Novel : Bertahan di Atas Luka Part 29

- Penulis

Minggu, 10 November 2024 - 20:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 29

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 29

Amira Dzakiya

Sampai hari pernikahannya, Pras memang tidak pernah mengetahui isi hatiku, bagaimana perasaanku padanya. Semua aku simpan rapat-rapat.  Aku berusaha melupakannya dengan kembali fokus bekerja dan mulai menyibukkan diri dengan mendatangani kajian ustaz di masjid. Hingga akhirnya aku bertemu Mas Bayu. Pesona laki-laki berhidung mancung dengan dagu terbelah itu mampu meredam rasa cintaku yang tak sampai. Namun, tanpa kusadari, ada satu kesamaan antara Mas Bayu dan Pras: keduanya sama-sama bermata sipit.

Kini, keadaan menjadi berbeda. Rumah tanggaku yang sedang bermasalah dan Prasetya yang ditinggal Safira, seakan membuka kembali kesempatan tumbuhnya cinta yang pernah layu. Sejak bertemu di rumah Marisa, bayangan wajah Pras kembali menghantuiku, membuka kenangan lama yang terpendam. Lelaki itu tidak berubah, masih seperti dulu. Dia hanya terlihat lebih kurus, seperti saat kami bertemu di bandara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau mengikuti kata hati, ingin rasanya aku menanyakan apakah Pras masih mencintaiku, tetapi untungnya akal sehatku masih bekerja dengan baik. Aku memang pernah mencintai Prasdi masa laludan Pras pun mencintaiku.  Namun saat ini, cintaku lebih dalam kepada Mas Bayu. Walaupun pernikahan kami sedang di ujung tanduk, aku tahu Mas Bayu tetap berusaha untuk mempertahankannya.

Menjelang keberangkatannya ke Riyadh, sikap suamiku sedikit demi sedikit mulai berubah. Mas Bayu lebih banyak mengalah dan lebih perhatian. Aku tentu saja menyambut baik perubahan itu, hingga suatu malam Mas Bayu pulang dengan wajah muram.  Ia baru saja dari rumah orang tuanya.

Kenapa, Mas? Kok diam aja? Aku menyapanya dan ikut duduk di sofa ruang tamu.

Mas Bayu hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa. Terdengar helaan napas panjangnya seperti menyimpan beban yang berat.

Mas?

Mas Bayu menggenggam erat tanganku, membuat aku semakin bertanya-tanya.

Aku nggak apa-apa ¦, hanya capek aja. Tadi macet, tuturnya sambil mengembuskan napas keras.  Kutatap matanya, mencari kejujuran di sana.

Kita udah janji akan saling terbuka, kan? Mas lupa? kataku mengingatkan.

Ia menyandarkan tubuhnya dan tampak berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk bicara.

Tadi Mama tanya kabar kamu

Terus? tanyaku tak sabar.

Sabar dong, Mir!  Biar aku bicara dulu, tukas Mas Bayu gusar.

Aku diam. Mencoba menahan diri.

Mama nanya kabar kamu, terus akhirnya nanya gimana terapi hamilnya. Lelaki itu memalingkan wajahnya dariku.

Aku tersentak.  Meskipun sudah mengira kalau akan muncul pertanyaan seperti ini cepat atau lambat, aku tetap masih belum siap untuk menerima.

Lalu kamu jawab apa? balasku dengan malas.

Ya aku bilang aja apa adanya kalau selama puasa terapinya berhenti dulu. Nanti setelah lebaran akan lanjut lagi.

Berarti mereka masih mengharapkan cucu dari kamu kan? Masih belum bisa nerima kalau aku belum juga bisa hamil, ucapku getir.

Bolehkan mereka pingin cucu, Mir? Masih mengharap suatu saat kita punya anak.  Doa orang tua itu kuat, lho.

Ya boleh, Mas. Kamu pikir hanya kamu dan mereka yang ingin? Aku dan keluargaku juga, Mas! Hanya saja, kalau Allah belum memberikan, aku harus bagaimana? Suaraku mulai bergetar menahan desakan air mata.

Kita ke dokter lagi setelah lebaran ini, ya?

Aku bergeming. Tiba-tiba saja aku merasa sangat letih.  Lelah dengan cobaan yang tak kunjung selesai. Baru saja aku merasa sedikit bahagia karena Mas Bayu mulai berubah, sekarang semuanya seolah kembali ke awal lagi karena aku belum juga bisa hamil. Rasa lelah, tertekan, dan sedih membuatku ingin berteriak.

Ternyata setelah nggak kerja, aku belum juga bisa hamil, kan? Malah tambah stress karena nggak ada kegiatan! kataku jengkel.

Kamu masih nyalahin aku karena ngelarang kamu kerja? Masih belum ikhlas? tanya Mas Bayu dengan wajah merah padam.

Tiba-tiba ulu hatiku terasa sangat nyeri. Ada rasa mual yang menggigit. Aku menarik napas untuk menahan sakit yang menusuk.

Kamu kenapa, Mir? Mas Bayu tampak kaget melihatku.

Aku hanya sanggup meringis sambil menekan perut bagian atas. Air mata menetes satu-satu membasahi pipi. Air mata sakit dan kecewa yang bertumpuk menjadi satu.

Aku nggak apa-apa, bisikku lemah sambil mencoba berbaring di sofa.

Mas Bayu segera mengambil minyak gosok, obat lambung, dan air putih hangat lalu memberikan padaku. Setelah itu ia menggosok perutku dengan lembut.

Asam lambung kamu kumat, ya? tanyanya penuh perhatian.

Aku mengangguk lemah.

Gara-gara kita ngomongin soal kehamilan?

Semuanya, Mas. Masalah kita, masalah anak, semuanya!  Aku capek, Mas! jeritku tertahan.  Aku nggak tahu lagi harus gimana! Kubiarkan air mata membasahi pipi.

Tenang dulu, Mir! Kita bisa selesaikan semuanya pelan-pelan.

Makanya, aku minta cerai karena pasti orang tuamu mau kamu nikah sama perempuan yang bisa ngasih kamu anak! ucapku gusar. Entah darimana ide itu bisa muncul di benakku. Mungkin ketakutan yang bersarang di alam bawah sadar, ketakutan kalau suatu saat Mas Bayu akan meninggalkanku karena masalah ini, akhirnya muncul begitu saja ke permukaan.

Amira! Kamu ngomong apa, sih? Rahang Mas Bayu mengeras. Ia menjauhkan diri dariku.  Mama sama papaku nggak sepicik itu. Kamu jangan asal nuduh! Mata Mas Bayu berkilat tajam.

Aku terisak.

Mas Bayu masih diam. Hanya terdengar napasnya yang memburu.  Ia terlihat berusaha menenangkan diri.

Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu sedih lagi.  Suka nggak suka kita memang harus ngomongin ini, Mir! Memang ada rasa kecewa karena kita belum juga punya anak ¦, dengarkan aku dulu! sentak Mas Bayu ketika melihat aku akan menjawab.

Aku rasa wajar kan kalau aku marah? Kamu juga pasti sedih dan marah karena masalah ini. Kita sudah delapan tahun nikah, tapi Allah belum memberikan kesempatan kita untuk punya anak. Bukan salah kamu. Nggak ada yang nyalahin kamu, Mir! Siapa tahu memang aku yang bermasalah. Masalah kita memang cukup banyak, tapi bukan berarti kita harus nyerah dan kamu minta cerai.  Kita masih bisa selesaikan semuanya. Suara Mas Bayu berubah lembut.

Ia menoleh dan menatapku.

Kamu mau kan mengurungkan niatmu untuk berpisah? tanyanya memohon. Aku nggak akan menceraikanmu hanya karena masalah anak.  Dan orang tuaku pun tidak akan memaksaku untuk menikah lagi. Iya kalau istri baruku nanti bisa hamil, kalau nggak, berarti kan aku yang bermasalah.

Allah telah memberikan istri yang salihah dan sangat mencintaiku, aku akan menjaganya sampai maut memisahkan. Soal keturunan, kita akan tetap berusaha dan berdoa, kalau pun nanti masih tidak berhasil juga, kita bisa adopsi, lanjut Mas Bayu tegas.

Aku tertegun sejenak, lupa pada rasa sakitku. Perlahan kucoba duduk dengan bersandar di kursi.  Rasa mual dan melilit sudah agak mereda. Aku masih tidak percaya apa yang kudengar barusan.  Seorang Bayu Ramadhan, mau mengalah dan berbicara terbuka. Sungguh sebuah kemajuan pesat! Jujur, aku sangat bersyukur melihat perubahan Mas Bayu, tapi sekali lagi, masih ada rasa ragu kalau semua ini hanya sementara saja.

Kamu sungguh-sungguh dengan kata-katamu, Mas? tanyaku ragu.  Lalu kenapa selama ini kamu seolah-olah tidak butuh aku? Selalu memutuskan apa-apa sendiri tanpa mengajakku berembuk? Juga kata-kata yang menyakitkan dan menganggapku berlebihan? Aku tak kuasa menahan diri untuk bertanya.

Mas Bayu bergeming.

Aku capek, Mir! Mau mandi dulu. Kamu udah makan? Mau makan di luar? tanyanya mengalihkan perhatian.

Aku mengembuskan napas dengan keras. Mulai lagi. Mas Bayu mulai menutup diri lagi. Ia berdiri dan pergi meninggalkanku dalam kebingungan.

-bersambung-

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru