Maksudku, saat aku lupa, kamu kan bisa ngingetin baik-baik tanpa harus marah-marah atau nuduh aku nggak sayang dan nggak cinta. Nggak perlu nuduh aku nggak menghargai kamu. Gimana?
Maaf, kalau ternyata kamu ngerasa tertekan selama ini karena sikapku. Sungguh, aku nggak punya maksud marah-marah ke kamu. Aku hanya ngerasa nggak dihargai. Mungkin buat kamu tanggal itu hanya sebatas angka, number, nggak punya arti apa-apa. Tapi buat aku, tanggal itu momentum perubahan seluruh hidupku. Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas yang memburu.
Aku yang tadinya sendiri, sejak tanggal ijab kabul berubah menjadi seorang istri. Tanggung jawabku juga berubah. Semuanya baru dan membutuhkan penyesuaian. Aku harus belajar untuk hidup bersama lelaki yang belum sepenuhnya aku kenal. Aku harus mengubah kebiasaanku supaya bisa menyesuaikan dengan gaya hidupmu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mas Bayu tak bersuara.
Itu makanya ¦, Aku memiringkan tubuhku menghadap Mas Bayu, tanggal pernikahan itu sangat berarti untukku. Bukan tanggalnya, tapi makna dibaliknya. Saat di mana aku menyerahkan cinta untuk lelaki asing yang menjadi suamiku. Titik balik hidupku. Kamu bisa ngerti?
Mas Bayu menoleh dan menggenggam tanganku dengan tangan kirinya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Aku kembali menghadap ke depan. Hening menyelimuti sepanjang sisa perjalanan, hingga akhirnya kami tiba di rumah.
Mas? Kamu marah? tanyaku saat mobil berhenti di depan rumah.
Perlahan suamiku itu menggeleng.
Aku nggak marah, malah senang kamu mau terbuka. Selama ini ternyata kamu begitu tersiksa ya, menghadapi sifat egoisku. Perlahan tangan Mas Bayu menyentuh lembut pipiku.
Rasanya aku ingin mendekap tubuhnya dan meleburkan semua perasaan yang tak menentu selama beberapa bulan terakhir ini. Namun, kesadaranku melarang. Aku tidak mau terhanyut dalam romantis sesaat. Mas Bayu menjadi perhatian karena ancaman perceraian yang aku ajukan. Aku tidak mau tertipu.
Makasih, Mas, jawabku singkat lalu membuka pintu mobil dan bergegas keluar.
Mas Bayu terpana. Ia menutup mobil dan melangkah cepat menyusulku.
Mir! Tunggu!
Aku tak menjawab. Setelah membuka pintu ruang tamu, aku langsung menuju kamar untuk mandi dan beristirahat. Kudengar langkah Mas Bayu menyusul ke kamar.
Amira! Kamu kenapa, kok kabur kayak gitu?
Nggak apa-apa, Mas. Makasih udah mau dengerin aku. Aku menyahut dari kamar mandi.
Sejak malam itu, sikap Mas Bayu semakin berubah. Ia menjadi lebih perhatian dan lebih sabar. Ramadan begitu cepat berlalu dan Idulfitri hadir melengkapi kebahagiaan kami. Selama Idulfitri aku dan Mas Bayu jarang bicara karena sibuk menyiapkan bermacam hidangan untuk keluarga besar.
Untuk sementara aku bisa melupakan masalah rumah tangga kami. Kami hanyut dalam suasana haru: beribadah di 10 malam terakhir, berusaha menjadi manusia yang lebih baik, berkumpul bersama sanak saudara, dan menikmati berbagai hidangan yang lezat.
Tak terasa juga, tinggal beberapa minggu lagi Mas Bayu harus kembali ke Riyadh. Artinya, aku harus memutuskan, apakah tetap tinggal di Indonesia dan membiarkan masalah kami tanpa penyelesaian atau ikut Mas Bayu kembali ke Riyadh dan berusaha menyelesaikannya di sana.
Mir, cutiku tinggal dua minggu lagi. Kamu gimana? Mau pulang bareng aku atau tetap di sini? tanya Mas Bayu.
Kami sedang menikmati suasana santai di taman belakang rumah. Di meja terhidang dua piring somay dan dua gelas air putih. Senja sesaat lagi menyapa. Semburat cahaya mentari mulai meredup seolah menyongsong hadirnya malam.
Aku membisu. Ada perang bergejolak dalam hati. Bermacam rasa berkecamuk tanpa bisa kuhindari. Aku ingin ikut, tapi ragu. Ragu apakah nanti semuanya akan kembali seperti dulu, saat kami belum bicara terbuka. Akan tetapi, kalau aku tetap di sini, kapan semuanya akan selesai?
Aku nggak tahu, Mas. Menurut kamu gimana? Aku sengaja memancingnya.
-bersambung-
Lanjut bab berikutnya
https://www.redaksiku.com/bertahandiatasluka26-yasmira/
Halaman : 1 2






