Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 2)

- Penulis

Sabtu, 31 Agustus 2024 - 23:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 2)

Bab 2

Tanpa aba-aba Kirei memeluk Attala. Dengan tubuh gemetar hebat dan napas yang memburu, ia membenamkan wajah di dada lelaki yang tadi pagi sudah sah menjadi pelengkap separuh agamanya itu.
Attala pun spontan mendekap istrinya sambil melihat, apa isi di dalam kotak hitam yang baru saja dilempar itu. Sayangnya, ia tidak melihat apapun, kecuali kotak kosong.

“Apa isinya, Rei?” Attala mengelus punggung Kirei. Canggung, tetapi ia tidak ingin terlihat sebagai lelaki lemah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Itu tadi ular, Mas,” jawab Kirei tersedu dengan wajah pucat karena ketakutan. Apalagi, ia phobia ular sejak kecil.

Dulu waktu Kirei berusia 6 tahun, ada orang yang sengaja menaruh kotak bergambar Hello Kitty di dekatnya saat ia sedang tidur siang. Ketika bangun, ia bersorak senang karena mengira kotak itu adalah hadiah dari papa karena berhasil memenangkan lomba piano. Ya, papa sengaja meminta guru les musikMiss Anneuntuk mengajarinya karena papa ingin perkembangan otak kanan dan kirinya seimbang. Bukan hanya itu, dengan menguasai satu jenis alat musik, bisa meningkatkan IQ juga.

Dengan semangat, Kirei kecil membuka kotak ini. Namun, betapa terkejutnya dia, kepala ular menyembul keluar. Spontan. Ia langsung melempar kotak itu sambil berteriak. Apalagi, ular yang ada dalam kotak itu adalah ular kobra. Ular yang terkenal dengan bisanya yang sangat mematikan.

Mendengar teriakan Kirei, Bi Marni berlari ke dalam kamar. “Ada apa, Neng?”

“Awas, Bi. A-a-da u-lar.” Kirei berkata dengan terbata-bata sambil menunjuk ke arah ular yang ada di bawah kasur.

“Aduh, kenapa bisa ada ular di kamar Neng Kirei?” Mata Bi Marni tertuju pada kotak bergambar Hello Kitty yang tergeletak di dekat ular itu. Kemudian, ia mengingat-ingat, siapa orang yang memberikan kotak itu dan meletakkannya di atas kasur Neng Kirei. “Neng tenang dulu, ya. Bibi panggilan dulu Pak Martono.”

Bi Marni langsung berlari meninggalkan kamar Kirei untuk memanggil Pak Martono, tukang kebun sekaligus merangkap sebagai satpam rumah. Tak lama, Bi Marni dan Pak Martono kembali ke kamar majikan kecilnya.

Pak Martono tidak takut dengan keberadaan ular sejenis kobra ini. Di kampung halamannya, ia terkenal sebagai penakluk ular. Dengan mengendap-endap, ia mencoba untuk mengarahkan tongkat khusus penjepit ular ke arah leher ular agar bisa dengan mudah menutup kepalanya. Hal itu dilakukan supaya ular tidak bisa mematok tangannya. Hanya sekejap, ular itu bisa diringkus. Kepalanya sudah dibungkus kain dan diikat dengan kencang, lalu dimasukkan ke dalam karung.

Kejadian itu membuat heboh seisi rumah. Bahkan, Papa Gumilar yang sedang ada kerjaan di luar kota, sengaja pulang cepat untuk melihat kondisi putri kecil. Ia juga langsung menyelidiki, siapa dalang di balik kotak Hello Kitty itu. Setelah di usut, ternyata kotak Hello Kitty itu pemberian dari Gildasya. Perempuan itu dendam karena cintanya tidak diterima olehnya. Sehingga, ia menjadikan Kirei sebagai target balas dendamnya. Peristiwa itu membuat Kirei trauma dan phobia dengan ular sampai sekarang.

Jawaban Kirei membuat Attala terkejut. Bagaimana bisa ada kado yang berisi ular di pesta pernikahannya? Siapa pengirimannya? Apa tujuannya? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya

“Apa kamu punya musuh atau orang yang enggak suka sama kamu, selama ini?”

“Aku selalu baik sama orang, Mas. Malah, aku sering dimanfaatkan orang-orang.” Kirei kembali membenamkan wajahnya dan memeluk suaminya erat.

Attala membalas pelukan istrinya dengan harapan ketakutan istrinya mereda. Tetapi justru ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan tentang kado berbungkus hitam yang berisi ular itu. Namun, tentang rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya. Rasa itu berpadu dengan debar jantung yang semakin cepat, serta permukaan kulit yang meremang seperti dilewati oleh gerombolan pasukan semut yang berjalan dan itu berasal dari gumpalan daging yang melekat sempurna tepat di diafragmanya. Tak hanya itu, hembusan napas Kirei yang menelusup di sela-sela lengannya menambah sensasi yang tidak biasa dan itu cukup untuk membangkitkan gelora kelelakiannya.

Ah jangan sekarang. Suasana malam ini tidak bersahabat untuk…’ belum selesai ia bergumam dalam hati. Tiba-tiba, Kirei tak sadarkan diri bersamaan dengan pintu kamar diketuk.

“Rei, Rei!” panggil Attala sambil menggoyang-goyang tubuh istrinya itu.

“Attala, apa yang terjadi?” Dari balik pintu terdengar suara Gumilar.

“Sebentar, Pa,” sahut Attala sambil membaringkan tubuh Kirei. Kemudian, ia bangkit dan membuka pintu kamar. Nampaklah Gayatri dengan wajah cemas disusul Gumilar yang menatapnya penuh tanya.

“Ada ular di dalam kotak kado yang dibuka Kirei, Ma, Pa. Sayangnya ular itu tidak terlihat, entah di mana dia bersembunyi?” Atta langsung menjelaskan perihal kado misterius itu untuk menjawab tatapan penuh tanda tanya Gumilar.

“Bagaimana dengan Kirei? Ia phobia ular,” ujar Gayatri khawatir. Pandangan matanya langsung mengarah ke arah ranjang. ” Attala, kamu bawa Kirei keluar dari sini. Kalian bisa menempati kamar tamu untuk sementara waktu sampai ular itu ditemukan dan dipastikan tidak melukai siapapun di rumah ini.”

 

Gayatri mengusap kepala Kirei, sedangkan Gumilar menelpon sopir dan satpam pribadi agar segera mencari keberadaan ular tersebut.

“Attala, sekarang kita urus Kirei dulu. Biarkan Martono dan Parmin yang mengurus ular itu.” Gumilar menatap Atta penuh makna seperti sudah memahami perasaan menantunya itu. Malam pertama yang harusnya menjadi malam yang bersejarah, malah dihancurkan oleh kado yang tidak jelas pengirimnya.

Attala mengangguk. Kemudian, ia mengendong Kirei menuju kamar yang dimaksud oleh mertuanya. Malam ini, seharusnya menjadi malam penyatuan dua insan yang sudah halal. Namun, sepertinya dengan kejadian ini Tuhan ingin menundanya dulu.

Setelah ular ditemukan dan ditangkap oleh Martono dan Parmin. Gayatri mengajak Gumilar untuk melihat keadaan putri mereka. Kebetulan, kamar tamu yang digunakan sepasang pengantin itu tidak tertutup rapat, mereka berdua masuk. Ternyata, Kirei sudah sadar. Putri mereka terlihat tenang dipelukan suaminya. Melihat itu, mereka berdua tidak ingin menganggu aktifitas pengantin baru, lalu memutuskan untuk meninggalkan kamar itu. Namun, sebelum meninggalkan kamar, Gumilar memberitahu pada Attala untuk mengunci pintu kamar.

Gumilar dan Gayatri masuk ke kamar. Mereka berdua duduk di samping ranjang, lalu membaringkan tubuh dan berusaha untuk memejamkan mata.

Gayatri sangat gelisah. Matanya enggan untuk terpejam. Meskipun, kedua pembantunya berhasil menangkap ular itu, pikirannya malah semakin riuh. Dari cerita-cerita yang tersebar, ular yang masuk ke dalam rumah, ada dua pertanda yaitu baik dan buruk. Namun, lebih banyak buruknya, seperti hidup akan sulit, terlibat hutang, kehilangan salah satu keluarga, menagih janji, dan ujian yang datang bertubi-tubi. Putrinya baru saja resmi menjadi istri tadi siang, seketika pikiran negatif bermunculan di kepalanya. Ditepuknya lengan Gumilar yang sudah terlebih dahulu lelap dalam tidur, berharap suaminya itu terbangun.

“Ada apa, Ma? Ayolah tidur, ini sudah terlalu larut. Toh, ular itu sudah ditemukan dan dibunuh Martono dan Parmin.” Gumilar menarik Gayatri dalam pelukannya.

“Tapi, Pa. Bukankah, ular itu membawa pertanda buruk? Apalagi, munculnya setelah pesta pernikahan anak kita.” Gayatri bergidik membayangkan betapa mengerikannya ular itu jika sampai melukai anak dan menantunya.

“Ma, siapa tahu ular itu sengaja diberikan teman-teman Atta untuk mengerjai pengantin baru. Tahu sendiri, anak-anak zaman sekarang itu kalau ngerjain orang tanpa dipikir dulu dampaknya. Ayolah, jangan berprasangka buruk pada sesuatu yang belum terjadi.” Gumilar memberi pengertian kepada istri yang sudah mendampingi perjalanan hidupnya hampir tiga puluh tahun itu.

“Mas, ini ular, lho. Mana mungkin teman-teman mereka memberikan kado yang mengancam nyawa. Lagi pula, semua teman Kirei tahu kalau putri kita itu, phobia ular,” jelas Gayatri.

“Betul juga, ya, Ma. Papa jadi teringat kejadian ketika Kirei masih kecil. Apa ada seseorang yang ingin merusak kebahagian putri kita, ya, Ma? Besok, Papa akan menyelidiki orang yang memberi kotak hitam itu. Sekarang lebih baik, kita istirahat dulu. Capek sekali Papa hari ini.” Gumilar mencium kening istrinya, lalu memeluknya.
Malam semakin larut. Namun, kediaman keluarga Gumilar malam ini terasa berbeda. Suasana syahdu yang menyelimuti Kirei dan Attala dalam menjemput kehidupan pertama sebagai pasangan yang sah dan halal, turut menyeret Gumilar dan Gayatri dalam nostalgia masa lalu. Pasangan yang sudah tiga puluh tahun menempuh bahtera rumah tangga itu, kembali merasakan detik-detik yang mendebarkan dan menghangatkan cinta mereka. Cinta yang tak pernah lekang, meski waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan.

Sementara, di sebuah ruangan yang hanya diterangi sebatang lilin, seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam, menyentuh wajah kekasih hati yang terpampang jelas dalam foto berukuran besar yang sengaja dipasang di dinding ruangan itu.

“Aku tau betapa tersiksanya dirimu, Sayang. Tunggulah. Aku pasti datang untuk membantumu membebaskan diri dari belenggu pernikahan itu. Aku akan melakukan semua cara agar kita bisa bersama lagi.”

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Wanita Tidak Bercerita Tapi Sering Melakukan

Life Style

Wanita Tidak Bercerita Tapi Sering Melakukan 5 Hal ini

Jumat, 7 Agu 2026 - 12:17 WIB