Redaksiku.com – Patung macan putih Kediri mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial sejak video penampakannya tersebar akhir pekan lalu. Patung yang baru diresmikan di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu menuai beragam reaksi karena bentuknya dianggap tidak lazim dibandingkan sosok macan putih pada umumnya.
Video singkat yang diunggah akun TikTok @seputar_kediri memperlihatkan patung bercorak hitam putih dengan tubuh gemuk dan proporsi wajah yang dinilai janggal oleh warganet. Sejak saat itu, patung macan putih Kediri viral dan menjadi bahan diskusi, candaan, hingga kritik di berbagai platform media sosial.
Fenomena viral ini tak hanya memicu komentar soal estetika, tetapi juga memunculkan pertanyaan publik mengenai latar belakang pembuatannya, filosofi di balik desain patung, hingga sumber pendanaan yang digunakan dalam pembangunan ikon desa tersebut.
Patung Macan Putih Kediri Viral Usai Video Beredar
Patung macan putih Kediri viral setelah rekaman visualnya memperlihatkan detail patung yang dinilai berbeda dari ekspektasi publik. Dalam video yang beredar, terlihat patung berwarna dominan putih dengan corak hitam, berdiri di atas alas permanen di ruang terbuka desa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Alih-alih tampak gagah seperti macan putih dalam imajinasi masyarakat, patung tersebut justru dianggap memiliki tubuh terlalu gemuk, kaki pendek, dan wajah yang sulit dikenali. Beberapa warganet bahkan menyebut patung itu lebih menyerupai badak, zebra, kudanil, hingga capybara.
Komentar tersebut terus bermunculan dan membuat unggahan video mendapat ribuan interaksi. Tak sedikit pula yang membagikan ulang video tersebut, sehingga penyebaran patung macan putih Kediri viral semakin meluas ke luar wilayah Jawa Timur.
Asal-usul Patung dari Legenda Desa Balongjeruk
Di balik ramainya perbincangan soal bentuk, patung macan putih Kediri sebenarnya memiliki latar belakang budaya yang kuat. Kepala Desa Balongjeruk, Safii, menjelaskan bahwa patung tersebut dibuat berdasarkan legenda yang hidup secara turun-temurun di tengah masyarakat desa.
Menurut cerita para sesepuh, macan putih dipercaya sebagai danyang atau penjaga gaib Desa Balongjeruk sejak zaman dahulu. Hewan ini diyakini sebagai simbol yang membabat atau membuka wilayah desa pada masa lampau.
Legenda tersebut kerap diceritakan oleh tokoh agama dan masyarakat setempat, salah satunya Mbah Maskam. Bahkan, kepala desa periode tahun 1998 juga disebut pernah mengaku melihat penampakan macan putih. Dari cerita inilah muncul kesepakatan warga untuk mengangkat macan putih sebagai ikon desa melalui sebuah patung.
Musyawarah Desa Jadi Awal Pembuatan Ikon
Safii menegaskan bahwa pembuatan patung macan putih Kediri bukan keputusan sepihak. Inisiatif ini lahir dari musyawarah desa yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perangkat desa.
Dalam forum tersebut, warga sepakat menghadirkan ikon visual yang merepresentasikan identitas lokal Balongjeruk. Patung macan putih dipilih sebagai simbol sejarah, kepercayaan, dan nilai budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Namun, Safii mengakui bahwa hasil akhir patung tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi publik. Meski demikian, niat awal pembangunan patung tersebut semata-mata untuk memperkuat identitas desa, bukan untuk memancing kontroversi.
Dana Patung Macan Putih Kediri Jadi Sorotan
Seiring patung macan putih Kediri viral, muncul pula pertanyaan soal sumber anggaran pembangunan patung tersebut. Banyak warganet berspekulasi bahwa patung itu dibangun menggunakan dana desa atau anggaran pemerintah.
Menanggapi hal tersebut, Safii dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada dana desa yang digunakan sama sekali. Seluruh biaya pembuatan patung berasal dari dana pribadi kepala desa.
Total anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp3,5 juta. Rinciannya, sekitar Rp2 juta digunakan untuk upah pemborong sekaligus pembuatan alas patung, sementara Rp1,5 juta dialokasikan untuk pembelian material. Klarifikasi ini disampaikan untuk meredam simpang siur informasi yang beredar di media sosial.
Respons Kepala Desa terhadap Kritik Publik
Merespons ramainya kritik akibat patung macan putih Kediri viral, Safii memilih bersikap terbuka. Ia mengakui bahwa kehadiran patung tersebut memicu kegaduhan di ruang publik dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
Safii menegaskan bahwa kritik dan saran yang masuk akan dijadikan bahan evaluasi. Ia memahami bahwa ikon desa tidak hanya dinikmati warga lokal, tetapi juga dilihat oleh publik luas, sehingga aspek visual menjadi penting.
Sikap terbuka ini mendapat respons beragam. Sebagian warganet mengapresiasi keterbukaan kepala desa, sementara yang lain tetap menantikan langkah konkret terkait perbaikan ikon tersebut.
Patung Pengganti Sudah Dipesan ke Perajin Lokal
Sebagai tindak lanjut, Safii memastikan bahwa patung macan putih yang baru telah dipesan dari perajin di wilayah Ngadiluwih. Patung pengganti tersebut akan memiliki ukuran yang sama, yakni panjang 1,5 meter dan tinggi 1 meter, namun dengan desain yang lebih menyerupai karakter macan putih sesungguhnya.
Langkah ini diambil agar patung macan putih Kediri benar-benar mencerminkan simbol yang diharapkan warga desa. Pemerintah desa juga membuka diri terhadap arahan dari Pemerintah Kabupaten Kediri, khususnya dalam penguatan nilai sejarah dan estetika ikon desa.
Safii berharap, patung pengganti nantinya dapat diterima dengan lebih baik dan menjadi kebanggaan warga Balongjeruk tanpa kembali menimbulkan kontroversi.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels.






