Redaksiku.com – Kebumen, Sorotnesia — Buah sukun yang mulai jarang dibudidayakan warga Desa Patukgawemulyo, Kabupaten Kebumen, kembali diperkenalkan sebagai potensi pangan lokal. Kelompok Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Nasional (UNS) 125 menggelar edukasi dan demonstrasi pembuatan tepung sukun bersama ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Sabtu, 12 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Patukgawemulyo itu diikuti sekitar 40 peserta dengan antusias tinggi. Program tersebut menjadi salah satu inisiatif unggulan mahasiswa KKN untuk mengangkat kembali hasil bumi desa agar memiliki nilai tambah dan daya simpan lebih panjang.
Sukun dipilih karena keberadaannya di Desa Patukgawemulyo kini mulai berkurang dan hanya dibudidayakan oleh sebagian kecil warga saja. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk memperkenalkan metode pengolahan modern yang lebih praktis bagi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengolahan buah sukun menjadi tepung dinilai menjadi solusi efektif untuk memperpanjang masa simpan buah yang selama ini cepat membusuk. Selain itu, langkah ini membuka peluang luas bagi pemanfaatan sukun ke dalam berbagai variasi produk olahan pangan yang bernilai jual tinggi.
Mahasiswa KKN UNS 125 berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap buah sukun melalui inovasi pengolahan tepung siap pakai.
Dalam sesi edukasi interaktif, mahasiswa menjelaskan secara mendetail mengenai kandungan gizi buah sukun dan keunggulannya sebagai bahan substitusi tepung terigu konvensional. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai peluang usaha rumahan yang bisa dirintis menggunakan bahan baku alternatif tersebut.
Penyampaian materi dirancang agar mudah dipahami oleh seluruh peserta yang hadir di balai desa. Setelah teori selesai, kegiatan langsung dilanjutkan dengan praktik pembuatan tepung secara bersama-sama di hadapan warga.
Tahapan pengolahan dimulai dari proses pemilihan buah sukun yang benar-benar tua dan berkualitas. Buah kemudian dikupas, dipotong menjadi ukuran kecil, dan direndam air untuk mencegah proses oksidasi sebelum dikeringkan.
- Pemilihan buah sukun yang tua dan berkualitas baik.
- Pengupasan, pemotongan, dan perendaman untuk mencegah oksidasi.
- Pengeringan potongan sukun hingga kadar airnya habis.
- Penggilingan bahan kering menjadi tepung halus siap olah.
Setelah potongan sukun cukup kering, proses dilanjutkan dengan penggilingan hingga menghasilkan tepung halus yang siap dimanfaatkan. Ibu-ibu PKK dilibatkan secara aktif di setiap tahapan agar ilmu yang didapatkan dapat langsung dipraktikkan secara mandiri di rumah masing-masing.
Penanggung Jawab Program Kerja KKN UNS 125, Artha, mengungkapkan bahwa gagasan ini muncul setelah melihat potensi tanaman sukun yang melimpah namun belum dioptimalkan oleh warga setempat.
“Kami melihat potensi tanaman sukun di desa ini sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pengolahan menjadi tepung, masa simpan sukun jadi jauh lebih panjang dan bisa diolah menjadi beragam produk olahan bernilai ekonomi.”
— Artha
Melalui inovasi ini, masyarakat diharapkan mendapatkan perspektif baru bahwa sukun bukan sekadar buah musiman yang dikonsumsi secara konvensional. Buah tropis tersebut kini bertransformasi menjadi bahan baku industri rumah tangga yang fleksibel dan tahan lama.
Dari segi ekonomi, tepung sukun sangat berpotensi diolah menjadi berbagai jenis makanan ringan seperti kue kering, roti, hingga camilan tradisional. Produk-produk tersebut diyakini mampu mendongkrak perekonomian keluarga melalui kegiatan produktif warga.
Pastikan proses pengeringan potongan sukun benar-benar maksimal agar tepung tidak mudah berjamur dan tahan disimpan dalam jangka waktu lama.
Program pemberdayaan ini juga diharapkan mampu memotivasi warga untuk kembali giat melakukan budidaya tanaman sukun di pekarangan rumah. Ketika pohon sukun kembali mendatangkan keuntungan finansial, kelestarian tanaman tersebut di desa akan terjaga dengan sendirinya.
Keterlibatan aktif mahasiswa KKN UNS 125 di Desa Patukgawemulyo membuktikan bahwa kolaborasi akademisi dan masyarakat mampu menciptakan kemandirian pangan. Pemanfaatan sumber daya lokal yang tepat sasaran terbukti ampuh memperkuat ketahanan ekonomi tingkat desa secara berkelanjutan.
Pertanyaan Umum
Mengapa buah sukun dipilih untuk diolah menjadi tepung?
Buah sukun di Desa Patukgawemulyo memiliki potensi besar namun belum dimanfaatkan secara optimal dan masa simpannya relatif singkat. Pengolahan menjadi tepung bertujuan memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Bagaimana tahapan dasar pembuatan tepung sukun?
Proses pembuatan meliputi pemilihan buah tua, pengupasan, pemotongan tipis, perendaman untuk mencegah perubahan warna, pengeringan hingga kering, dan tahap akhir berupa penggilingan menjadi tepung halus.
Apa saja manfaat ekonomi dari program ini bagi warga?
Tepung sukun dapat diolah menjadi berbagai produk makanan seperti kue, roti, dan camilan yang siap dipasarkan sebagai produk usaha rumahan guna menambah pendapatan keluarga.
Ringkasan
Mahasiswa KKN UNS 125 menggelar pelatihan pembuatan tepung sukun bagi ibu-ibu PKK Desa Patukgawemulyo, Kebumen, untuk memperpanjang masa simpan buah dan meningkatkan nilai ekonominya sebagai bahan pangan alternatif pengganti terigu.
Proses pembuatan tepung sukun meliputi pemilihan buah berkualitas, pengupasan, pemotongan, perendaman, pengeringan, hingga penggilingan halus. Tepung ini dapat diolah menjadi berbagai produk usaha rumahan seperti kue dan roti guna mendongkrak pendapatan warga.






