Kisah Muhammad Asri Melestarikan Anggrek Hutan di Bantaeng

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 04:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Muhammad Asri Melestarikan Anggrek Hutan di Bantaeng

Redaksiku.com – Di balik rimbunnya pepohonan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Muhammad Asri sedang memastikan kelangsungan hidup anggrek-anggrek hutan yang ia rawat. Sejak tahun 1997, Asri bersama Kelompok Tani Mattiro Baji telah mendedikasikan waktu mereka untuk mengembangbiakkan anggrek secara mandiri, sebuah upaya yang kini menjadi benteng pertahanan bagi flora endemik di wilayah tersebut.

Kelompok yang kini beranggotakan 30 orang ini tidak lagi sekadar mengambil tanaman dari alam liar. Selama 27 tahun, mereka telah menyempurnakan teknik budidaya vegetatif melalui metode stek. Dengan memisahkan rumpun atau cabang dari batang maupun pseudobulb, satu tanaman induk yang sehat bahkan mampu menghasilkan hingga 50 anakan baru, memberikan harapan bagi regenerasi populasi anggrek yang sempat terancam.

Teknik Konservasi Berbasis Masyarakat

Proses perbanyakan yang dilakukan kelompok tani ini cukup unik karena memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar mereka. Bibit-bibit muda dipindahkan ke wadah berbahan sabut kelapa sebelum akhirnya ditempelkan pada pohon-pohon rindang seperti rambutan, langsat, dan cengkeh. Kondisi lingkungan yang teduh menjadi kunci keberhasilan, di mana tanaman ini tumbuh subur saat musim hujan dan mulai menunjukkan bunga indahnya menjelang datangnya musim kemarau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pusat dari kegiatan ini berada di sebuah greenhouse berukuran 10 x 12 meter yang berfungsi sebagai tempat pembenihan sebelum tanaman siap dikembalikan ke alam. Fasilitas ini menampung sekitar 78 jenis anggrek yang terus dipantau kesehatannya oleh para anggota kelompok. Dedikasi ini bukan tanpa alasan, mengingat kesadaran mereka akan pentingnya menjaga ekosistem hutan yang sempat mengalami penurunan drastis akibat pengambilan anggrek secara berlebihan di masa lalu.

Kelompok Tani Mattiro Baji telah berhasil melakukan reboisasi dengan menanam kembali sekitar 1.500 bibit anggrek ke dalam habitat aslinya di Hutan Campaga.

Transformasi Menuju Pelestarian Alam

Perjalanan Kelompok Tani Mattiro Baji mencerminkan kesadaran kolektif yang mendalam. Pada awal berdirinya, anggota kelompok sempat menjadikan anggrek hutan sebagai komoditas ekonomi yang memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah per bulan. Namun, ketika mereka menyadari bahwa populasi anggrek bulan dan jenis lainnya di Hutan Campaga semakin menipis, keputusan tegas pun diambil.

“Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan,” tegas Asri. Perubahan paradigma ini membuat mereka kini berfokus pada upaya pemulihan ekosistem. Selain ditanam kembali di Hutan Campaga, anggrek hasil budidaya mereka juga ditempelkan pada pohon-pohon di sepanjang jalan desa serta kawasan wisata permandian Erbol, menjadikan keindahan anggrek dapat dinikmati oleh masyarakat luas tanpa harus merusak habitat aslinya.

  • Menghentikan pengambilan anggrek liar dari hutan untuk membiarkan populasi alami pulih.
  • Melakukan penanaman kembali (reintroduksi) di kawasan hutan dan area publik desa.
  • Pemanfaatan material lokal seperti sabut kelapa sebagai media tanam yang ramah lingkungan.

Pentingnya Ekosistem Hutan Campaga

Hutan Campaga yang membentang seluas 23 hektar bukan sekadar rumah bagi berbagai jenis anggrek. Bagi warga setempat, kawasan ini memiliki nilai sakral yang tak ternilai. Di dalamnya terdapat pohon beringin tua Erasa Lego-lego serta mata air Tombolo yang menjadi sumber kehidupan bagi ratusan hektar sawah dan kebun di sekitarnya. Upaya pelestarian anggrek yang dilakukan Asri dan kelompoknya secara tidak langsung turut melindungi keberadaan mata air dan menjaga keseimbangan mikroklimat hutan.

Penting untuk diingat bahwa pengambilan anggrek dari hutan tanpa izin dan tanpa teknik budidaya yang tepat dapat mempercepat kepunahan spesies tertentu di habitat aslinya.

“Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan.”

— Muhammad Asri

Jika Anda ingin memulai budidaya anggrek, pastikan untuk menggunakan metode vegetatif dari tanaman budidaya dan hindari mengambil bibit langsung dari hutan lindung untuk menjaga ekosistem.

Pertanyaan Umum

Mengapa kelompok tani memutuskan untuk berhenti mengambil anggrek dari hutan?

Keputusan tersebut diambil setelah mereka menyadari adanya penurunan populasi anggrek secara signifikan di Hutan Campaga, khususnya jenis anggrek bulan, akibat eksploitasi berlebihan di masa lalu.

Bagaimana cara masyarakat setempat melestarikan anggrek?

Mereka menggunakan metode perbanyakan vegetatif melalui stek untuk menghasilkan ribuan bibit baru, yang kemudian ditanam kembali di kawasan hutan serta area publik seperti jalan desa dan kawasan wisata.

Apa fungsi utama Hutan Campaga bagi warga sekitar?

Selain sebagai rumah bagi flora endemik, hutan ini berfungsi sebagai kawasan sakral yang menjaga ketersediaan air dari mata air Tombolo untuk kebutuhan irigasi ratusan hektar lahan pertanian di sekitarnya.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

3 Keluhan Shin Tae-yong Jelang Persija vs Persib di Super League

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 04:35 WIB

Kisah Muhammad Asri Melestarikan Anggrek Hutan di Bantaeng

Rabu, 9 September 2026 - 03:31 WIB

3 Keluhan Shin Tae-yong Jelang Persija vs Persib di Super League

Berita Terbaru