Penjelasan Manajemen Djarum Soal Isu Dana Rp24,9 T ke Luar Negeri

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 17:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Manajemen Djarum — Logo Djarum dan suasana kantor pusat perusahaan yang menjadi sorotan terkait isu aliran dana ke luar negeri.

Manajemen Djarum memberikan penjelasan mengenai isu aliran dana Rp24,9 triliun ke luar negeri.

Redaksiku.com – Kabar mengenai dugaan pengalihan dana jumbo oleh keluarga Hartono, pemilik konglomerasi Grup Djarum, belakangan ini menyita perhatian publik. Laporan yang mencuat pada awal September 2026 menyebutkan adanya aliran dana sekitar US$ 1,4 miliar atau setara dengan Rp 24,9 triliun ke luar negeri, yang memicu spekulasi mengenai motif di balik langkah tersebut di tengah situasi ekonomi nasional yang dinamis.

Isu ini pertama kali mencuat setelah media internasional Bloomberg merilis laporan mengenai aktivitas investasi keluarga Hartono di berbagai negara. Data tersebut menyoroti serangkaian akuisisi dan penanaman modal yang dilakukan melalui entitas-entitas yang terafiliasi dengan keluarga terkaya di Indonesia tersebut, yang kemudian memunculkan pertanyaan apakah langkah ini merupakan bentuk pelarian modal atau sekadar ekspansi bisnis biasa.

Keluarga Hartono melalui berbagai entitas yang terafiliasi di Singapura dan London tercatat telah menanamkan modal setidaknya US$ 1,4 miliar untuk memperluas portofolio bisnis mereka di pasar global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Klarifikasi Internal Grup Djarum

Menanggapi riuhnya pemberitaan tersebut, pihak Grup Djarum akhirnya buka suara untuk meluruskan narasi yang berkembang. Budi Darmawan, selaku Corporate Communications Manager PT Djarum, menegaskan bahwa komitmen keluarga Hartono untuk terus berinvestasi di dalam negeri tidak pernah surut. Menurutnya, mayoritas aset dan fokus operasional konglomerasi ini masih terkonsentrasi kuat di Indonesia.

Budi menjelaskan bahwa sebesar 90% dari total investasi yang dikelola oleh keluarga Hartono saat ini berada di dalam negeri. Ia menepis anggapan bahwa aksi korporasi di luar negeri merupakan upaya pemindahan dana secara besar-besaran. Sebaliknya, Budi menekankan bahwa langkah tersebut murni merupakan strategi pengembangan bisnis untuk memperkuat daya saing perusahaan di tingkat internasional.

Salah satu poin yang ditekankan adalah mengenai sumber pendanaan untuk akuisisi aset di luar negeri, seperti pembelian produsen kertas rokok asal Austria. Budi menyebutkan bahwa aksi tersebut didanai melalui skema kredit asing dan pembiayaan modal dari institusi luar, bukan dengan menguras cadangan modal yang ada di Indonesia.

“Di kertas itu pun menggunakan pembiayaan asing, pembiayaan dapat pinjaman, bukan dari capital flow.”

— Budi Darmawan

Strategi Ekspansi dan Diversifikasi Aset

Dalam catatannya, Bloomberg merinci bahwa aktivitas investasi ini terlihat intensif sejak akhir 2023. Salah satu langkah signifikan yang tercatat adalah ketika Evergreen Hill Enterprise Pte, entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono, mengucurkan dana sebesar US$ 669 juta untuk bisnis kertas khusus di Amerika Serikat. Setahun berselang, perusahaan tersebut kembali mengakuisisi produsen kertas rokok di Austria dengan nilai sekitar 360 juta Euro atau setara dengan US$ 418 juta.

Budi Darmawan menegaskan bahwa langkah-langkah ini hanyalah bagian dari upaya perusahaan untuk tumbuh secara global. Baginya, perputaran dana antarnegara untuk mengakuisisi aset strategis adalah hal yang lumrah dilakukan oleh perusahaan berskala besar agar tidak hanya bergantung pada pasar domestik.

  • Grup Djarum menegaskan 90% investasi mereka tetap berada di Indonesia.
  • Akuisisi aset luar negeri menggunakan skema pendanaan kredit asing, bukan memindahkan modal dari Indonesia.
  • Aksi korporasi dinilai sebagai langkah strategis pengembangan bisnis, bukan terkait situasi politik.

Ia juga menampik adanya kaitan antara aksi investasi ini dengan situasi politik dalam negeri atau pergantian pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Menurut pihak Djarum, bisnis harus tetap berjalan dan terus berkembang tanpa terpengaruh oleh dinamika politik jangka pendek. Fokus utamanya tetap pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, baik melalui sektor perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) maupun industri pendukung lainnya.

Dalam menilai sebuah aksi korporasi besar, penting untuk membedakan antara strategi ekspansi bisnis global yang menggunakan leverage kredit dengan perpindahan modal (capital flight) yang bersifat keluar dari sistem ekonomi negara asal.

Keluarga Hartono memposisikan diri sebagai pelaku bisnis yang ingin terus berkontribusi bagi Indonesia. Dengan tetap menjaga basis operasional yang kuat di tanah air, mereka percaya bahwa ekspansi internasional justru akan memberikan nilai tambah bagi ekosistem bisnis mereka secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional.

Informasi mengenai angka US$ 1,4 miliar merupakan akumulasi dari berbagai entitas investasi yang terafiliasi dengan keluarga Hartono, bukan merupakan satu transaksi tunggal yang dilakukan secara mendadak.

Pertanyaan Umum

Apakah aksi investasi keluarga Hartono ini berbahaya bagi ekonomi Indonesia?

Pihak Grup Djarum menyatakan bahwa investasi tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis global yang didanai oleh kredit asing. Oleh karena itu, langkah ini tidak dianggap sebagai pelarian modal yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi domestik, mengingat mayoritas aset mereka tetap berada di Indonesia.

Mengapa investasi dilakukan di luar negeri jika bisnis di dalam negeri sedang berjalan baik?

Diversifikasi aset ke luar negeri dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar dan mendapatkan teknologi atau aset strategis yang tidak tersedia di dalam negeri. Hal ini dilakukan agar perusahaan tetap kompetitif di pasar global, yang pada akhirnya memperkuat posisi keuangan perusahaan induk secara keseluruhan.

Bagaimana pengaruh kondisi politik terhadap keputusan bisnis Grup Djarum?

Manajemen menegaskan bahwa aksi korporasi mereka tidak dipengaruhi oleh situasi politik atau siapa pun yang memimpin negara. Mereka menekankan komitmen untuk terus beroperasi dan berkontribusi pada ekonomi nasional tanpa memandang dinamika politik yang terjadi.

Ringkasan

Grup Djarum membantah isu pelarian modal dan menegaskan bahwa aliran dana Rp24,9 triliun ke luar negeri murni merupakan strategi ekspansi bisnis global. Investasi tersebut didanai melalui kredit asing, bukan memindahkan modal domestik, dengan 90% aset keluarga Hartono tetap berada di Indonesia.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bappenas: Indonesia Harus Tinggalkan Model Pertumbuhan Upah Murah
Minat Investor SR025: Mengapa Tenor Pendek Lebih Diminati?
Indika Energy Dirikan PT Kalista Mobilitas, Garap Bisnis Kendaraan
Morgan Stanley Borong Saham GOTO, Kepemilikan Naik Jadi 7,59%
Haji Isam Dikabarkan Akuisisi 62% Saham Bayan Resources (BYAN)
Bank Mandiri Bagikan Dividen Interim Rp6,16 Triliun untuk Pemegang Saham
Ekspansi Data Center DSSA Sinar Mas Capai 1 GW, Dorong Pertumbuhan
OJK Segera Terbitkan Aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 17:36 WIB

Bappenas: Indonesia Harus Tinggalkan Model Pertumbuhan Upah Murah

Rabu, 9 September 2026 - 17:26 WIB

Minat Investor SR025: Mengapa Tenor Pendek Lebih Diminati?

Rabu, 9 September 2026 - 17:21 WIB

Indika Energy Dirikan PT Kalista Mobilitas, Garap Bisnis Kendaraan

Rabu, 9 September 2026 - 17:16 WIB

Penjelasan Manajemen Djarum Soal Isu Dana Rp24,9 T ke Luar Negeri

Rabu, 9 September 2026 - 17:08 WIB

Morgan Stanley Borong Saham GOTO, Kepemilikan Naik Jadi 7,59%

Berita Terbaru

Investor menunjukkan antusiasme tinggi terhadap SR025 dengan tenor tiga tahun dibandingkan tenor lima tahun.

Keuangan

Minat Investor SR025: Mengapa Tenor Pendek Lebih Diminati?

Rabu, 9 Sep 2026 - 17:26 WIB