku menatap laki-laki itu lekat-lekat. Kalau kamu ngasih aku batas waktu sampai kapan aku harus nunggu, aku mau nunggu.

Sorot mata Ghani menandakan kekalahan. Jariku yang berada dalam genggamannya terurai lepas. Kamu tahu jawabanku, Nay.

Aku menghela napas. Memperhatikan keringat kecil yang muncul di dahinya. Aku nggak maksa. Dan aku nggak mau ngasih kamu beban dengan permintaanku.

Kamu udah ada yang lamar? tanyanya pelan-pelan.

Karena merasa bersalah, aku memalingkan pandanganku dari wajah ke pakaian yang dikenakannya malam ini. Kaos polos berwarna putih. Arya.

Ghani terdiam cukup lama, hingga mangkuk mie ayam kami sudah datang. Setelah mengucapkan terima kasih ke pelayan, aku memperbaiki posisi mangkuk di depan laki-laki itu, mengambilkan sendok dan garpu.

Aku nggak bisa menang dari dia kan?

Aku menggeleng pelan. Bukan begitu. Kalaupun dia nggak minta aku, pasti aku akan tetap ngomongin hal ini ke kamu. Sisa nunggu waktu aja. Nggak mungkin aku akan seperti ini terus.

Benar. Lagian aku yang dulu pernah bilang, kalau aku masih belum bisa sementara kamu sudah ada yang lamar, maka aku akan lepasin kamu. Tapi tetap saja ternyata nggak semudah itu, Nay.

Rasanya tidak tega melihat Ghani seperti ini, karena aku menyayanginya, meski bentuk rasa sayangku tidak sebesar dan seistimewa ke Arya. Aku seperti perempuan jahat yang mempermainkan perasaannya.

Maafkan aku, Ghani.

Nggak. Bukan kamu yang salah. Salahku tidak pernah memberimu kepastian.

Dan aku nggak mau memaksa kamu. Buat apa kita menikah tapi kamu tidak nyaman dengan hubungan seperti itu?

Ghani adalah anak yang lahir dari keluarga yang tidak harmonis. Ayahnya pelaku tindakan kriminal, membunuh ibunya sewaktu dia masih kecil hingga Ghani harus dirawat oleh bibi dan pamannya. Peristiwa kelam yang dia lalui menyebabkan luka batin yang membuatnya tidak menyukai sebuah komitmen pernikahan. Itu sebabnya aku merasa tidak memiliki masa depan bersamanya.

Sedangkan aku tidak ingin memaksa dia untuk menikahiku, terlebih setelah aku melihat usaha dia konsultasi dengan psikolog untuk menyembuhkan traumanya selama dua tahun. Namun ternyata tidak semudah itu. Jika membicarakannya saja membuatnya keringatan seperti itu, lalu apa yang aku harapkan?

Part sebelum dan selanjutnya -> Nayanika

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru