Arya menarik napas sesaat. Rencana aku mau sewa jasa babysitter. Gimana menurutmu?
Kedua keningku nyaris menyatu. Angan-angan ganjenku tadi mendadak menyublim. Kok? Kan ada aku, Mas.
Dia melipat lengan kirinya, dijadikan topangan hingga posisi kepalanya kini lebih tinggi daripada punyaku. Aku nggak mau kamu kecapean. Bukan aku nggak percaya sama kamu, tapi di usia mereka yang lagi aktif-aktifnya, kamu akan kesulitan menanganinya jika sendirian, sementara jadwalku nggak menentu kapan bisa ada di rumah dan kapan nggak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi aku sendiri juga belum bisa dibilang dekat loh Mas sama mereka. Kalau mereka ada babysitter, takutnya adaptasi mereka ke aku juga makin lama.
Babysitter bukan untuk menggantikan peran kamu, Nay. Cuma membantu kamu. Terutama saat aku nggak ada di rumah. Kalau cuma satu, aku nggak ada masalah, tapi ini ada dua. Diusia yang sama. Diandra saja dulu kewalahan.
Apalagi aku yang bukan ibunya?
Tentu saja batinku menanyakan itu. Memang aku tidak secekatan Diandra, karena aku belum punya pengalaman mendidik anak. Tapi menyewa jasa babysitter di usia yang belum cukup dua hati aku menjadi ibu sambung mereka rasanya tidak adil. Seolah aku tidak dikasih kesempatan untuk membuktikan diriku bisa.
Nay. Jangan tersinggung. Aku benar-benar tidak ingin kamu kewalahan. Itu saja. Semua keputusan yang berkaitan dengan anak-anak tetap aku percayakan ke kamu.
Aku mendesah. Mungkin aku yang terlalu percaya diri bisa dengan mudah menangani mereka. Padahal barusan Ren menangis mencari ibunya namun aku sudah kelabakan akan menjawab apa. Aku tidak membayangkan suatu hari nanti jika dia menangis lagi dengan alasan yang sama dan tidak mau lagi mendengar jawabanku.
Ya sudah, kalau menurut Mas baiknya seperti itu.
Kamu nggak marah? tanyanya, yang kujawab dengan gelengan. Kamu juga akhirnya masih tetap bisa menjalankan hobimu. Aku nggak akan larang. Asal fokusmu tetap ke anak-anak.
Benar. Mungkin Arya hanya tidak mau aku merasakan duniaku berubah dengan drastis. Atau dia ingin anak-anaknya menjadi dekat denganku secara pelan-pelan. Dia ingin membuat kami saling mengenal tanpa terpaksa.
Mas, apa kamu benar-benar yakin aku bisa menjadi ibu untuk Ren dan Hime? tanyaku berbisik.
Arya menatapku lekat, matanya yang hangat menatapku teduh, seolah tahu kegamangan di hatiku.
Aku dan Diandra sudah sepakat, Nay. Kamu pasti bisa.
Ada satu hal yang selalu mengganjal di pikiranku. Arya selalu mengikutkan Diandra atas pilihannya dalam menjadikan aku sebagai istrinya. Apakah dia tidak memiliki keputusan sendiri?
Mas, kamu memutuskan aku menjadi istrimu apakah karena memang kamu yakin aku bisa ataukah karena cuma ingin menuruti permintaan Diandra?
Kali ini Arya cukup kaget dengan pertanyaanku, namun beberapa saat dia bisa menguasai pikirannya. Raut wajahnya kembali terlihat tenang.
Rasanya nggak ada bedanya, Nay. Mau Diandra atau pun aku yang ngasih kamu kepercayaan.
Jelas ada. Karena sekarang aku hidup dengan kamu, bukan dengan Diandra.
Arya menghela napas, seperti tidak menyukai topik pembicaraan yang aku angkat. Mungkin menurutnya aku sudah mulai tampak menyebalkan, selalu butuh validasi atas kemampuan diri. Padahal belum juga dua hari aku menjadi ibu, apanya yang mau dinilai?
Ya, aku paham. Dengan rasa percaya diri minim yang aku punya, akan mudah membuat masalah ke depannya. Terutama dalam kehidupan rumah tanggaku, namun apa salah jika ingin mendapatkan dukungan? Setidaknya membuktikan kalau aku memang dibutuhkan olehnya. Bukan menurut orang lain, tapi menurut dirinya sendiri.
Jangan tanyakan kenapa. Karena sebuah hubungan dilandasi oleh kepercayaan kan?
Aku percaya kamu bisa menjaga mereka.
Kuperbaiki posisi kepalaku, lalu kembali fokus menatap Arya. Entah dari mana datangnya kekuatanku untuk menatap lebih lama sepasang mat aitu.
Tadi Ren menangis. Ingat ibunya, ucapku pada akhirnya. Rasanya aku harus mendiskusikan hal ini.
Arya terdiam sejenak, lalu memilih berbaring terlentang. Kulihat percampuran emosi di wajahnya. Ada rasa bersalah, tidak berdaya sekaligus lelah.
Ren memang lebih lembut hatinya. Jutek dan tidak acuh dari luar, tapi lebih sensitif daripada Hime.
Dan itu yang belum aku temukan caranya. Aku belum tahu bagaimana cara mengambil hati Ren.
Sabar, Nay. Harus pelan-pelan. Jangankan kamu yang baru dia kenali akhir-akhir ini, aku saja sebagai ayahnya baru bisa dia percayai saat ibunya sakit. Itu karena dia menghabiskan banyak waktunya denganku.
Aku hanya terdiam. Sepertinya memang kuncinya adalah waktu dan kesabaran.
Dekati saja pelan-pelan. Jadi lah diri kamu apa adanya. Lama-lama pasti juga akan nyaman sama kamu.
Yakin banget. Memangnya kamu sudah berhasil nyaman sama aku, Mas?
Tentu saja hal itu tidak kutanyakan. Aku masih memiliki malu. Ini saja belum ada tanda-tanda Arya akan menyentuhku. Entah karena belum nyaman denganku, ataukah memang tidak tertarik padaku.
Pasti. Pasti aku sabar, Mas. Selama kamu masih percaya sama aku, aku akan sabar.
Arya memalingkan wajah. Mengusap rambutku dengan lembut, yang tentu saja mengirimkan sinyal gelenyar ke seluruh tubuhku. Membuat tubuhku yang tadinya sudah tenang, kembali merasa panas dingin di waktu bersamaan.
Aku percaya sama kamu. Selalu, Nay. Sejak dulu.
Awalnya cukup bingung dengan maksud ˜sejak dulu™ itu, tapi mengingat Arya memang mengenali sisi insecure-ku sejak SMA, aku mulai paham arah yang dimaksud. Sedikit terharu, karena itu berarti dia masih optimis aku bisa. Sisa diriku sendiri, bisa yakin atau tidak.
Makasih, Mas.
Sama-sama, jawabnya lembut.
Karena sepertinya tidak ada lagi yang ingin dia bahas, dan canggung juga diam-diaman lebih lama, aku memilih menutup mata. Di tengah-tengah prosesku menuju tertidur, aku merasakan kasur bergerak, tanda Arya mengubah posisi tidurnya.
Entah aku masih sadar atau sudah menuju alam mimpi, aku merasakan sapuan ringan di keningku. Selanjutnya aku sudah kehilangan kesadaran.
Part sebelum dan selanjutnya ->Nayanika
Halaman : 1 2






