Kalian kurang kreatif saja. Dokter Iqbal menarik kursi menjauh dari meja kemudian mendudukinya. Ada pasien baru, ya?
Ada, Dok. Kania menyodorkan rekam medis berwarna biru.
Kenapa, ini? Dokter Iqbal mencermati keterangan yang ada di rekam medis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ulkus diabetikum, Dok.
Saat dokter Iqbal sedang mencermati rekam medis, dari arah ruang inap muncul cowok berambut tebal. Sesekali tangan kanannya menyugar rambutnya yang terbelah pada bagian depan.
Manda mencubit lengan Kania ketika cowok itu berjalan melewati nurse station.
Infeksinya sudah sampai tulang?
Pertanyaan dokter Iqbal membuat Kania menggeragap. Ia segera menyiapkan Xray Double Viewer yang berada di sebelah kanan komputer. Saat lampu menyala tampak tulang kaki kanan dari paha sampai ke jari kaki. Dokter Iqbal turun dari kursi, mendekat ke lampu Xray. Bagus! Belum sampai tulang, masih bisa diselamatkan, gumamnya.
Okey, kita ke ruang inap sekarang. Dokter Iqbal bergegas keluar dari nurse station. Kania segera mengikuti langkah dokter Iqbal.
Istri Projo tengah tertidur di sofa ketika dokter Iqbal dan Kania masuk. Ia cepat bangun ketika terdengar langkah kaki mendekat.
Siang, Bu? sapa dokter Iqbal ramah. Ia kemudian memperkenalkan diri.
Dokter Iqbal melihat kaki Projo yang terbalut berban. Ada rembesan warna merah menodai perban itu. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke istri Projo.
Sudah berapa lama ini, Bu?
Em ¦. Kening istri Projo berkerut, tangan kanannya berada di atas perut menopang tangan kirinya. Jari jempol dan telunjuknya memegang dagu. Sekitar sebulan, Dok, ujarnya sesaat kemudian.
Satu bulan!?
Tiba-tiba Projo menggeliat. Bisa tidak kalian diam! Aku baru mau tidur! teriaknya.
Istri Projo terkejut. Ia segera merapat ke tempat tidur. Pak, ada dokter.
Projo berusaha bangun dibantu istrinya. Dokter Iqbal tersenyum setelah Projo sempurna duduk. Tidak ada rasa marah terlihat di wajah dokter muda itu.
˜Hebat,™ batin Kania. Dokter muda di sampingnya itu, matang sekali mengelola emosinya.
Dokter. Bagimana penyakit keparat saya ini bisa lenyap. Saya sudah tidak tahan dengan penyakit ini!
Astaga ini orang! Kok tidak merasa bersalah! Kania geleng-geleng kepala.
Ceritanya bagaimana, Pak. Kok bisa sampai satu bulan baru berobat?
Istri Projo menghela napas sebelum memulai cerita. Awalnya Bapak ada luka kecil di bawah jempol. Waktu itu bapak jalan-jalan tanpa alas kaki. Mungkin ada kerikil tajam yang melukai Bapak. Tapi waktu terluka Bapak tidak merasa sakit, padahal darah keluar sampai berceceran.
Kania dan dokter Iqbal menyimak cerita istri Projo dengan baik. Sesekali Kania mencatat informasi penting yang perlu ia ketahui.
Bapak ada riwayat hipertensi dan diabetes?
Istri Projo menatap suaminya seolah meminta suaminya yang menjawab pertanyaan dokter. Iya, Dok, jawab Projo singkat.
Apa Bapak rutin periksa dan teratur minum obat?
La, ya, bosen, Dok, kalau minum obat, kok setiap hari, ujar Projo ketus.
Alasan klasik yang sering Kania dengar dari pasien. Mereka tidak paham bahaya akan mengancam karena ketidakdisiplinan minum obat. Kania ingat, Bapak dulu juga susah kalau disuruh minum obat. Padahal ia harus rutin minum obat tensi. Setiap pagi Ibu sudah menyiapkan obat di dekat sarapannya. Namun, obat itu sering dilewatkan. Akibatnya Bapak tiba-tiba pingsan karena tensinya tidak terkontrol.
Karena Bapak tidak rutin minum obat, akibatnya seperti ini, ujar dokter Iqbal.
Yah, saya lagi apes, Dok. Projo masih ngeyel.
Dokter Iqbal memberi instruksi pada Kania untuk membuka perban Projo. Luka itu masih sangat basah. Perban tebal tak mampu menampung cairan yang banyak keluar.
Lumayan lebar dan dalam, gumam dokter Iqbal setelah melihat luka kaki Projo.
Dari hasil tes hemoglobin A1C, gula darah Bapak masih sangat tinggi. Tensinya juga tinggi. Jadi sebelum menangani luka. Kita turunkan dulu gula darah dan tensinya. Setelah itu baru kita jadwalkan untuk pembedahan
Pembedahan! Operasi, Dok! teriak Projo kaget.
Kania yang tengah mengganti perban melirik ke Projo. Bibirnya sedikit tertarik ke belakang. ˜Orang keras kepala ini, takut juga sama operasi.™ Batin Kania
Hanya opreasi ringan, Pak. Kita lakukan debridement. Pengangkatan jaringan. Banyak jaringan yang mati disekitar luka. Itu akan kita angkat agar lukanya cepat sembuh.
Tiba-tiba pintu kamar berwarna krem terbuka setelah terdengar ketukan. Seraut wajah pucat muncul. Tangannya menenteng tas putih penuh belanjaan. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba tubuhnya oleng.
Bagas! teriak istri Projo. Ia berlari memburu tubuh Bagas.
Halaman : 1 2






