Benar kata orang. Jatuh cinta bisa membuat orang lebih semangat menjalani hidup. Biasanya, saat memulai aktivitas di awal pekan ada rasa sedikit malas setelah libur di akhir pekan. Ada yang berbeda di hari Senin kali ini. Hatiku diliputi kebahagiaan baru, semangat baru.
Kebahagiaan hatiku terpancar dari setiap gerak-gerikku. Hingga hal ini tanpa aku sadari ternyata ibu memerhatikan tingkahku yang berbeda dan sedikit berubah. Pagi ini aku bangun lebih awal. Bahkan, aku sempat salat Subuh di masjid. Hal yang jarang sekali aku lakukan di hari-hari yang lainnya selain saat bulan Ramadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selesai mandi dan bersiap untuk berangkat kerja aku keluar kamar dan bergabung bersama bapak dan ibu serta adikku yang sudah lebih dulu duduk mengelilingi meja makan untuk sarapan bersama. Aku berjalan mendekat sambil bersenandung kecil dan bersiul. Jam di tanganku menunjukkan pukul 06.30.
“Assalamualaiku. Selamat pagi, semuanya.
” Waalaikumsalam. Selamat pagi …,” sahut bapak, ibu dan Nadia adikku. Mereka bertiga saling melempar pandangan seolah memberikan kode bertanya apa yang telah terjadi padaku.
“Wah, ada makanan kesukaanku, nih. Terima kasih, Ibu.”
“Sama-sama, Nak.”
Aku menyendok nasi dan mengambil masakan ibu, lalu, memasukkannya ke dalam piringku dan memulai menyantapnya dengan lahap.
Mereka bertiga saling melempar pandangan dan mengangkat alis seolah memberikan kode bertanya apa yang telah terjadi padaku.
“Ibu perhatikan sejak pulang sore kemarin mukamu sumringah banget, Fan. Nggak seperti biasanya, gitu. Seperti ada semangat yang lagi membara. Anak Ibu lagi happy, ya?”
Aku hanya tersenyum.
“Nggak, Bu. Biasa saja.” jawabku. Aku tidak mengatakan apa yang sebenarnya sedang kurasakan. Aku pikir belum saatnya aku cerita pada siapa pun, karena hubunganku dengan Haura baru juga satu hari.
“Mas Irfan lagi jatuh cinta, kali, Bu,” celetuk Nadia iseng.
“Ssst! Anak kecil diam, Kau! Sekolah aja yang benar.” balasku.
Adik semata wayangku ini memang terkadang suka usil. Bukan cuma dia aja, sih. Aku pun sama. Ya, wajar saja. Namanya juga kakak beradik. Pasti selalu saling menggoda dan bercanda. Kadang akur kadang juga berantam. Tak masalah. Itulah keluarga. Tanda hubungan yang harmonis.
Pagi yang cerah, rutinitas awal pekan yang biasanya menjengkelkan kali ini tidak begitu berarti bagiku. Jalanan macet yang kulalui terasa tidak begitu panjang. Entahlah hanya perasaanku yang sedang sangat bahagia, atau memang keadaannya demikian.
Aku sampai di kantor tepat waktu. Seperti biasanya, Desta teman kantor sekaligus sahabatku selalu datang lebih awal dariku. Saat aku datang dia sedang berbincang dengan Pak Sobirin, petugas kebersihan kantor di pantry. Aku yang tak mau mengganggu mereka yang sedang asik berbincang, langsung menuju ruang kerjaku.
Karyawan yang lain sedang asik mempersiapkan diri dengan beban tugas masing-masing. Aku bergabung menjadi bagian dari perusahaan ini setelah mendapat rekomendasi Desta yang sama-sama saling membutuhkan. Saat itu aku baru saja resign dari tempat kerjaku yang lama, dan kamtor ini sedang membutuhkan karyawan.
Aku belum lama kerja di kantorku yang sekarang. Namun, aku merasa nyaman bekerja di kantor ini. Rasa kekeluargaan dan kekompakan dari setiap karyawan sangat terjaga. Semua bekerja sesuai jobdesknya masing-masing, tapi, jika ada satu kendala semua akan saling bantu. Persaingan antar karyawan dalam dunia kerja memang biasa terjadi. Hal itu sangat wajar jika yang terjadi adalah bersaing yang sehat.
Sudah waktunya jam istirahat kantor. Sebagian karyawan sudah beranjak dari meja kerjanya untuk keluar beristirahat. Sebagian lagi tetap bertahan di dalam kantor karena mereka membawa bekal dari rumah.
Bagi karyawan lain sepertiku yang belum berkeluarga, kami menghabiskan waktu istirahat untuk makan di kantin dan cafe-cafe yang ada di sekitar kantor. Maklumlah, kami belum punya istri yang mau menyiapkan bekal dari rumah. He he he.
Setelah selesai salat Zuhur, aku iseng membuka salah satu akun sosial media dari ponselku. Beberapa saat kemudian muncul di timeline instagramku satu postingan dari akun milik Haura. Postingan sebuah foto tangan seorang perempuan yang memegang buket bunga mawar merah muda, “Aku ingin menjadi seseorang yang dia cintai, seseorang yang dia sayangi, dan satu-satunya orang yang dia pikirkan. Aku mencintainya.” Tulis Haura dalam caption di postingan itu.
Apakah kalimat itu ditujukan untukku? Tanpa berpikir panjang, lalu, aku sentuh tanda love untuk menyukai postingan itu. Tak lama kemudian notifikasi pesanku berdenting. Sebuah pesan WA dari Haura masuk. Segera kubuka dan kubaca pesan itu.
Haura: “Terima kasih untuk semuanya, ya.”
Aku: “Sama-sama, Sayang. Eh, udah boleh panggil kamu Sayang belum, ya? He he he.
Haura: “Boleh nggak, yaa? Boleh, deh. He he he.”
Aku: “Terima kasih juga sudah menerima perasaanku padamu dan menjadi pacarku, semoga sampai menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Udah dulu, ya. Aku belum makan, nih. Jam istirahat sebentar lagi selesai. I love you.”
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






