Bayu Ramadhan
Keesokan harinya kami tiba di rumah Depok pukul 05.00 sore. Begitu tiba, Amira langsung menyiapkan hidangan buka puasa yang kami beli di jalan, sementara aku membersihkan semua ruangan rumah. Biasanya ada penjaga yang secara teratur membersihkan rumah kami bila tidak ada orang yang mengontrak. Namun, sudah dua hari ini, Pak Aminpenjaga rumah
tidak datang karena istrinya sedang sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tepat beberapa menit sebelum azan Magrib, kami sudah siap di ruang makan untuk berbuka. Selesai menyantap hidangan, kami salat Magrib berjamaah di rumah dan bergegas ke masjid untuk salat tarawih.
Memang Ustaz Faruq ngasih materi kajian apa? tanya Amira ketika kami sedang bersantai di ruang keluarga sepulang dari masjid.
Soal pernikahan. Soal menjaga kemesraan dalam rumah tangga antara suami dan istri, jawabku sambil mengambil sisa camilan sore tadi.
Terus? Amira menyesap teh hangatnya, Apa intinya?
Aku menelan potongan terakhir pisang goreng lalu meneguk air putih sebelum menjawab. Kulihat raut penasaran di wajahnya.
Sebelum aku jawab, kamu cerita dulu kenapa minta pisah? Aku menatap lekat wajah Amira.
Ia terlihat kaget, tetapi dengan cepat berusaha mengendalikan diri. Wajahnya mendadak muram. Amira berusaha mengatur napasnya.
Apa kamu sama sekali nggak sadar kenapa aku minta pisah? tanyanya lirih.
Kalau aku tahu, masa aku nanya terus, Mir?
Amira diam sejenak sebelum menjawab.
Janji nggak akan motong omonganku nanti? Mata bulatnya memandangku penuh harap.
Cepat aku mengangguk.
Sebenarnya aku bahagia banget, Mas, bisa nikah sama kamu. Yah, meskipun kita nggak sempat pacaran karena memang nggak boleh, tapi aku merasa nyaman. Kali ini mata bulat Amira berbinar ceria. Semakin hari aku semakin jatuh cinta karena kesabaran kamu. Memang, beberapa kali kata-katamu menyakiti hatiku, tapi aku menganggap itu hanya masalah komunikasi aja yang nggak perlu dibesar-besarkan.
Amira menerawang.
Ingin rasanya bertanya, kata-kata mana yang pernah menyakitinya. Namun, aku menahan diri karena sudah berjanji untuk mendengarkan.
Tahun demi tahun berlalu, kamu semakin sering menyakitiku. Mungkin kamu nggak sadar kalau sudah membuatku kecewa,
Kapan itu, Mir? Yang mana? ucapku memotong. Aku tak kuasa menahan diri.
Mas! Amira menegur.
Aku terdiam.
Mas ingat nggak, waktu kamu janji mau ngajak aku jalan-jalan, nggak tahunya kamu pulang malam karena ada rapat mendadak. Bagi kamu mungkin itu bukan masalah besar, tapi bagiku itu sangat membekas. Saat itu aku bahkan sudah izin pulang lebih awal dari kantor karena sekedar ingin berdandan supaya tampak cantik di matamu. Suara Amira mulai serak dan terbata-bata, menahan kepedihan.
Sungguh, aku tidak menyangka kalau malam itu Amira merasa sangat kecewa.
Kenapa kamu nggak langsung ngomong? Harusnya kamu marah sama aku, jadi aku tahu kalau salah. Aku jadi tahu kalau kamu sekecewa itu. Kenapa diam aja, Mir? potongku tak puas. Aku memang harus rapat mendadak. Masa iya harus ninggalin rapat cuman untuk jalan-jalan? lanjutku. Lagipula baru sekali itu kan aku batalin janji?
Nah, itu. Aku tahu kamu bakal jawab kayak gitu, makanya aku males ngomong. Percuma! Aku nggak mau dianggap berlebihan. Kamu selalu bilang, bisa pergi lain waktu. Suara Amira mulai meninggi. Nggak cuman sekali, Mas. Kamu sering tiba-tiba bilang nggak jadi pergi hanya karena capek baru pulang kantor, lanjutnya keras.
Kubiarkan ia mengeluarkan unek-uneknya yang terpendam selama ini. Tuhan, jadi ini salah satu kekecewaan yang mendalam di hati Amira.
Masih mau dengerin aku? Amira menyeka air matanya.
Aku mengiyakan.
Waktu kamu nggak ada kabar seharian karena ponsel ketinggalan, itu juga membuatku merasa tersiksa. Aku hanya ingin tahu bahwa kamu baik-baik saja …, tapi kamu malah marah dan menganggap aku berlebihan. Amira mulai terisak pelan.
Aku hanya butuh kamu jawab sebentar kalau kamu di kantor, itu sudah membuatku tenang, tapi kamu malah merasa terkekang.
Iya. Aku hanya nggak abis pikir aja, Mir. Masak setiap hari kamu harus selalu ngecek aku di mana? Kalau lupa kasih kabar gimana? Aku menghela napas, mencoba bersabar. Inikah yang dimaksud oleh Ustaz Faruq dan Pak Farhan? Perempuan memang susah dimengerti.
Itu makanya aku yang ngingetin dengan kirim pesan, nanya kamu di mana. Salah, ya, kalau aku ingin meyakinkan Mas itu baik-baik aja? Ia mengulang kembali alasannya.
Amira, kamu juga harus ngerti kalau aku itu bukan tipe laki-laki yang telaten nerima pesan dan ngasih kabar. Ok, aku bisa ngerti alasan kamu, tapi pernah nggak sih kamu itu pasrah sama Allah? Aku udah pernah bilang, doa aja supaya aku selamat di mana pun aku berada. Allah itu sebaik-baik penjaga, Sayang, ujarku perlahan, khawatir membuatnya makin terluka.
Perempuan itu bergeming.
Kalau kamu sering overthinking kayak gitu, selalu cemas dan takut, malah bikin kamu sakit. Semua di dunia itu milik Allah, aku dan kamu itu hanya titipan, Mir. Suatu saat, kalau pemiliknya minta, ya kita harus ikhlas.
Mata Amira memandangku penuh luka.
Jadi aku lagi yang salah? bisiknya lirih.
Aku terhenyak. Bergegas kuraih tubuhnya ke dalam pelukan.
Aku nggak bilang kamu salah, Mir. Aku yang banyak salah, hanya saja, tolong kamu juga jangan terlalu ketakutan kayak gini.
Amira masih diam.
Baiklah ¦, ujarku meraih wajahnya agar menghadapku, mulai sekarang aku akan berusaha untuk mengikuti keinginan kamu. Kalau nanti aku pergi, aku akan kasih kabar. Gimana?
Sekejap, ada setitik binar di matanya. Ia mengangkat sedikit ujung bibir dan menundukkan kepala.
Mau lanjut apa istirahat dulu? tanyaku.
Aku capek, Mas. Mau tidur aja. Kamu udah tahu sedikit alasanku, kan? Kita lanjut besok, ya? Kalau kamu nggak marah-marah, aku bisa lancar ngomongnya. Kenapa nggak dari dulu kamu bisa nahan diri kayak tadi? Amira melepaskan pelukanku dan berjalan menuju meja rias. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 lewat.
Aku menahan senyum. ˜Andai kamu tahu, gimana beratnya tadi aku harus menahan diri untuk bersabar mendengar keluh kesahmu, Mir,™ batinku.
Namun, tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu.
Satu lagi, kamu juga selalu memutuskan apa-apa sendiri, tanpa mengajakku bicara, ujarnya menatapku dari pantulan cermin.
Aku terperanjat.
Ya Allah, yang mana, Mir? Saat aku beli sepeda?
Amira mengangguk.
Itu baru satu contoh, Mas. Kadang aku jadi merasa nggak dibutuhkan. Aku istrimu, tapi untuk beberapa hal, sepertinya kamu lebih nyaman nggak ngelibatin aku, imbuhnya.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Sesungguhnya, aku bingung mendengar Amira bicara. Selama ini aku tidak pernah berpikir kalau perbuatan dan kata-kataku telah menyakitinya. Aku menganggap itu hal biasa. Ternyata delapan tahun pernikahan belum bisa membuat aku mengerti Amira.
Sayang, boleh aku bicara? tanyaku lembut sambil berusaha menekan rasa jengkel yang mulai hadir.
Melihat Amira diam, aku melanjutkan, Aku minta maaf kalau selama ini ternyata kamu merasa tersakiti. Tapi percayalah, aku nggak bermaksud seperti itu. Soal beli sepeda, aku hanya melihat dari segi efisiensi waktu aja. Waktu itu pas ada diskon dan aku memang lagi butuh, makanya langsung beli. Toh, nanti di rumah aku akan bilang ke kamu.
Iya, tapi pake ngomong kalau itu uang tabunganmu sendiri, jadi boleh kamu pake semaunya, sambar Amira ketus.
Lho, apa salah aku ngomong? Memang itu pake uang tabunganku. Aku kasih tahu supaya kamu nggak salah paham dan mengira aku pake uang belanja atau bulanan jatahmu untuk hal yang kurang penting. Salah, ya?
Amira cemberut.
Nah, sama kan kayak masalah sebelumnya. Kamu selalu menganggap hal biasa, sementara bagiku sebaliknya, gerutunya.
Aku menarik napas dan mengembuskannya keras. Kelihatannya malam ini aku bakal tidur di sofa karena Amira mulai mengambil bantal dan selimut lalu meletakkannya di sofa besar yang ada di seberang tempat tidur.
Serius, Mir?
-bersambung-
Cerita sebelumnya : https://www.redaksiku.com/bertahandiatasluka22-yasmira/






