Novel : Bertahan di Atas Luka Part 32

- Penulis

Jumat, 15 November 2024 - 19:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 32

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 32

Amira Dzakiya

Aku sedang menyusun oleh-oleh untuk teman-teman di Riyadh ketika bel pintu berbunyi. Siang ini, seperti biasa rumah sepi karena aku hanya berdua dengan Ibu yang sedang beristirahat di kamar. Si kembar kerja dan baru akan pulang sore nanti. Perlahan aku berdiri menuju ruang tamu dan mengintip dari tirai jendela. Seketika aku mematung ketika mengetahu siapa yang datang.  Jantungku seolah meloncat keluar. Cepat aku menutup kembali tirai jendela dengan tangan masih gemetar.

Untuk apa ia ke sini? Dari mana ia tahu kalau aku masih di Jakarta?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bel kembali berbunyi, menyadarkanku dari rasa terkejut.

Pelan aku membuka pintu. Sebetulnya, aku ingin pura-pura tidak mendengar dan membiarkan lelaki itu pergi karena mengira rumah kosong. Namun, aku khawatir Ibu terbangun dan heran kenapa aku tidak mau membuka pintu. Sambil menguatkan hati, kubuka pintu ruang tamu dan melihat sosok tinggi lelaki yang akhir-akhir ini wajahnya sering hadir dalam pikiranku.

Assalamualaikum, Mir!

Aku membalas salamnya sambil menelan ludah untuk membasahi kerongkongan yang tiba-tiba kering.

Eh, Pras! Tumben ¦, ada angin apa, nih?

Ganggu nggak, Mir?  Mau ngobrol-ngobrol aja. Aku dikasih tahu Marisa kalau kamu masih di Indonesia.  Kita belum sempat ngobrol waktu di rumahnya, kan?

Oh ¦, nggak, kok.  Duduk, deh! ujarku mencoba bersikap biasa.

Tenang, Amira! Nggak usah panik dan gugup, dia hanya mau ngobrol. Jangan GR!

Pras tersenyum manis dan duduk di teras. Cuaca mendung dengan semilir angin yang sejuk membuat kami merasa nyaman walau duduk di luar. Apalagi, ada pohon kersen di halaman depan, menambah sejuk suasana siang itu. Aku duduk di kursi di seberang Pras. Aku sengaja menata kursi kayu di teras membentuk huruf L dengan meja kayu persegi panjang di tengah. Meskipun dari kayu, tapi dilengkapi dengan bantalan sofa supaya tetap empuk.

Kapan kamu balik ke Riyadh? Pras membuka percakapan.

Insyaallah dua minggu lagi, jawabku singkat.

Suasana terasa janggal dan membuat kami seperti kehilangan kata-kata.

Oya, Pras ¦ aku turut berduka cita, ya.  Semoga Allah ampuni semua dosa-dosa Safira, ucapku tulus.

Mata Pras terlihat berkaca-kaca.

Makasih, Mir! Allah lebih sayang Safira. Nyesal banget kenapa waktu itu aku biarin Fira pulang sendiri, padahal biasanya aku selalu ikut kalau dia ada kerjaan di luar kota. Ketika itu kami pikir Bandung kan dekat, jadi Fira bisa nyetir sendiri.  Aku tidak bisa mengantarnya karena kebetulan ada agenda ketemu klien di Jakarta pada hari yang sama, tutur Pras dengan suara bergetar. Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku akan membatalkan pertemuan dengan klien dan ikut ke Bandung mendampingi Safira.

Kamu nggak boleh ngomong gitu, Pras. Semua udah takdir-Nya. Kita nggak pernah tahu hikmah apa yang Allah sedang siapkan untuk hidup kamu, tapi pasti yang terbaik. Allah memilihmu karena tahu kamu kuat dan sanggup menjalani ujian ini.

Pras menatapku penuh arti.

Dari dulu kamu memang bijaksana dan selalu tahu cara menghibur orang lain. Kamu bisa membuat orang lain merasa tenang dan kuat menghadapi masalah.  Bayu beruntung banget bisa dapetin kamu, puji Pras terdengar tulus.

Aku tersipu. Andai saja kamu tahu masalah rumah tanggaku yang belum bisa aku selesaikan, kamu pasti nggak akan memujiku seperti ini, Pras. Andai saja suamiku sesekali memuji seperti kamu memujiku, rumah tangga kami pasti akan baik-baik saja.

Jangan muji terlalu tinggi, ntar kalau jatuh sakit, gurauku mencoba menutupi rasa kikuk. Aku nggak seperti yang kamu pikir, Pras. Mungkin aku bisa menghibur dan menguatkan orang lain, tapi belum tentu aku bisa menghibur diri sendiri, ujarku lirih.

Pras tersentak.

Kamu baik-baik aja, Mir? Semuanya baik-baik aja, kan? tanyanya penuh perhatian.

Aku sama Bayu baik-baik, aja. Kalau ada pertengkaran kan lumrah dalam hubungan suami istri, nggak perlu dibesar-besarkan, jawabku mengelak.

Syukurlah kalau hubugan kamu sama Bayu baik-baik aja. Aku nggak rela kalau Bayu sampai nyakitin kamu.

Lho, kok kamu yang nggak rela? tanyaku dengan kening berkerut.  Oh, karena kamu sahabatku, ya? Aku berusaha bersikap biasa menghadapi Pras.

Iya.  Selain sahabat, kamu kan tahu kalau aku juga pernah menyukaimu.

Aku tertegun, tidak menyangka Pras akan berbicara terus terang seperti ini.

“Nggak kok, aku dan Mas Bayu baik-baik, aja. Kami bahagia,” ujarku tersenyum. Eh, sampai lupa.  Mau minum apa, Pras? Aku berdiri untuk mengusir rasa jengah yang muncul. Biar bagaimanapun aku adalah istri orang, tidak pantas rasanya bicara hal seperti ini dengan laki-laki lain.

Apa aja boleh, jawab Pras kalem.

Aku bergegas masuk untuk menata hati dan perasaanku. Perasaan berdosa menyergap. Bagaimana mungkin aku bermain api dengan laki-laki lain sementara aku masih berstatus sebagai istri?

Tapi kamu kan udah mau cerai, nggak ada salahnya membuka diri untuk lelaki lain. Pras itu sahabat lamamu, kamu udah tahu sifatnya.  Ia sangat perhatian dan lembut. Kamu pasti nggak akan pernah merasa kecewa seperti sekarang, apalagi ia sangat mencintaimu. Bisikan setan terus menggema di hatiku, membuatku terlena sejenak, tapi segera kutepis.

Setelah membuat minuman segarsirup melon dinginaku segera membawanya ke luar. Pras memandang bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman.

Ibu yang rajin ngerawat tanaman. Aku menjelaskan tanpa diminta. Silakan diminum, Pras.

Pras mengambil gelas berisi sirup dan langsung meneguknya.

Si kembar apa kabar, Mir? tanyanya sambil meletakkan gelas di meja.

Baik.  Lagi pada semangat kerja, maklum baru ngerasain enaknya punya gaji sendiri, ujarku sambil tersenyum lebar.

Aku dan Pras berbincang panjang lebar sampai sore.  Tak terasa, kekakuan kami akhirnya luntur setelah beberapa jam berbicara.  Aku merasa menemukan sahabat yang sempat hilang. Pras banyak bercerita soal kehidupan pernikahannya, tentang Safira, pekerjaan, dan teman-teman lama kami. Bicara dengan Pras membuat aku lupa pada masalah rumah tanggaku. Bersamanya, aku bisa dengan leluasa tertawa tanpa beban.

Sejak kedatangan Pras ke rumah, kami jadi sering pergi berdua. Biasanya ke toko buku dan dilanjutkan ke kafe untuk sekedar ngobrol ringan. Kadang kami membahas buku dan film. Pras dan aku memang memiliki kegemaran yang sama: membaca dan menonton.  Dulu kami sering saling tukar novel atau komik. Dua minggu berlalu dengan cepat tanpa kusadari.  Kalau saja Mas Bayu tidak mengirim pesan malam itu untuk mengingatkan, mungkin aku benar-benar lupa.

Karena sering pergi berdua dengan Pras, lama-lama Ibu menegurku.

Mir, Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering keluar sama Pras, kata Ibu sambil menyiram bunga-bunga kesayangannya.

Aku menutup novel yang sedang kubaca dan memandang Ibu dengan rasa bersalah.

Aku cuman jalan sama makan aja kok, Bu.  Pras kan sahabatku dari kecil, nggak mungkin kami berbuat yang nggak-nggak.

Ibu nggak nuduh kamu, tapi hanya ngingetin aja. Kamu punya suami, nggak baik kalau pergi berduaan sama laki-laki.  Apalagi suamimu nggak di sini, tutur Ibu lembut.  Perempuan terkasih itu merapikan peralatan menyiram dan menyimpannya di lemarin kayu yang ada di taman, lalu duduk di sampingku.

Aku tercenung. Ibu benar, aku sudah terlena dan melanggar aturan. Kupandang langit yang mulai memerah, mengantarkan anganku jauh ke seberang lautan, kepada seorang lelaki yang tengah berjuang mengais rezeki.

Kamu nggak kasihan sama Bayu? Dia sendirian di negeri orang, bekerja demi kamu, sementara kamu di sini malah pergi dengan laki-laki lain.  Ibu percaya kamu nggak akan macam-macam sama Pras, tapi tetap itu ndak benar, Nduk.

Iya, Bu, aku tahu. Nanti kalau sudah kembali ke Riyadh, aku nggak akan ketemu sama Pras lagi. Aku hanya butuh teman untuk ngobrol, lagipula kami perginya ke toko buku, atau makan di restoran, jawabku lirih.

Ibu tersenyum lembut.

Kalau Bayu sampai tahu, gimana menurut kamu, Nak? Apa dia akan diam saja melihat istrinya pergi berduaan sama lelaki lain? Ibu memandangku, lalu melanjutkan, Sekarang, kalau Bayu yang pergi sama perempuan lain, apa kamu nggak marah?

Aku terhenyak. Pertanyaan Ibu begitu menohok hatiku.

Kamu sudah dewasa, Ibu percaya kamu bisa menjaga nama baik suami dan keluarga. Sudah magrib, ayo masuk! Ibu berdiri dan mengajakku masuk ketika terdengar suara azan dari masjid di dekat rumah.

Iya, Bu. Sebentar lagi aku masuk, sahutku.

Aku menyadari kalau perbuatanku jalan dengan Pras itu tidak pantas karena Pras duda dan aku istri orang. Namun, kami hanya bicara masalah umum dan tidak pernah menyinggung masalah cinta. Meskipun aku tidak bisa membohongi perasaanku pada Pras, kesadaranku masih utuh untuk tidak bermain api.  Aku hanya butuh teman ngobrol, teman bertukar pikiran tanpa harus takut dikecam atau direndahkan.

Hatiku diliputi kebimbangan. Aku tahu kalau kami berusaha menyembunyikan benih-benih cinta yang mulai tumbuh lagi. Akan tetapi, karena sering pergi berdua, lama-kelamaan cinta itu semakin terlihat.  Sikap Pras yang lembut dan penuh perhatian membuat perasaanku seperti terbang ke awan. Ia selalu mengirimkan pesan menanyakan kabarku, mengingatkan untuk makan, dan menghibur ketika perasaanku sedang tidak karuan. Semua yang kudambakan ada pada diri Pras, sesuatu yang tidak pernah kudapat dari Mas Bayu.

Aku mulai dilanda kebimbangan dan berpikir untuk tidak kembali ke Riyadh. Mungkinkah?

-bersambung-

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru