Review Fall 2: Deadpoint, Sekuel yang Kurang Menegangkan

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 08:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Review Fall — Dua wanita berdiri di puncak menara radio tinggi dalam film Fall 2: Deadpoint

Dua wanita terjebak di puncak menara radio dalam film Fall 2: Deadpoint.

Redaksiku.com – Bagi siapa pun yang memiliki ketakutan luar biasa terhadap ketinggian, film Fall karya Scott Mann mungkin menjadi tontonan yang paling dihindari. Cerita tentang dua wanita yang terjebak di puncak menara radio setinggi 2.000 kaki bukanlah jenis film yang ingin disaksikan oleh orang dengan fobia ketinggian. Namun, popularitas film tersebut di layanan streaming dan basis penggemar yang antusias akhirnya membuat saya penasaran untuk menjajal sekuelnya, Fall 2: Deadpoint. Setelah mendengar cerita tentang penonton yang pingsan saat menyaksikan film pertama, saya tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk bisa bertahan tanpa rasa cemas. Sekitar 98 menit kemudian, saya keluar dari bioskop dengan lutut yang gemetar, namun dengan perasaan bahwa film ini mungkin tidak setinggi harapan yang dibangun oleh pendahulunya.

Ketinggian tetap menjadi elemen utama dalam sekuel ini, dengan sutradara Spierig bersaudara membawa penonton langsung ke atas sebuah jalur papan yang membentang di sekitar pegunungan Thailand. Jax Hunter, yang diperankan oleh Harriet Slater, bersama sahabat mendiang adiknya, Luce yang diperankan oleh Arsema Thomas, memutuskan untuk memenuhi keinginan terakhir Shiloh dengan melakukan pendakian yang menantang dan agak ilegal. Jax yang sangat ragu sejak awal memiliki firasat buruk bahwa perjalanan ini mungkin akan menjadi kenangan yang tak terlupakan, meski dalam konteks yang jauh dari kata menyenangkan.

Firasat itu terbukti benar ketika Jon, yang diperankan oleh Tom Brittney, memandu mereka dalam pendakian tersebut. Sebuah tanah longsor menghancurkan sebagian besar jalur papan, membuat kedua wanita itu terjebak tanpa pemandu dan hanya dengan persediaan yang sangat minim. Sepanjang sisa durasi film, Anda akan merasa seolah-olah sedang memanjat gunung tersebut bersama mereka, menavigasi celah sempit, memberanikan diri melewati papan kayu yang rapuh, dan terpaksa melakukan hal yang mustahil untuk menemukan jalan turun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Film ini menempatkan karakter utamanya dalam situasi hidup dan mati selama durasi kurang lebih 98 menit yang penuh dengan ketegangan fisik serta emosional.

Dilema Logika dalam Narasi Survival

Meskipun genre film petualangan yang memacu adrenalin seperti ini memiliki potensi besar, Fall 2: Deadpoint sayangnya tidak sepenuhnya berhasil mengeksekusi premisnya. Masalah utama muncul dari logika karakter yang sulit diterima: mengapa seseorang ingin memanjat gunung tersebut setelah trauma masa lalu yang begitu mendalam? Setelah menyaksikan apa yang dialami Jax sebelumnya, penonton wajar jika berekspektasi bahwa ia akan lebih memilih untuk menjaga kakinya tetap berpijak di tanah daripada mengambil risiko petualangan ketinggian yang berbahaya. Terlebih lagi, ketika Jax dan Luce menyadari bahwa saat itu bukanlah musim yang tepat untuk melakukan pendakian, keputusan mereka untuk tetap lanjut terasa sangat dipaksakan.

Angin kencang, hujan deras, dan kegelapan membuat perjalanan mereka semakin berbahaya, namun mereka seolah mengabaikan semua peringatan alam tersebut. Hanya dibutuhkan semangat Luce untuk meyakinkan Jax agar melakukan pendakian demi mengenang mendiang adiknya. Meskipun lokasi syuting di Thailand memberikan visual yang memanjakan mata, keputusan-keputusan karakter yang tidak masuk akal membuat konsekuensinya menjadi terlalu mudah diprediksi.

Kualitas akting dari para pemeran utama tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk meyakinkan penonton di tengah skenario yang penuh dengan klise.

Keseimbangan Antara Ketakutan dan Visual

Tom Brittney mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk berekspresi karena karakternya yang digambarkan secara tipis, namun ia berhasil memberikan keseimbangan antara pesona, kecerdasan, dan sisi gelap yang tersembunyi. Patut diapresiasi bahwa aktor tersebut berani menghadapi ketakutan aslinya terhadap ketinggian demi memerankan karakter ini. Sementara itu, dialog yang diucapkan oleh Harriet Slater dan Arsema Thomas memang terasa agak repetitif, namun keduanya tetap mampu menyampaikan kepanikan fisik yang intens saat dibutuhkan.

Sayangnya, rasa takut tersebut tidak selalu tersampaikan dengan maksimal. Terkadang penonton hampir melupakan betapa tingginya posisi para karakter karena kamera lebih banyak menyorot dari jarak dekat. Meskipun pendekatan ini menciptakan rasa klaustrofobik, momen-momen yang benar-benar memicu vertigo baru terasa ketika kamera memperlihatkan ruang luas di bawah dan di sekitar mereka. Sinematografi karya Andrew Strahorn sebenarnya mampu menangkap kengerian tersebut, namun momen “jangan melihat ke bawah” yang ikonik tidak muncul sesering yang diharapkan.

Jika Anda mencari pengalaman menonton yang paling mendebarkan, pastikan untuk memperhatikan detail latar belakang saat karakter berada di kerangka logam yang terbuka tanpa papan kayu pelindung.

Terdapat satu momen menegangkan di mana Luce harus berjalan di sepanjang kerangka logam yang terbuka. Selama adegan tersebut, penonton akan merasa terjepit di antara keinginan untuk memalingkan wajah dan rasa penasaran yang membuat mata tetap terpaku pada layar. Inilah jenis intensitas yang seharusnya lebih sering dihadirkan dalam film ini. Meskipun film berakhir dengan klimaks yang cukup tinggi, jumlah adegan yang benar-benar membuat tangan mencengkeram sandaran kursi masih terasa kurang untuk sebuah film yang dipasarkan sebagai wahana penantang adrenalin.

Secara keseluruhan, Fall 2: Deadpoint adalah upaya yang ambisius namun terhambat oleh pendalaman karakter yang minim dan kurangnya variasi dalam adegan mendebarkan. Film ini tetap menawarkan tontonan yang cukup memicu vertigo dan performa akting yang berkomitmen. Jika nantinya ada rencana untuk membuat film ketiga dalam seri ini, kita bisa berharap bahwa tim produksi akan kembali fokus pada elemen-elemen yang membuat film pertama begitu sukses dan berkesan bagi para penontonnya.

Pertanyaan Umum

Apakah saya perlu menonton film Fall pertama sebelum menonton sekuel ini?

Meskipun Fall 2: Deadpoint memiliki karakter dan latar yang berbeda, memahami konteks dari film pertama akan membantu Anda memahami motivasi trauma yang dialami oleh karakter utama, meski secara alur cerita film ini bisa berdiri sendiri.

Apakah film ini cocok untuk penonton yang memiliki fobia ketinggian?

Jika Anda memiliki fobia ketinggian yang parah, film ini mungkin akan memicu kecemasan yang cukup nyata karena penggunaan visual yang menekankan pada posisi karakter di ketinggian yang ekstrem.

Di mana saya bisa menyaksikan film ini?

Fall 2: Deadpoint saat ini sudah tersedia untuk disaksikan melalui distribusi resmi dari Lionsgate, silakan periksa platform streaming atau bioskop lokal di wilayah Anda.

Ringkasan

Fall 2: Deadpoint adalah sekuel yang menawarkan ketegangan visual melalui latar pegunungan Thailand, namun kurang memberikan intensitas emosional dan logika karakter yang kuat dibandingkan film pertamanya.

Meski menyajikan momen vertigo yang memicu adrenalin, film ini terhambat oleh alur cerita yang mudah ditebak dan keputusan karakter yang terasa dipaksakan, menjadikannya tontonan yang kurang konsisten dalam mempertahankan rasa cemas penonton.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Panduan Cara Memasang Paku Marka Jalan yang Benar dan Kuat

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:39 WIB

Review Fall 2: Deadpoint, Sekuel yang Kurang Menegangkan

Rabu, 9 September 2026 - 02:20 WIB

Panduan Cara Memasang Paku Marka Jalan yang Benar dan Kuat

Berita Terbaru