Novel : Room for Two Bab 13: Berita yang Bikin Bencana

- Penulis

Jumat, 15 November 2024 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Room for Two Bab 13 Karya Bumban Dafnah

Room for Two Bab 13 Karya Bumban Dafnah

Novel : Room for Two Bab 13: Berita yang Bikin Bencana

Room for Two Bab 13 Karya Bumban Dafnah
Room for Two Bab 13 Karya Bumban Dafnah

Alston merebut laptopku lalu mengetik secepat jarinya bisa menari di atas kibor. Ia, yang katanya sangat murka ketika tahu Reivan menamparku, menumpahkan kemarahannya itu dengan menulis artikel di CMS. Entah apa yang ia tulis di sana, aku sedang tidak mampu memperhatikan.

Sakit aku Bee. Udah nampar aku, terus dia seenaknya mau nyerein aku. Harusnya aku! Harusnya aku yang harusnya ngajuin gugatan cerai duluan.

Air mataku tumpah lagi. Tak bisa kubayangkan jika nanti Papa dan Mama membaca berkas gugatan perceraian yang diajukan Reivan. Aku juga tidak berani membayangkan reaksi mereka setelah membaca hal-hal apa saja yang membuat Reivan memutuskan berpisah denganku, bagaimana kalau salah satunya adalah karena aku dianggap telah berselingkuh?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku mau mati aja rasanya!

Shh! Shh! Shh!

Alston memelukku lalu membungkus tubuhku menggunakan tubuhnya. 

Maaf ¦ ini gara-gara aku. Gara-gara aku kamu harus mengalami semua hal buruk ini. Seharusnya waktu itu kita udahan aja

Kamu jangan gitu, dong, Bee! Kudorong pundak Alston. Kesal sekali rasanya mendengar kata-kata semacam itu keluar dari mulutnya. Setelah semua yang kukorbankan buat kamu, harusnya kamu jangan nyerah sama aku!

Maaf

Aku enggak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Bee! Aku harus ke mana kalau kamu ninggalin aku juga? Please, jangan tinggalin aku. Seandainya Reivan bener nyerein aku, terus Papa sama Mama nyoret aku dari kartu keluarga, please, kamu harus bawa aku. Aku enggak peduli lagi.

Alston tidak membalas kata-kataku. Ia hanya sibuk mengusap air mataku dan mengecup kening serta kepalaku.

Kamu harus janji, Bee. Jangan tinggalin aku. Janji, Bee!

Aku janji.

Malam itu, di tempat yang sama, di kasur yang sama, dan bersama orang yang sama pula, kupu-kupu kembali beterbangan memenuhi tiap rongga tubuhku. Tidak ada gelenyar istimewa seperti sebelumnya, yang kurasakan saat itu hanyalah nyeri yang berganti-ganti dan bertubi-tubi, yang terus-menerus mendera tubuh dan pikiranku. Namun, melihat Alston terlelap di sebelahku dengan sebelah tangannya menggenggam tanganku, aku tahu aku akan baik-baik saja.

***

 

Akan tetapi, keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Pagi hari setelah malam itu, aku harus menjalani hari dengan perasaan jauh lebih buruk dibanding sebelumnya. 

Ibuku anfal, kata Alston. Aku harus pulang.

Sekarang? Hari ini banget?

Alston mengangguk. Wajahnya murung. 

Tidak-tidak-tidak. Aku tidak bisa ditinggal sendirian. Aku tidak mau. Aku harus ikut. Aku harus kabur bersama Alston. Aku sudah tenggelam, hanya Alston yang bisa menjadi pelampungku. 

Aku ikut.

Gerakan tangan Alston yang sedang merapikan pakaian langsung terhenti. Ia menatapku dengan pandangan mengiba. Maaf, tapi aku enggak bisa bawa kamu ke sana, Hun. Ibuku sakit, sekarang bukan saat yang tepat untukmu berkunjung.

Aku enggak akan ganggu kamu dan keluargamu di sana, Bee, aku cuma mau ada di deket kamu. Siapa tahu aku juga bisa bantu kamu.

Alston mendatangiku lalu memegang kedua bahuku. Hun, kamu enggak bisa ikut. Percaya, deh, aku tahu keluargaku. Aku enggak mau kamu malah terbebani sementara kamu juga lagi banyak masalah di sini.

Tapi setengah masalahku ilang kalau ada kamu, Bee. Aku enggak mau sendirian!

Kamu boleh stay di sini selama yang kamu mau. Tunggu aku, nanti aku balik lagi. Sekarang tolong bantu aku, ya, aku mau siap-siap dulu. Aku harus ke sana dengan keberangkatan tercepat.

Kubiarkan Alston melakukan persiapan. Ia membereskan semua pakaiannya, seakan-akan tidak akan pernah datang lagi ke sisiku. Namun, tiap kali aku menyuarakan kekhawatiran itu, Alston selalu meyakinkanku bahwa kepergiannya hanya sementara. Dan aku ¦ aku tidak punya pilihan lain selain mempercayainya.

Sambil membantu Alston melakukan persiapan, beberapa panggilan telepon terus-menerus masuk ke ponselku. Dari Mama, dari Bu Nawang, dari Bu Lia, dari Mbak Monic, tapi tidak ada dari Reivan. Aku benar-benar tidak mau tahu apa yang membuat mereka menghubungiku secara bersamaan, aku juga tidak berani mencari tahu meski mereka mengirimiku pesan berkali-kali. Karenanya, kusetel saja ponsel itu dalam mode hening. Dengan demikian aku tidak perlu merasa bersalah karena tidak menerima panggilan-panggilan itu, atau tidak membaca pesan-pesan yang mereka kirimkan.

Nanti kamu harus rajin-rajin telepon aku, ya?

Alston mengangguk. Tiga kali sehari, biar kayak minum obat, katanya. Atau kalau belum cukup, sehari sepuluh kali, sampai telinga kita sama-sama panas karena kebanyakan ngobrol di telepon.

Janji, ya?

Janji, Hun.

Menaiki mobil yang kukendarai, aku mengantar Alston menuju pool shuttle yang akan membawanya ke Jakarta. Dari sana nanti Alston akan menaiki pesawat dengan tujuan Balikpapan. 

Di saat-saat menunggu itu, meski Alston terus membelai tanganku dan kadang mengecupnya, suasana hatiku tetap buruk dan tidak membaik sama sekali sekali. Aku masih marah karena perlakuan Reivan, aku tambah marah karena Alston harus terbang ke Balikpapan. Aku merasa Tuhan dan seisi alam semesta sedang berkonspirasi melakukan hal-hal buruk kepadaku. 

Kabari aku begitu kamu sampai di Balikpapan, ya. Kabari aku kondisi ibumu, Bee. Jangan ngilang.

Alston mengangguk. Jaga diri baik-baik, ya, Hun.

Hari itu, rasanya jemariku berat sekali melepas genggaman tangan Alston.

***

 

Setelah memaksakan diri memakan makanan pertama yang terpikir untuk kutelan, akhirnya aku kembali ke kamar kos Alston. Kamar itu terasa lebih kosong dan lebih hening tanpa dirinya. Aku masih bisa menghidu aroma parfumnya, aku masih bisa melihat bayangan dan gerak-geriknya, tetapi aku tidak bisa ada di dekatnya.

Ketika sadar bahwa pikiranku berlebihandemi Tuhan, Hana, Alston hanya mudik menjenguk ibunya, bukan mati dan takkan kembali lagi!aku segera mengendalikan diri. Kunyalakan teve lalu kuperiksa notifikasi di ponsel. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan Whatsapp yang tak terbalas. Aku segera membuka pesan teratas, dari Mbak Monic.

Dari empat puluhan pesan yang dikirimkan Mbak Monic kepadaku, ada sekitar sepuluh yang isinya menanyakan posisiku. Namun, dua pesan terakhirlah yang kemudian membuat jantungku hampir copot: Lu nulis apaan di CMS? dan Hana, lu di mana, sih? Bokap lu masuk rumkit!.

Setelah itu, barulah kubaca pesan-pesan di bawahnya. Semua isinya serupa meski tak sama. Mereka menanyakan keberadaanku sekaligus memberi tahu bahwa sejak pagi, Papa masuk rumah sakit karena serangan jantung.

Papa masuk rumah sakit. Sejak pagi. Kena kerangan jantung. 

Informasi itu berputar-putar di kepalaku seperti bulan dan bumi yang mengelilingi matahari. Rasanya sulit sekali mencerna kabar itu. Papa? Masuk rumah sakit? Sejak pagi? Kok, aku baru tahu? Oh, tadi pagi, kan, aku sibuk ngurusin Alston. Bisa-bisanya aku sibuk nganterin Alston saat Papa dibawa ke rumah sakit ¦.

Aku tidak berpikir lagi. Langsung saja kurapikan barang-barangku lalu kukendarai mobil secepat yang bisa kubawa menuju sebuah rumah sakit swasta di daerah Dago. Aplikasi Maps memperkirakan perjalananku ke sana akan memakan waktu 40 menit, untunglah aku bisa memangkasnya kurang lebih menjadi 25 menit saja.

Begitu tiba di rumah sakit, aku langsung berlari menuju kamar tempat Papa mendapat perawatan. Karena sebelumnya Mama, Bu Nawang, dan Mbak Monic sudah mengabari ruang rawat Papa, aku jadi tidak perlu lagi banyak bertanya atau mencari-cari informasi. 

Gimana keadaan Papa?

Aku menerobos ke kamar rawat Papa dan terkejut karena selain Mama, Bu Nawang, dan Mbak Monic, ada Bang Hadi dan Reivan juga di sana. Mimik wajah Bang Hadi terlihat kusut sementara muka Reivan tampak bengkak sebelah, seperti baru saja kena bogem mentah.

Hana, kamu enggak apa-apa, Nak?

Tiba-tiba saja Mama dan Bu Nawang menghampiriku secara bersamaan. Mama memelukku sementara Bu Nawang memeriksa anggota tubuhku satu per satu. 

Eh, memang Hana kenapa? Kan, Papa yang sakit? Aku berusaha menyingkirkan lengan-lengan yang menyentuh dan merabai tubuhku. 

Papa sakit gara-gara kamu, celetuk Bang Hadi.

Gimana maksudnya Papa sakit gara-gara Hana? Emangnya Hana ngapain Papa?

Sepertinya Mbak Monic menjawab pertanyaanku, tapi aku tidak sempat mendengarnya karena Bang Hadi menarikku keluar dari kamar rawat. Jalannya cepat sekali sampai-sampai aku harus berlari-lari kecil untuk menyamai langkahnya.

Ayo kita visum.

Aku benar-benar tidak mengerti. Visum kenapa, Bang? Buat apa? Memangnya Hana kenapa?

Udah enggak usah ngebelain orang itu lagi. Kamu dipukulin Reivan, kan?

Hah? 

Aku ingin mengiyakan pertanyaan Bang Hadi, tetapi pertanyaannya itu tidak tepat. Kemarin aku memang dipukul Reivan, tapi bukan dipukuli. Ada makna tindakan yang berulang dalam kata dipukuli, tidak benar rasanya jika aku harus membenarkan hal itu.

Enggak, Bang.

Tapi Abang baca beritanya kalau kamu dipukulin sama dia. Papa juga masuk rumah sakit karena kaget baca berita itu.

Serta-merta potongan puzzle di kepalaku saling bersatu menjadi rangkaian gambar yang utuh. Berita yang dituliskan Alston, tamparan Reivan, pertanyaan Mbak Monic, lebam di wajah Reivan ¦ semua pasti ada hubungannya.

Abang pukul Reivan, ya? Aku malah balik bertanya, takut sendiri mendengar jawaban dari mulut Bang Hadi.

Harusnya dia dapat lebih dari itu. Harusnya Abang bikin dia babak belur sekalian, berani-beraninya dia main kasar sama perempuan.

Gawat-gawat-gawat! Berita apa yang sebetulnya ditulis Alston? Kenapa bisa jadi serepot itu urusannya sampai-sampai Reivan pun kena getahnya? []

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Pendidikan

5 Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:50 WIB

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Hiburan

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:34 WIB