Lamat-lamat di kejauhan, tampak sebuah rumah kayu, di tepi jurang di bawah rumpun bambu. Mpek An Cong menyenggol Pakde yang masih memejam mata, lalu menunjuk rumah itu.
Itu sesuai dengan keterangan Gendon.
Mpek An Cong menatap Pakde minta pendapat. Pakde hanya menatap tajam rumah itu. Keningnya berkerut, telinganya menegang, kepalanya sedikit menoleh, mendengarkan dengan seksama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepertinya ada orang lain, tapi entahlah. Anehnya, tidak ada pagar sama sekali! jelas Pakde.
Suatu keteledoran atau kesombongan? Malah mungkin ini jebakan! desis Mpek An Cong.
Pakde terkesima dengan pendapat Mpek An Cong. Bahkan yang melontarkan pendapat pun kaget dengan hasil pemikirannya. Tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik daun kering yang terinjak dari berbagai arah, susul menyusul. Pakde dan Mpek An Cong seketika melenting berdiri dan pasang kuda-kuda.
Ini kami, bisik Gendon.
Suaranya sangat melegakan. Elahan napas panjang dan gumaman lega terdengar menyenangkan.
Mpek, di dasar lembah tepat di belakang rumah itu, ada mata air jernih. Airnya mengalir dari sela-sela akar pohon beringin tua. Di situ juga tumbuh pohon dewandaru berbunga dan berbuah lebat, lapor Gendon.
Tunggu, itu dua pohon lambang kekuatan dan kehidupan, sambar Pakde terkejut. Yang mendengar manggut-manggut.
Setelah minum air, tubuh rasanya segar. Kami tadi sembunyi-sembunyi mengambil air satu bumbung dan buah dewandaru. Kami semua sudah makan dan minum. Kami merasakan khasiatnya, lanjut Gendon.
Seseorang maju memberikan sebumbung air beringin dan buah dewandaru yang masak sempurna masing-masing tujuh buah. Mpek An Cong dan Pakde minum air yang begitu segar dan dingin, lalu makan buah dewandaru.
Keduanya kemudian bersemedi mengatur napas dan menata pikir. Ada rasa hangat dari perut yang menyebar ke seluruh tubuh hingga ubun-ubun. Sumbatan-sumbatan di pembuluh darah langsung terurai, tubuh terasa ringan dan segar. Ada peningkatan tajam atas ilmu gaib yang mereka miliki.
Sementara Jungsemi yang terbakar nafsunya, dengan terburu-buru melepas ritualnya yang mengakibatkan seluruh persiapan urung terkirim. Dia tak peduli semua itu, yang dipikirannya adalah geliatan nakal Erlika yang mendamba pemuasan. Dengan membabi buta seperti sebelumnya, dia merangsek tubuh Erlika. Jika tidak sesuai keinginan, pasangannya akan dihajarnya sepuas hati. Kelakuan bejatnya, meredam semua gerakan musuh yang semakin dekat. Dia dilambung asmara, tidak merasakan kehadiran musuh.
Setelah berdiskusi sejenak, Mpek An Cong dan Pakde mendapat gambaran situasi di dalam bilik. Keduanya sudah menetapkan sebelah mana sasaran gempuran untuk mengabarkan kehadiran mereka. Kedelapan jawara klenteng menyebar untuk berjaga-jaga adanya serangan lain.
Dengan mengendap-endap melangkah tanpa suara mereka sampai di rumah kayu. Tepat si dukun cabul itu hampir mencapai puncak hasratnya, Mpek An Cong dan Pakde uluk salam. Akibatnya pintu dan sebagian dinding jebol, atap di atas tempat ritual ambruk, sedang dapur ambruk total.
Erlika berteriak ketakutan. Jungsemi langsung bangkit berdiri, mengikat tali kolornya. Wajahnya merah padam, peluh mengucur, kedua matanya merah berapi-api. Puncak kepuasan gagal dicapai, penyerapan energi gaib terlepas. Dengan teriakan penuh kemarahan merangsek tamu yang datang tak diundang.
Maaf, mengganggu kesenanganmu. Tapi kelakuanmu harus dihentikan!
Siapa kalian? tanyanya sambil melontarkan serangan.
Tak perlu Aki mengenal kami. Yang pasti cucuku yang tak berdosa padamu, Aki buat dia menderita! Kau benar-benar harus dimusnahkan! jawab Mpek sambil menyerang bertubi-tubi berbarengan dengan Pakde yang bertempur tanpa meninggalkan zikir.
Pertempuran itu berlangsung sengit di antara dua dunia, dunia nyata dan dunia gaib. Dukun cabul yang tidak terpuaskan menjadi uring-uringan. Kepalanya pening membuatnya tidak fokus, sehingga kemampuan ilmunya banyak berkurang. Ritual tengah malamnya belum sempat dia lakukan, keburu lawannya tiba di kediamannya. Untuk menutupi kelemahannya, dia menghardik dan memaki. Kata-kata kotor meluncur deras dari bibir hitamnya.
Kalian pikir bisa menghentikanku? Aku sudah terlalu kuat! teriak Jungsemi.
Namun Mpek An Cong dan Pak De tak gentar. Dengan meningkatkan ilmu hingga puncak dilambari mantra-mantra yang semakin kuat, mereka melawan dukun itu dalam pertempuran tingkat tinggi. Jungsemi menyerang dengan sisa kekuatannya, tapi akhirnya, ilmu hitamnya runtuh. Asap hitam pekat keluar dari tubuhnya, membentuk sosok mengerikan yang disambut hantaman dua berkas sinar kuning dan biru. Akhirnya hancur lebur tersapu angin gunung, lenyap tanpa bekas.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






