Redaksiku.com – Industri perfilman di Hengdian World Studios, China, kini tengah mengalami pergeseran drastis seiring masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten drama. Pada Jumat, 4 September 2026, laporan lapangan menunjukkan bahwa studio-studio besar mulai menggantikan peran aktor figuran dan kru teknis dengan karakter serta latar belakang yang dihasilkan oleh algoritma AI untuk menekan biaya operasional.
Perubahan ini menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi ribuan pekerja film yang selama ini menggantungkan hidup di pusat industri hiburan terbesar di Asia tersebut. Sebagai langkah adaptasi terhadap penurunan permintaan peran manusia, pengelola studio kini mulai menawarkan paket pengalaman bagi wisatawan untuk mencoba menjadi aktor dalam produksi berbasis AI, sebuah strategi yang dipandang sebagai upaya diversifikasi pendapatan di tengah ancaman pengangguran massal.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Produksi dan Dampak Tenaga Kerja
Penggunaan AI dalam industri film China tidak lagi terbatas pada efek visual sederhana, melainkan telah merambah ke pembuatan naskah, desain set, hingga penggerak karakter digital. Fenomena ini sejalan dengan ambisi pemerintah China untuk memimpin sektor teknologi global, termasuk dalam pemanfaatan model bahasa besar dan teknologi generatif untuk efisiensi industri.
Bagi para pekerja di Hengdian, teknologi ini bukan sekadar alat bantu, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan profesi mereka. Banyak aktor figuran yang melaporkan penurunan drastis dalam jadwal syuting harian karena sutradara lebih memilih menggunakan aset digital yang dapat bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Sekitar 80 persen dari kebutuhan karakter latar dalam produksi drama baru di Hengdian kini telah beralih menggunakan teknologi AI untuk memangkas anggaran produksi hingga lebih dari setengahnya.
Kondisi ini memicu debat mengenai masa depan kreativitas manusia di industri hiburan. Meskipun efisiensi meningkat, para pengamat industri memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat menurunkan kualitas estetika dan kedalaman emosional yang selama ini menjadi keunggulan film-film drama tradisional China.

Strategi Adaptasi Wisata Kreatif
Untuk menutupi hilangnya pendapatan dari produksi film konvensional, manajemen studio di Hengdian mengubah strategi dengan mengonversi set syuting menjadi destinasi wisata interaktif. Wisatawan kini dapat membayar biaya tertentu untuk dipindai oleh sistem AI dan dimasukkan ke dalam adegan film secara instan.
Program ini memungkinkan turis untuk melihat diri mereka berakting di layar lebar bersama bintang-bintang papan atas melalui bantuan teknologi deepfake yang canggih. Langkah ini dinilai sebagai upaya pragmatis untuk menjaga arus kas studio di tengah transisi teknologi yang sangat cepat.
Pengalihan fungsi studio menjadi wahana wisata berbasis AI menjadi cara bagi pengelola untuk mempertahankan eksistensi Hengdian sebagai pusat hiburan di tengah disrupsi teknologi yang masif.
Meskipun menarik minat wisatawan, banyak pekerja film senior yang mengkritik langkah ini karena dianggap mendegradasi nilai seni peran. Mereka berpendapat bahwa pengalaman wisata tersebut tidak dapat menggantikan peran profesional yang selama ini membangun karakter dan narasi film secara organik.
Konteks Teknologi dan Pasar AI di China
Perkembangan di Hengdian mencerminkan tren yang lebih luas di China, di mana integrasi AI telah menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari prediksi cuaca ekstrem hingga pengembangan model AI open-source. Pemerintah China terus mendorong otonomi teknologi tinggi, termasuk dalam upaya memproduksi chip AI mandiri agar tidak bergantung pada pasokan luar negeri.
Namun, integrasi AI yang terlalu agresif juga membawa risiko keamanan dan etika, seperti yang terjadi pada kebocoran model Kimi K3 baru-baru ini. Keamanan sistem dan kendali atas model AI menjadi tantangan besar bagi otoritas China saat mereka mencoba menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas sosial.
Bagi para pekerja kreatif yang terdampak, mempelajari teknis pengoperasian alat AI generatif kini menjadi syarat mutlak untuk tetap relevan di industri hiburan modern.
Ke depan, persaingan antara produksi film berbasis AI dan metode tradisional diprediksi akan semakin tajam. Studio yang mampu mengombinasikan sentuhan manusia dengan kecepatan AI kemungkinan besar akan mendominasi pasar, sementara mereka yang gagal beradaptasi berisiko tersingkir dari peta industri film global.
Pertanyaan Umum
Apakah penggunaan AI di Hengdian telah menggantikan semua aktor manusia?
Belum sepenuhnya, namun AI telah mengambil alih sebagian besar peran aktor figuran dan tugas-tugas teknis berulang. Aktor utama manusia masih tetap dibutuhkan untuk memberikan kedalaman emosi yang hingga saat ini belum bisa direplikasi sepenuhnya oleh model AI.
Mengapa studio film di China beralih ke model AI secara masif?
Faktor utamanya adalah efisiensi biaya dan kecepatan produksi. Dengan menggunakan AI, studio dapat memangkas anggaran secara signifikan dan memproduksi konten dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan metode syuting tradisional yang melibatkan ribuan kru dan aktor.
Bagaimana nasib pekerja film yang kehilangan pekerjaan akibat AI?
Sebagian besar pekerja mulai beralih ke sektor baru, seperti operator teknologi AI untuk studio atau terlibat dalam program wisata kreatif yang ditawarkan oleh pengelola studio. Namun, transisi ini masih menimbulkan tantangan ekonomi yang cukup berat bagi tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian teknis baru.
Ringkasan
Industri film di Hengdian, China, kini menggunakan AI untuk efisiensi produksi. Sebagai adaptasi, studio kini menawarkan pengalaman bagi turis untuk jadi aktor.





