Masuklah. Sriwati akan datang ke sini tidak lama lagi. Putri Indrawati mempersilakan Giska naik ke kereta kencananya.
Giska membaca doa dalam hati sebelum naik. Tidak lupa, ia juga mendoakan keselamatan Ki Suko. Kereta mulai berjalan dengan sendirinya setelah Putri Indrawati naik. Keduanya kini duduk berhadapan. Giska tidak tahu harus bersikap bagaimana. Kehadiran Putri Indrawati begitu mendominasi. Ia merasakan pancaran aura yang kuat dari wanita yang duduk di depannya itu.
Kamu tahu kenapa Sriwati mengincar suamimu? tanya Putri Indrawati tiba-tiba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Giska mendongak kaget, tidak menyangka Putri Indrawati akan menanyakan hal tersebut. Kemarin, Putri Sriwati sempat menyinggung soal Mas Bima yang merasa kesepian, jawab Giska.
Benar. Suamimu waktu itu datang ke Sumbing dalam keadaan kosong. Sriwati melihatnya sebagai kesempatan. Dia memang mudah tertarik pada manusia, khususnya lelaki, yang datang ke wilayah kekuasaannya, tutur Putri Indrawati. Manusia yang sedang merasa sedih, kesepian, kecewa, atau perasaan-perasaan negatif lainnya akan lebih mudah terserap energinya oleh bangsa kami. Mereka akan lebih mudah kami pengaruhi. Mungkin, itu yang terjadi pada suamimu waktu itu.
Giska membisu. Perasaan bersalah kembali mendera hatinya. Jadi, memang benar semua ini adalah kesalahannya. Andai ia tidak membiarkan Bima mendaki tanpa dirinya, andai ia mau ikut menemani lelaki itu sekali saja, permasalahan ini tidak akan terjadi. Semuanya menjadi kacau gara-gara keegoisannya.
Kita akan segera sampai. Bersiaplah, kata Putri Indrawati setelah beberapa detik mereka terdiam.
Giska melongok keluar jendela. Istana Putri Sriwati sudah terlihat di depan. Kereta yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu gerbang. Kedua pengawal yang berjaga di sana menundukkan kepala dengan hormat begitu melihat siapa pemilik kereta kencana tersebut. Pintu gerbang langsung terbuka tanpa banyak kata.
Kenapa Putri tidak membawa pengawal satu pun? tanya Giska penasaran saat kereta bergerak memasuki gerbang.
Putri Indrawati tersenyum. Untuk apa? Aku datang ke sini bukan untuk memerangi adikku sendiri.
Kereta kembali berhenti, kali ini tepat di depan istana. Keduanya pun turun. Masuklah, jemput suamimu. Dia ada di menara tertinggi di ujung langit utara. Melihat Giska yang sedikit ragu, Putri Indrawati melanjutkan, Jangan takut. Semua pengawal di istana ikut bersama adikku ke tempat Ki Suko. Aku akan menuntunmu dari sini.
Giska mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Ia pun segera berlari masuk ke dalam istana. Lewat bisikan-bisikan Putri Indrawati yang seolah muncul dalam kepalanya, Giska menyusuri lorong-lorong di dalam bangunan tersebut. Anak tangga demi anak tangga ia daki tanpa lelah. Hingga akhirnya, tibalah ia di atas sebuah menara.
Pintu kayu raksasa membatasi satu-satunya ruangan yang ada di puncak menara tersebut. Giska mencoba membukanya, dan ternyata tidak terkunci. Sekuat tenaga, ia mendorong daun pintu itu.
Giska? Bima, yang tengah duduk di tepi tempat tidur, tersentak kaget melihat kemunculan sang istri.
Mas! Giska menangis penuh rasa syukur melihat suaminya baik-baik saja. Sama seperti kemarin, ia berlari dan langsung memeluk lelaki itu.
Tapi, kamu ¦ kamu ngapain balik ke sini, Gis? Bahaya! Bima melepaskan pelukan mereka dan menahan kedua bahu Giska. Gis, dengerin aku. Kalau sampai Putri Sriwati
Putri Sriwati lagi pergi, Mas. Pengawal-pengawalnya juga nggak ada. Kita harus segera keluar dari sini. Ayo! Tanpa sempat menjelaskan lebih lanjut, Giska menarik tangan Bima. Bima yang kebingungan pun mengikuti istrinya berlari menuruni menara.
Rupanya, benar kata Giska. Istana sedang dalam keadaan sepi. Tidak ada penjaga-penjaga bertubuh raksasa yang biasanya Bima lihat berkeliaran ke sana kemari. Sesampainya di pintu utama, Bima terlonjak kaget.
Tenang, Mas. Beliau bukan Putri Sriwati. Giska menahan tangan Bima yang sudah akan berlari. Ia lalu mengenalkan Putri Indrawati pada sang suami.
Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tapi, sekarang, kita harus cepat. Aku merasakan energi Ki Suko semakin lemah, kata Putri Indrawati.
Giska terkesiap. Ia sejenak lupa soal Ki Suko yang tengah berjuang mati-matian mengalihkan Putri Sriwati. Ketiganya pun naik ke kereta kencana milik sang putri. Kereta melaju cepat seperti terbang di udara. Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan. Giska hanya menggenggam erat tangan sang suami sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Suara ledakan mengagetkan mereka. Bima dan Giska spontan menoleh keluar jendela. Kereta mulai melambat dan berhenti di sebuah area yang cukup terbuka. Putri Indrawati turun terlebih dahulu, disusul oleh pasangan suami istri itu.
Apa ini? desis Bima tak percaya.
Di tengah lapangan berumput tempat mereka berkumpul tadi, Ki Suko duduk bersila sambil memejamkan mata. Kedua tangannya bersatu di depan dada. Tubuhnya diselimuti oleh sebuah lingkaran putih tipis seperti perisai. Sementara itu, Mbah Wiro bergerak liar ke sana kemari menyerang siapa saja yang mendekati Ki Suko. Harimau putih itu tampak lebih besar dari yang Giska ingat terakhir kali.
Penulis : Eenroos
Editor : Redaksiku
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






