Mahfud MD menegaskan demonstrasi besar yang pecah di berbagai daerah pada akhir Agustus 2025 bukanlah peristiwa biasa, melainkan gerakan organik yang lahir dari akumulasi kekecewaan publik terhadap pemerintah.
Pernyataan Mahfud MD ini mencuat ketika gelombang aksi massa berlangsung serentak dan membuat publik bertanya-tanya tentang latar belakang gerakan yang begitu cepat membesar.
Menurut Mahfud MD, munculnya aksi besar tersebut menunjukkan adanya masalah serius dalam komunikasi dan respons pemerintah terhadap keresahan rakyat yang sudah lama terabaikan.
Ia menambahkan bahwa tumpukan masalah yang tidak pernah ditanggapi serius justru memperbesar ketidakpercayaan publik, hingga akhirnya meledak dalam bentuk demonstrasi besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pernyataannya, Mahfud MD juga mengingatkan bahwa meski bersifat organik, ada pihak-pihak yang mencoba menunggangi aksi tersebut dengan tujuan politik tertentu.
Mahfud MD Sebut Demonstrasi Organik, Lahir dari Akumulasi Kekecewaan Publik

Mahfud MD menjelaskan bahwa aksi demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus 2025 memiliki karakteristik berbeda dengan gerakan massa yang biasa direncanakan.
Menurutnya, gerakan ini murni berasal dari bawah, dipicu oleh keresahan publik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa istilah organik berarti gerakan ini tidak dirancang secara sistematis oleh kelompok elit politik tertentu, melainkan tumbuh sendiri karena ada persoalan yang nyata di tengah masyarakat.
Dalam pandangan Mahfud MD, intelijen tidak bisa membaca atau mendeteksi aksi ini sebelumnya, karena memang tidak ada perencanaan formal dari aktor tertentu.
Hal itu membuktikan bahwa pemerintah sudah terlalu lama menyepelekan suara rakyat, sehingga amarah sosial tidak bisa lagi dibendung dengan pendekatan biasa.
Mahfud MD Tekankan Perbedaan Antara Penunggang dan Dalang
Meski mengakui adanya kemungkinan pihak-pihak yang menunggangi demonstrasi, Mahfud MD dengan tegas membedakan antara penunggang dan dalang.
Menurutnya, penunggang hanya memanfaatkan momentum untuk kepentingan tertentu, sementara dalang adalah pihak yang merencanakan dan menggerakkan secara penuh.
Mahfud MD menolak menyebut siapa pihak yang menunggangi gerakan ini, namun ia menegaskan dirinya tidak ingin mencari-cari siapa yang dimaksud.
Penjelasan ini memberi gambaran bahwa akar masalah bukan pada siapa yang menunggangi, melainkan pada kekecewaan publik yang selama ini tidak pernah dijawab pemerintah.
Dengan demikian, ia ingin menekankan bahwa fokus penyelesaian masalah ada pada kebijakan pemerintah, bukan pada mencari kambing hitam.
Mahfud MD Ingatkan Pemerintah Soal Respons terhadap Keresahan Publik
Dalam kesempatan yang sama, Mahfud MD menyampaikan kritik tajam terhadap cara pemerintah merespons aspirasi rakyat.
Ia menilai sering kali keluhan masyarakat hanya dianggap angin lalu, bahkan terkadang direspons dengan candaan atau sindiran yang justru melukai perasaan rakyat.
Sikap semacam itu, menurutnya, memperkuat jarak antara penguasa dan masyarakat, serta mempercepat munculnya ketidakpercayaan yang sulit diperbaiki.
Ketika keresahan terus diabaikan, rakyat tidak lagi memilih jalur komunikasi biasa, melainkan turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Ia menegaskan pemerintah harus belajar dari peristiwa ini, agar tidak terus mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
Mahfud MD Sebut Demonstrasi sebagai Alarm Demokrasi
Mahfud MD menilai demonstrasi besar tersebut harus dipandang sebagai alarm penting bagi kesehatan demokrasi di Indonesia.
Gerakan organik yang lahir dari bawah menandakan ada ruang demokrasi yang masih hidup, meski dikecewakan oleh kebijakan pemerintah.
Menurutnya, jika pemerintah mengabaikan sinyal ini, potensi instabilitas politik akan semakin membesar di masa mendatang.
Ia mendorong agar pemerintah membuka ruang dialog yang lebih tulus dengan masyarakat, bukan sekadar formalitas belaka.
Dengan begitu, keresahan rakyat bisa disalurkan ke jalur yang sehat tanpa harus selalu meledak dalam bentuk demonstrasi besar.
Sebagai penutup, pernyataan Mahfud MD tentu memiliki konsekuensi politik, baik bagi pemerintah maupun bagi partai-partai politik yang kini sibuk membaca arah situasi.
Bagi pemerintah, ucapan mantan Menkopolhukam itu menjadi cermin keras bahwa krisis kepercayaan sudah di ambang batas, dan tidak bisa lagi diatasi dengan retorika semata.
Namun, Mahfud tetap menjaga posisinya dengan tidak menyebut siapa penunggang aksi, menunjukkan sikap berhati-hati agar pernyataannya tidak digunakan sebagai amunisi politik tertentu.
Dengan demikian, pernyataan Mahfud sekaligus memperlihatkan dirinya tetap konsisten sebagai tokoh yang menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan politik jangka pendek.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






