Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 13)

- Penulis

Kamis, 21 November 2024 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 9)

 

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 11)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 13)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 13)

“Mas lagi nunggu siapa, sih? Kayaknya serius banget.” Kirei memasang wajah cemberut karena Attala lebih memerhatikan ponsel di tangan dari pada dirinya.

“Sebentar lagi Mama datang. Beliau akan ke sini menemani kamu selagi aku bekerja.” Attala mengalihkan pandangan pada Kirei, lalu memegang pundak dan memapah istrinya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mama? Kamu sudah memberitahu Mama kalau aku hamil?” Kirei merengut. Dia berharap agar hal itu menjadi rahasia sebab kehamilannya ini masih abu-abu alias belum tentu kebenarannya.

“Tadi sewaktu aku di minimarket, Mama menelpon. Kemudian, bertanya aku sedang di mana. Ya sudah, aku bilang aja kalau sedang di minimarket membeli testpack. Eh, Mama langsung bilang mau ke sini sekarang juga.” Attala memberikan penjelasan secara detail agar Kirei tidak salah paham.

Kirei menghela nafas panjang. Sejujurnya, dia ingin Attala tidak masuk kantor hari ini untuk menemaninya istirahat di rumah dan mendampingi periksa ke dokter. Kehamilan pertama ini baginya sangat mendebarkan. Morning sickness yang menyerang tiba-tiba membuatnya lebih sensitif. Toh satu hari saja tidak masalah, ada sekretaris dan tim kerja bisa yang mengatasi semuanya.

“Mas, bisakah….” Kalimat Kirei tidak sempat selesai karena di ambang pintu kamar, Mama Maya sudah berdiri sembari menenteng paperbag di kanan kiri.

“Alhamdulillah, mantu Mama. Kamu sehat, Kirei? Ahh, pasti mual ya? Pusing?” Maya langsung membuka pintu tanpa mengetuk dan mengucapkan salam. Ia begitu antusias bertemu Kirei. Dia memeluk Kirei, menatap wajah menantunya sebentar.

“Sini, Kirei, ikut Mama ke dapur. Mama bawa kopi hitam, permen jahe, dan juga sarapan untuk kalian.” Maya mengajak Kirei ke dapur untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di paper bag, sedangkan Attala pergi ke kamar sambil berbicara dengan seseorang di ponsel.

Maya mengeluarkan semua isi paper bag. Aneka kotak thinwall sudah berjajar rapi di meja makan. Aroma masakan menguar.

Kirei terkejut dengan semua yang Maya bawa. Namun, ia segera memahami bahwa mama mertuanya itu, terlalu bahagia dengan kehamilannya yang begitu diinginkan karena ia dan Attala sama-sama anak tunggal. Baik keluarganya maupun keluarga Attala, pasti menantikan kehadiran seorang cucu.

“Mama, titip Kirei, ya. Attala sudah daftarin Kirei periksa ke dokter kandungan di Klinik Semesta Harapan. Nanti Attala kirim nomor antriannya via chat, ya, Ma.” Attala tiba-tiba muncul dengan mengenakan setelan kantor dan menjinjing tas kerja. “Rei, maaf, Mas tidak bisa mengantarmu periksa karena ada klien dari Bali yang mendadak ingin bertemu langsung.”

Attala mencium kening istrinya sambil mengelus perut Kirei yang masih rata, sedangkan Kirei hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan perasaan campur aduk, antara marah, kecewa dan sedih. Padahal, ia ingin menahan Attala agar tidak pergi. Rasanya, bahagia sekali jika ia bisa digandeng mesra oleh suaminya menuju tempat praktek dokter, mendengarkan hasil pemeriksaan dan mendengarkan penjelasan dokter tentang apa yang boleh dan tidak dilakukan agar kehamilan pertamanya ini bisa terjaga dengan baik. Hanya berdua, tanpa turut campur orang lain, termasuk kedua orangtuanya. Namun apalah daya, Attala tidak bisa memahami kegalauan hatinya. Momentum pertama kehamilannya justru tidak lebih penting dari pekerjaannya.

“Attala, sarapan dulu.” Maya menahan lengan Attala agar tidak pergi.

“Nanti saja di kantin kantor, Ma. Keburu jalanan macet.” Attala melepas pegangan tangan Maya dengan lembut kemudian mencium pipi orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.

Sepeninggal Attala, Kirei menangis. Hatinya terasa sakit melihat Attala lebih mementingkan klien dan pekerjaan dari pada dirinya. Memang selama ini, ia sudah terbiasa ditinggal lembur atau rapat oleh suaminya bersama klien ke luar kota. Akan tetapi, sekarang di dalam perutnya ada buah cinta mereka yang sangat membutuhkan perhatian.

“Loh, kenapa menangis? Ada yang sakit? Atau pusing?” Maya panik melihat menantunya terisak.

“Nggak, Ma. Kirei mau ke kamar mandi dulu. Mual lagi.” Kirei dengan wajah pucat segera masuk ke kamar mandi dan menumpahkan air mata sepuasnya.

Terdengar suara ketukan pintu berkali-kali sambil memanggil-manggil namanya saat Kirei sedang mencuci wajah cantiknya Suara itu sudah tidak asing lagi di telinganyaGayatriibunya.

Gayatri tegak di depan pintu kamar mandi sembari memperlihatkan wajah cemas saat pintu kamar mandi dibuka.

“Mama, kapan datang?” Kirei memeluk Gayatri.

“Sudah lima menit yang lalu, Mama menunggumu keluar dari kamar mandi, tapi kamu tidak kunjung keluar. Ibu khawatir terjadi apa-apa denganmu, makanya Ibu berkali-kali mengetuk pintunya.” Gayatri menggandeng lengan Kirei dan membimbingnya kembali ke dapur, lalu menyuruh putrinya itu untuk duduk.

Maya segera mengambilkan seporsi bubur ayam dan mengangsurkannya pada Gayatri. Tanpa menunggu lama, Gayatri menyuapkan sesendok bubur ke anak perempuan satu-satunya itu. Mereka berharap bubur ayam yang lembut itu bisa diterima dengan baik oleh lambung Kirei. Tapi rupanya dugaan itu meleset. Saat sendok yang berisi bubur ayam itu mulai mendekati hidung Kirei, terciumlah aroma daun bawang yang menyengat. Tanpa aba-aba, lambung Kirei langsung bereaksi. Mual dan muntah tidak bisa dielakkan lagi. Kirei segera menghambur ke kamar mandi untuk kesekian kalinya.

Berbagai macam makanan disodorkan, aneka roti ditawarkan, namun tidak ada satupun yang bisa masuk ke lambung Kirei. Semua makanan itu berakhir di wastafel. Kirei lelah, lemah tapi dia sadar sangat membutuhkan asupan makanan minimal untuk cadangan tenaga saat beraktivitas. Semua cara yang disarankan Ibu maupun mertuanya untuk mengatasi mual dan muntah sudah dia coba.

Mengulum kopi bubuk dengan sejumput gula sudah, tapi bukannya mengurangi mual, justru serbuk kopi itu terselip diantara giginya dan aromanya justru memacu asam di lambungnya untuk bergerak lebih cepat. Memakan permen jahe, sudah juga dia lakukan. Bukan mereda mualnya, justru lambung kosong yang dimasuki jahe membuat lambungnya terasa panas. Sangat tidak nyaman.

“Kalau seperti ini keadaannya, kamu butuh pembantu yang bisa diandalkan untuk menjagamu, Rei.” Gayatri membuka suara. Ia tidak tega melihat anak perempuan satu-satunya itu tergolek lemas tak berdaya. “Mulai nanti sore biar Pak Martono yang menjaga dan mengantarkan kamu ke mana pun kamu pergi. Jangan pernah nyetir sendiri,”

“Besok Mama akan mencarikan pembantu yang bisa mengurus semua urusan rumah ini. Kamu harus fokus menjaga kesehatan karena kamu tidak lagi memikirkan diri sendiri tapi juga bayi dalam kandungan kamu.” Maya memberikan masukan atas kondisi Kirei yang lemah saat ini.

“Tapi Mas Attala belum tentu setuju, Ma. Dia tidak suka ada orang lain di rumahnya,” Kirei berusaha menolak karena sebenarnya ia ingin mencari pembantu sendiri yang sesuai dengan kriterianya. Ia tidak ingin menghadirkan seseorang di tengah-tengah keluarga, malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

“Attala harus setuju, sayang. Dia tidak boleh egois dengan membiarkan kamu lelah mengurus rumah.” Maya menekankan kalimatnya.

“Ma, Kirei belum diperiksa dokter. Bagaimana kalau di perut Kirei tidak ada calon jabang bayi?” Kirei kekeh dengan pendiriannya. Ia kesal dengan keluarganya dan keluarga Attala yang terus-terusan merecoki urusan rumah tangganya.

Watak Mama Maya dan ibunya sama-sama keras. Sekuat apa pun, Kirei berargumen dan menolak. Mereka berdua tidak akan paham. Akhirnya, ia memilih untuk diam dan mengikuti apa yang disarankan oleh mereka berdua.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Alasan Mengapa Sulit Merasakan Bahagia Saat Dewasa

Life Style

4 Alasan Mengapa Sulit Merasakan Bahagia Saat Dewasa

Rabu, 26 Agu 2026 - 12:59 WIB