Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 3)

- Penulis

Kamis, 24 Oktober 2024 - 22:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 3)

Bab. 3

Sering kali kenangan masa-masa indah bersama Haura turut hadir secara tiba-tiba. Aku harus bisa menjaga perasaan Tiwi saat bersamanya, sebagaimana aku menyembunyikan perasaanku pada Tiwi saat sedang bersama Haura.

Di saat ragaku sedang bersama Tiwi, terkadang rasa rindu pada sosok Haura datang menyapa. Di saat itulah aku lebih senang menyendiri, agar bisa menikmati rasa rindu itu.  Rindu akan kenangan  saat-saat awal aku bertemu dan mengenalnya, hingga aku mengagumi dan jatuh cinta padanya. Kenangan yang selalu membangkitkan kembali rasa cinta pada Haura, yang sering kali teralihkan saat aku bersama Tiwi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat itu, aku bertemu dengannya untuk pertama kali di sebuah cafe. Saat itu, usiaku belum memasuki kepala tiga. Aku masih merasa belum terlalu memikirkan tentang pernikahan. Aku masih merasa belum saatnya untuk menikah di usia muda. Aku masih ingin menghabiskan masa mudaku untuk bersenang-senang dan berpetualang melakukan hal-hal yang menantang adrenalin.

Berawal dari sebuah  insiden kecil. Insiden yang membuatku semakin terpesona dengan perempuan yang cantiknya bak bidadari ini. Sore itu, seperti biasanya aku mengunjungi cafe Cherry and Coffee yang terletak di pinggiran kota Bandung. Aku sering menghabiskan waktu untuk sekadar nongkrong sambil minum kopi menikmati senja.

Seorang perempuan muda yang saat itu sedang memundurkan mobilnya yang akan keluar dari area parkir di Cherry and Coffee. Tanpa sengaja mobil yang dikendarainya menyenggol body motorku hingga motorku roboh dan terguling. Aku yang saat itu memilih duduk di luar cafe, langsung bergegas mendekat area parkir setelah mendengar suara benda tersebut.

Aku segera memperbaiki posisi motorku. Seseorang keluar dari mobil tersebut. Ternyata seorang perempuan. Ia mengenakan pakaian yang serba serasi, sopan untuk dipandang mata. Kemeja biru pastel dipadukan dengan celana kain berwarna  khakky, kepala yang terbalut rapi oleh kerudungnya memberi nilai lebih penampilannya.

Penampilannya yang menarik, tubuh yang tidak terlalu tinggi. Wajahnya yang cantik dan teduh membuatku terpana.

“Itu motor Masnya?” tanya gadis cantik itu. Ia terlihat panik. Ya Tuhan, dalam keadaan paniknya saja gadis sangat manis, apalagi saat dia lagi senang.

“I-iya, ini motor saya.” Tiba-tiba saja lidahku kelu untuk menjawabnya.

Aku kembali memeriksa motorku. Rupanya ada kerusakan sedikit. Kaca spion  pecah dan badan motorku tergores.

“Aduh, maaf, ya, Mas. Saya nggak sengaja. Saya lagi buru-buru ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengan segera. Apakah ada yang rusak dengan motornya, Mas?”

“Sedikit, sih, tapi tidak apa-apa. Tidak terlalu fatal.” Aku menjawab dengan canggung.”

” Maaf sekali lagi, ya. Mas. Kalau ada yang rusak saya siap tanggung jawab, kok.”

“Nggak usah, Mbak. Terima ka-sih ….”

“Baiklah, terima kasih, Mas. Sekali lagi saya mohon maaf, ya, atas kecerobohan saya. Kalau begitu saya pamit permisi.” Ia kembali meminta maaf, lalu berpamitan meninggalkanku.
Aku mengecek ulang kondisi motorku, lalu, kembali ke cafe dan menikmati suasana senja yang indah.

Suasana cafe semakin ramai. Pengunjung mulai berdatangan. Cahaya lampu menambah indah suasana malam  di cafe ini. Aku menikmati secangkir kopi V60 dan bermain ponsel sembari menunggu Desta, teman kantor sekaligus sahabatku  sejak masa kuliah dulu. Aku dan Desta sering menyempatkan waktu setelah pulang kantor buat nongkrong atau futsal bareng bersama dengan teman kantor yang lain.

Tak lama kemudian Desta muncul. Aku mengangkat tangan ke arahnya agar Desta mengetahui posisi mejaku. Ia mendekat ke arah meja tempatku duduk.

“Sorry, Fan, lama nunggu, ya. Tadi agak macet dikit kayaknya ada kecelakaan,” ucap Desta sambil menarik kursi, lalu duduk di hadapanku.

Aku memperbaiki posisi duduk. “Santai, aja!” kelakarku.

“Gue laper, nih. Pesen makan dulu, ya,”

Desta pun memanggil seorang pelayan cafe untuk memesan makanan. Setelah ia menentukan pesananya, sang pelayan mencatatnya, lalu meninggalkan meja kami.

“Ta, barusan gue mengalami kejadian apes tapi sekaligus menyenangka, ” tuturku.

Desta mengerutkan dahi, “Hah, apes tapi menyenangkan? Maksud lu gimana, sih?” tanya Desta yang sedikit kebingungan.

“Iya. Pertama motor gue ditubruk mobil yang mau keluar area parkir sampai ambruk.”

“Terus motor Lu  gimana?”

“Amanlah, cuma pecah doang, bisa diganti. Nah, yang kedua ini yang gue bilang menyenangkan.”
Aku berhenti sejenak, menyeruput kopi. “Tahu nggak, Lu ternyata yang keluar dari mobil itu seorang perempuan spek bidadari. Ukhti cantik, anggun, idaman banget buat jadi calon istri,” tuturku dengan semangat.

“Ah, Lu mah kucing dibedakin aja Lu bilang cantik, kan. Dasar mata keranjang, player kampung!” kelakar Desta. Kami berdua pun tertawa.

Kami melanjutkan menghabiskan malam dengan mengobrol ringan. Selalu ada saja topik yang seakan tak pernah habis untuk dibahas kalau berbincang dengan sahabatku ini. Tak terasa waktu sudah semakin malam dan satu jam lagi cafe ditutup. Kami akhirnya pulang.

Sepanjang perjalanan hatiku terasa berbunga-bunga. Saat aku melintasi jalanan di titik ampu merah terlama di Kota Bandung ini yang menyala saat ini bisa kunikmati dengan santai tanpa menggerutu. Pokoknya malam ini adalah malam yang paling indah.

Sesampainya di rumah sudah ada ibu dan Ayah yang selalu setia menungguku pulang kerja di teras depan rumah.

“Kok pulangnya sampai malam, Fan?” tanya ibu setelah aku mengucapkan salam dan  mencium tangan kedua orang tuaku.

“Iya, Bu. Nongkrong dulu sama Desta. Maaf Irfan lupa kasih kabar dulu sama Ibu. Irfan masuk dulu, ya, Bu, Pak,” ucapku menjelaskan alasan keterlambatanku sampai rumah, lalu pamit untuk masuk ke dalam rumah.

Aku melangakah meninggalkan ibu dan bapak yang duduk di teras, lalu, masuk ke dalam kamarku. Setelah itu, aku segera membersihkan diri. Selesai makan malam bersama di meja makan, aku menemani ibu dan bapak berbincang santai.

Di keluargaku ada beberapa ritual, aturan tidak tertulis atau kebiasaan rutin yang dilakukan setiap akhir pekan, salah satunya berkumpul di ruang makan untuk makan bersama. Aku, ibu, bapak, abang, dan adikku semua berkumpul di meja makan. Sekarang Abangku sudah tinggal terpisah bersama keluarga kecilnya. Adik bungsuku sedang menempuh pendidikan sarjananya di luar kota. Tinggallah aku si anak tengah yang menemani kedua orang tuaku. Kebetulan setelah lulus kuliah, aku langsung mendapatkan pekerjaan masih di Kota Bandung ini.

Selama berkumpul di meja makan, kami melakukan perbincangan dari obrolan ringan dan santai hingga diskusi berbagai permasalahan. Tujuan Bapak menerapkan aturan tidak tertulis ini adalah untuk menumbuhkan hubungan yang lebih hangat dan akrab antar anggota keluarga.

Kata Bapak, ” Kita ini walaupun satu rumah, tapi punya kesibukan masing-masing. Semua punya kegiatan sendiri-sendiri. Makanya kita harus ngumpul setidaknya seminggu sekali untuk saling mengakrabkan diri dengan anggota keluarga.” Itulah cara keluarga kami dalam menjaga kehangatan dan keharmonisan keluarga.

Setelah selesai berbincang dengan ibu dan bapak, aku pamit undur diri untuk masuk ke kamar. Saat aku hendak merebahkan tubuhku di tempat tidur, aku teringat laptopku lowbat dan belum sempat aku mengecharge di kantor tadi. Aku mendekat ke meja sebelah tempat tidurku, lalu, mengambil daypackku dan mengeluarkan laptop di dalamnya.

Tiba-tiba ingatanku kembali pada insiden beberapa jam yang lalu. Aku teringat pada kecantikan perempuan yang menabrak motorku. Mengapa wajah perempuan itu masih saja bercokol dalam ingatanku?

Waktu terus berlalu. Setiap detik dan menit berjalan hingga beberapa hari. Setiap kali aku teringat kejadian di cafe itu, ingatanku selalu tertuju padanya. Aku terkagum pada sosoknya. Aku terkagum pada cantik wajahnya, tetap lembut dan sopan saat berbicara meskipun dalam keadaan panik.  Aku tersenyum-senyum sendiri. Aku merasa ada yang berbeda dengan dia. Apa mungkin aku menyukainya? Ah, terlalu dini jika aku menyimpulkan demikian.

Aku pun belum benar-benar mengenal dia. Kejadian sore itu, kan hanya insiden biasa. Hanya insiden kecil. Motorku pun baik-baik saja, tak ada kerusakan yang serius. Tapi, mengapa bayangan dia masih menari-nari dalam pikiranku? Apakah aku mulai tertarik padanya? Ah, rasanya terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.

Beberapa bulan kemudian, aku mengunjungi kembali Cherry and Coffee. Kali ini, kedatanganku sekaligus untuk menyelesaikan urusan kantor. Aku sudah membuat janji dengan seorang klien di cafe ini. Tanpa sengaja aku bertemu dengan teman kuliahku Fania, saat itu dia teman satu angkatan. Satu jurusan juga.

“Irfan! Apa kabar? Eh nggak nyangka kita ketemu di sini. Sendirian aja?” sapa seorang perempuan.

Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kembali tentang siapa perempuan ini. Aku tersenyum dan menggaruk kepalaku yang tak merasa gatal.

“Eh, iya.” Aku masih kebingungan. Sepertinya aku pernah mengenalnya tapi ingatanku benar-benar tak bisa menangkapnya.

“Kamu lupa, ya? Aku Fania,” ucapnya meyakinkanku sekai lagi.

Cepat-cepat aku meminta otakku untuk segera mengingatnya, akhirnya aku ingat siapa perwmpuan ini. Aku sedikit kaget karena penampilannya sekarang berubah drastis dari masa kuliah dulu. Ya, namanya perempuan pasti  banyak sekali melalui proses perawatan tubuh. Wajar sih.

“Ah, iya. Aku ingat sekarang. Apa kabarnya?” tanyaku. Jujur sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan teman-teman lamaku. Wajar saja jika aku sudah lupa, apalagi banyak perubahan yang terlihat.

“Wah, sayang sekali aku lagi buru-buru. Sepupuku udah nungguin, di depan. Minta nomormu, dong, kita lanjut chating aja, ya.”

Aku membuka ponselku dan menyodorkan tanda barcode padanya. Setelah selesai memindai barcode, ia pamit. Aku hanya memandangnya mendekat ke mobil yang menjemputnya. Mobilnya berhenti tak jauh dari tempatku duduk di cafe, sehingga aku bisa melihat seorang perempuan melambaikan tangan pada Fania.

“Wait, sepertinya aku kenal dengan orang yang di belakang kemudi mobil itu. Ya, perempuan itu …. Iya benar, aku nggak salah lihat. Dia perempuan itu. Jadi, dia sepupu Fania?” gumamku. Maha Baiknya Tuhanku. Telah lama aku menunggu dan berharap bisa bertemu kembali dengan perempuan itu.

Setelah menghabiskan kopi yang sudah dingin aku pun pulang. Hari ini pekerjaanku sudah selesai jadi aku tidak perlu kembali ke kantor. Aku langsung tancap gas menuju rumah. Perjalanan pulang kali ini terasa lebih melelahkan. Jalanan yang cukup macet,  ditambah tiba-tiba motorku mogok. Aku baru ingat kalau sudah cukup lama aku belum sempat membawa motorku ke bengkel. Memang ini keteledoranku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sehingga lupa untuk memerhatikan kondisi motor kesayanganku. Untung saja jarak ke bengkel terdekat hanya kurang lebih 100 m.

Setelah pertemuan itu aku dan Fania jadi lebih akrab. Kami juga tergabung dalam satu grup panitia reuni kampus. Aku dan Fania sering berkumpul mengadakan rapat alumni panitia untuk membahas pelaksanaan acara reuni kampus.

Fania yang kini telah banyak berubah. Semasa kuliah dulu dia tipe mahasiswa yang tidak terlalu aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Anaknya cerdas. Hanya saja pembawaannya yang irit bicara dan komunikasi membuat banyak teman-teman menganggapnya judes. Ia hanya berbicara seperlunya saja.

Fania yang sekarang adalah Fania yang baru. Fania yang lebih ceria, auranya lebih bersinar. Fania yang aktif bersosialisasi, karena dia sekarang juga tergabung salam sebuah LSM. Dia pernah menuturkan bahwa apalah artinya punya ilmu, harta, dan jabatan kalau tidak bisa menebar manfaat buat umat, setidaknya untuk orang orang di sekitar kita.

Oleh karena itu tak heran jika Fania pula yang mengajak beberapa teman kampus untuk mengadakan reuni. Itu artinya kesempatanku untuk bisa mengenal dan mendekati gadis itu terbuka lebar. Tapi, aku ragu untuk meminta bantuan Fania. Laki-laki sejati harus berjuang sendiri. Ini prinsipku.

Aku semakin penasaran dibuatnya. Beberapa rencana telah kususun. Berbekal rasa penasaran yang besar, kubuka sosial mediaku, siapa tahu aku bisa menemukan salah satu akun sosial medianya. Mula-mula aku stalking akun sosial media milik Fania. Kalau memang gadis itu sepupunya, pastilah ada momen kebersamaan yang mereka abadikan di salah satu sosial media Fania.

Aku menemukan sebuah gambar di salah satu postingan Fania. Ia juga menandai satu akun. Aku mencoba meng-klik ikon penanda akun. Lalu, menelusuri akun yang Fania tandai, @bening_haura06. Aha! Akhirnya kutemukan juga sosial medianya. Sayangnya ia mengaktifkan mode privasi di akunnya. Ok. Tak masalah, aku pun memfollow akun itu.

Keesokan harinya saat kubuka sosial mediaku, aku melihat ia telah mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku. Satu langkah baik telah terlewati.

Dari postingan-postingan di akun sosial medianya aku tahu dia perempuan yang aktif, cerdas, dan suka dengan kegiatan sosial. Iseng-iseng aku kirim pesan DM untuk saling mengenal. Gayung pun bersambut.

Setiap hari kami saling mengirim pesan hingga akhirnya bertukar nomor telepon. Obrolan kami kini semakin sering melalui Whatsapp. Kami berteman dangan baik. Aku semakin dibuat terkagum-kagum dengan pesonanya. Setelah beberapa bulan berlalu, aku pun mencoba mengajaknya bertemu.

“Ra, sore ini kamu ada waktu, nggak?” tanyaku melalui telepon.

“Mmm, sore ini, ya? Aman, aku belum ada janji sama siapa pun. Kenapa?” tanyanya di ujung telepon.

“Mm … jalan, yuk! Kamu mau nggak?” tanyaku lagi untuk memastikan kalau dia benar-benar ada waktu untukku.

“Boleh, Kamu jemput aku, ya. Nanti aku shareloc,” ucapnya mengakhiri perbincangan kami.

“Yes! Satu langkah yang bagus,” gumamku.

Hatiku girang bukan main. Aku mengepalkan tangan, hampir saja berdiri loncat karena terlalu bahagia. Untung saja teman-teman kerjaku tidak ada yang menyadari tingkahku.

Hatiku berbunga-bunga sebab akan bertemu dengan dia. Wajahku lebih ceria. Senyuman terlukis di wajahku sejak Haura menutup teleponnya.

Perbincanganku dengan Haura di telepon seakan memantik energi dan semangat yang lebih untukku. Pekerjaanku hari ini lebih cepat selesai dari biasanya, mungkin karena aku sedang berbahagia. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ini, sehingga gerak-gerik tubuhku terbaca oleh Desta yang dari tadi menatapku dengan rasa penasaran.

“Ehem … kayaknya ada yang lagi happy banget nih, bagi-bagi dong, sama teman kalau punya kebahagiaan, ” ejek Desta

“Iya, Ta. Lu ingat, nggak, gue pernah cerita perempuan yang menabrak motor gue beberapa bulan yang lalu?”

Aku mendekat ke meja desta agar tidak banyak orang yang tahu obrolanku ini.

“Terus?”

“Sejak kejadian itu gue kepikiran dia terus. Makin hari semakin penasaran. Gue mau mendekati dia. Ya, siapa tahu dia jodoh gue, ya, kan?” ucapku.

” Ah, Elu tiap kenal cewek baru juga ngomongnya kayak gitu, siapa tahu ini jodoh gue,” seloroh Desta sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.

“Tapi, yang ini gue rasa beda!” jawabku dengan  semangat.

“Okelah, Bro, apa pun pilihannya, gue sebagai sahabat cuma bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik buat hidup Lu.”

“Terima kasih, Bro.” Aku menepuk bahu Desta lalu kembali ke meja kerjaku.

Waktu bergulir. Jam pulang kantor tiba. Aku bergegas menuju parkiran setelah mengisi presensi. Kulajukan motorku menuju tempat yang ditentukan Haura untuk menjemputnya. Kantorku dan kantornya tidak begitu jauh. Hanya butuh waktu tiga puluh menit.

Aku pun sampai di tempat kami janjian. Aku mengedarkan pandangan mataku ke seluruh penjuru taman untuk mencari seseorang dengan ciri yang ia sampaikan sesaat sebelum dia sampai lebih dulu. Tak butuh banyak waktu aku akhirnya menemukan seorang perempuan yang aku cari.

Aku berjalan mendekati seorang perempuan berhijab. Ia tampak anggun dan modis, tetapi tetap menutupi bagian dadanya. Perempuan itu tampaknya pandai memadu-padankan pakaian yang ia kenakan. Ia memakai hijab yang  warnanya selaras dengan setelan kemeja warna biru muda dan celana warna cream.

Dia tetap terlihat sangat cantik meskipun tanda-tanda lelahnya bekerja tetap terlihat dari sayu matanya. Namun, sungguh ia tetap memberikan pesona yang menyejukkan mataku, apalagi hatiku.

“Meidina Haura Bening? A-a- aku Irfan Nizar Maulana,” sapaku. Aku sangat gugup. Lidahku mendadak kelu di hadapannya. Aku masih berdiri di depannya. Ada perasaan sedikit ragu. Aku khawatir jika ia teringat insiden di cafe waktu itu membuatnya malu, lalu ia menolak berteman denganku lagi.

“Iya. Betul.” Haura tersipu malu. Pipinya terlihat merona. Manis sekali. “Akhirnya kita bisa bertemu untuk pertama kali,” ucapnya.

“Maaf, ya, sudah membuatmu lama menunggu,” ucapku canggung.

“Ah, nggak, aku juga belum lama sampai, kok.” Haura memperbaiki letak kacamatanya.

Kami menikmati pertemuan pertama dan kedua ini. Pertemuan pertama karena baru kali ini aku bertemu dan lebih lama menatap wajah serta berbicara dengannya. Disebut pertemuan kedua karena secara bertatap muka langsung memang kami pernah bertemu satu kali sebelumnya, tepatnya saat terjadinya insiden itu.

Singkatnya kini kami sudah berteman. Namun, pertemanan kami awalnya tidak diketahui oleh Fania, sebagai sepupu Haura. Gaya pertemanan kami seakan lebih nyaman lewat online. Kami jarang untuk menyengaja untuk bertemu. Haura yang sedikit pendiam saat berjumpa membuatku canggung untuk sering-sering bertemu secara langsung.

Waktu terus bergulir. Hari pun berganti. Perasaan kagum dan penasaraku pada Haura semakin membesar. Akankah aku memiliki kesempatan untuk mengenal Haura lebih dekat? Bisakah aku mendapatkan hatinya? Mungkinkah debar jantungku tiap kali mendapat notif pesan darinya ini tanda-tanda jika aku mulai jatuh cinta padanya?

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Internasional

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:53 WIB