Pergilah Mpek, hampir tengah malam. Tidak jauh lagi, ke arah hulu di pinggir lembah. Serahkan cecunguk ini kepada kami!
Jangan mengecilkan lawan! Rendah hatilah. Hadapi mereka bersama-sama. Mereka kuat sekali! Kami sampai kewalahan.
Di sisi lain dari hutan siluman, Aki Jungsemi sedang melakukan ritual pamungkas untuk menuntaskan keinginan Erlika. Pengamatan batinnya merasakan adanya penyusup yang masuk ke daerah kekuasaannya. Perhatiannya mulai terpecah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Entah bagaimana, Erlika mulai merasakan tuntutan nafsu ingin terpuaskan. Dia bangkit melonggarkan ikatan sarung hingga melorot, lalu mendesah manja. Punggung putihnya hanya tertutup rambut hitam bergelombang. Sarung bagian depan, nyangkut di gunung kembar ranum yang bertengger di dadanya. Elahan serak Erlika menarik perhatian si dukun yang sudah terpecah.
Kapan berhasilnya Ki. Hihihi janji palsu hanya untuk menikmati tubuhku! Berapa kau bayar orang-orang untuk menjebakku kemari? Sekarang, apa kau masih mampu memuaskanku? Hahaha Aki tua ¦ Aki tua gila perempuan!
Erlika menjadi terganggu mentalnya oleh deraan siksa yang dialami. Dorongan nafsunya terus terpicu akibat dicekoki kembang tujuh rupa dan totokan-totokan saat dia dimandikan. Belum lagi niatnya datang untuk membalas dendam yang tidak kunjung berhasil. Gerakan erotis dan desahannya memicu nafsu setan si dukun cabul.
Di arena pertempuran Mpek An Cong dan Pakde, keduanya menyatukan kekuatan dan menyerang bersama-sama, menimbulkan ledakan keras. Ketiga musuh mereka bukan Iblis sembarangan, mereka mampu mengelak meski sebagian tubuh mereka terserempet kilatan ilmu tingkat tinggi yang membuat ketiganya terpental.
Ledakan ini mengagetkan kelompok klenteng, mereka segera menyadari lawan kedua teman mereka berilmu tinggi. Dengan segera mereka berlarian ke arah suara. Tampak Pakde dan Mpek An Cong dikepung tiga bentuk makhluk besar sedang melenting-lenting menghindar dan mengirim gumpalan sinar dari ilmu andalan mereka.
Kelompok klenteng siap di delapan penjuru, segera memberi kode dengan bunyi kicauan burung Emprit Gantil bersahutan. Setelah dijawab dengan kicau sama dalam nada dua dua, seketika delapan orang dengan sigap merangsek masuk arena. Dengan jurus tingkat tinggi dari masing-masing perguruan, mereka menyerang berbarengan ketiga makhluk gaib itu. Pakde dan Mpek An Cong menutup serangan dengan melepas pukulan sinar dari atas saat melenting untuk menghindar.
Pertempuran berlangsung seimbang antara ketiga makhluk gaib dan kelompok klenteng. Ketiga makhluk itu berukuran besar, mempunyai ilmu gaib tingkat tinggi. Kekuatan mereka setara sembilan orang. Sementara delapan orang kelompok klenteng, kekuatan ilmunya dilandasi kesucian hati dan pertolongan Tuhan. Kesucian hati dan pertolongan Sang Penggengam Nyawa memberi angin segar kepada kelompok klenteng untuk memenangkan pertempuran.
Kedelapan kelompok klenteng menyatukan puncak ilmu dilambari kekuatan dewa-dewa dan kepasrahan kepada Tuhan, dari kedua telapak tangan mereka keluar sinar kuning membentuk sulur-sulur. Sinar-sinar itu terus menyatu membentuk gelang yang memerangkap ketiga lawan mereka. Lawan bergerak dengan waspada.
Gelang sinar kuning menebal dan berotasi dengan cepat, membatasi gerakan lawan. Lingkaran sinar kuning terus mengecil. Tepat ketika maung mengangkat kaki depan hendak melompat, raksasa juga merubah bentuk menjadi gumpalan yang siap melayang ke atas, dan bayangan ular meluncur ke atas, terdengar teriakan berbarengan.
Hua ¦, teriak kelompok klenteng, gelang menebal mengikat erat ketiga lawannya. Kedelapan jawara menekan dengan ilmu pamungkas. Belitan gelang kuning mengikat lawan mereka, berkobar menyala-nyala. Lengkingan ketiga makhluk gaib itu merobek keheningan malam. Ketiganya hancur dalam satu ledakan menyisakan bunga api kecil-kecil yang padam oleh tiupan angin malam.
Suasana hening, semilir angin terasa menyejukkan, mengalirkan energi baru keseluruh tubuh para jawara yang kelelahan. Tiga diantaranya mengalami sesak napas. Teman-temannya membantu menyalurkan hawa murni untuk memperbaiki sistem aliran darah yang mengalami kekacauan.
Kita harus segera menyusul Mpek dan Pakde. Kita menyusur sungai di dasar lembah untuk menyingkat waktu, kata Gendon sambil mengatur kawan-kawannya.
Setelah istirahat sebentar, kekuatan sudah pulih. Kedelapan orang itu bergegas berlompatan menggunakan ilmu meringankan tubuh, menyusul Mpek An Cong dan Pakde.
Saat kedelapan kelompok klenteng masuk menyerang ketiga siluman sambil melepaskan serangan, Mpek An Cong dan Pakde melenting tinggi lalu lenyap di kerimbunan hutan yang berkabut. Keduanya segera menuju ke tempat tinggal si dukun sakti. Mereka berlarian di tengah kabut mengejar waktu. Mereka tidak mengetahui keberadaannya, di dunia nyata atau dunia gaib.
Mpek, apa kita nyasar? Sepertinya berbeda sekali dengan gambaran yang diberikan Gendon.
Mpek An Cong mengamati keadaan sekeliling. Dia lalu manggut-manggut kecil.
Keweningan pikir dan hati sepertinya sangat diperlukan, katanya.
Mereka menuju ke sebuah pohon nyamplung tua yang masih kokoh. Keduanya duduk bersila, lalu mengheningkan cipta dalam doa dan puji kepada sang pencipta. Suasana hening, tintrim dan sunyi. Embusan angin malam semilir dingin, memberikan energi baru di sekujur tubuh keduanya. Setelah menajamkan pengamatan batin, keduanya merasakan kembali berada di dalam hutan dunia nyata.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






