Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 10)

- Penulis

Jumat, 8 November 2024 - 19:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 9)

 

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 9)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 10)

Attala menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah berlantai dua yang berada di kawasan Menteng. Ya, rumah yang akan ia tempati bersama istri tercintaKirei Anastasya Gumilar. Kawasan Menteng ini memang terkenal sebagai daerah elit yang menjadi hunian orang-orang dengan strata ekonomi tinggi. Maka dari itu, tidak aneh jika rumah-rumah yang ada di sini terlihat mewah dan megah.

Ada sebuah buku yang pernah Attala baca, judulnya ‘Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi’. Di dalam buku itu diceritakan, bahwa daerah Menteng dulunya dipenuhi dengan pohon buah Menteng. Mungkin, dari nama buah itulah. Akhirnya, kawasan ini diberi nama Menteng. Namun, ada lagi pendapat lain yaitu nama Menteng berasal dari orang Bugis bernama Daeng Menteng. Semasa hidupnya, Daeng Menteng pernah punya jasa terhadap pemerintah Hindia-Belanda hingga diberi hadiah berupa tanah di kawasan Menteng ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kawasan Menteng ini juga sudah menjadi permukiman elit sejak zaman kolonial Belanda. Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda merencanakan pembangunan kawasan permukiman elit yang diberi nama Menteng. Karena mengikuti konsep garden city yang diperkenalkan oleh Ebenezer Howard di Inggris, perencanaan ini dilakukan dengan hati-hati sekali. Konsep ini menjadikan Menteng sebagai salah satu contoh terbaik di Asia Tenggara, pada masa itu.

Rumah-rumah di sini, kebanyakan mengusung gaya arsitektur tropis kolonial. Ciri khasnya adalah adalah bangunan yang besar, dengan langit-langit yang tinggi dan jendela-jendela besar untuk sirkulasi udara yang baik. Material yang digunakan juga menyesuaikan dengan iklim tropis, seperti penggunaan atap genteng dan dinding tebal untuk mengurangi panas.

Tak hanya itu, di Menteng juga banyak bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya yaitu Gedung Joeang 45 yang kini berganti nama menjadi Museum Perjuangan Kemerdekaan Indonesia serta menjadi tempat tinggal tokoh-tokoh penting Bangsa Indonesia, seperti presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Pagar rumah terbuka, lalu muncul seorang pria berseragam satpam. Di dadanya, ada papan nama yang bertuliskan Malik.

“Pak Attala, kan?” tanya Malik sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Iya. Kamu satpam di rumah ini?” Attala menyambut uluran tangan Malik.

“Iya, Pak. Perkenalkan, saya Malik. Saya disuruh Pak Prasetyo untuk menjaga rumah ini,” ujar Malik sambil mengalihkan pandangan ke arah dua wanita yang ada di belakang Attala sebagai bentuk sambutan darinya.

Attala melepaskan jabatan tangannya, lalu Malik membuka gerbang rumah agar mobil majikan barunya itu bisa masuk ke dalam.

Attala kembali ke dalam mobil diikuti Kirei dan Mama mertuanya. Kemudian, ia memasukkan mobil ke dalam pekarangan rumah. Di sana, ada garasi yang sangat luas. Cukup untuk empat mobil. Pembangunan rumah ini, ia serahkan pada Papanya. Karena dulu, ia masih menjalani masa kuliah di Korea. Jadi, sebelum dirinya memutuskan menerima perjodohan yang diatur oleh Mama Maya. Ia sudah mempersiapkan tempat tinggal untuk keluarga kecilnya kelak.

“Malik, Papa dan Mama belum ke sini?” tanya Attala sambil keluar dari mobil.

Malik belum sempat menjawab pertanyaan Attala. Sebuah mobil berwarna merah menyala memasuki pekarangan rumah, lalu berhenti di belakang mobil Attala.

Attala sangat mengenali pemilik mobil itu yaitu Papa dan Mamanya. Benar saja, dua orang yang paling ia cintai keluar dari mobil dengan wajah yang terlihat bahagia, apalagi Mama Maya yang langsung memeluk Kirei dengan erat.

“Mama, sehat?” tanya Kirei. Ia membalas pelukan mama mertuanya itu.

“Alhamdulillah, Sayang.” Maya melepas pelukannya, lalu memegang pundak Kirei sambil tersenyum.

Kemudian, ia beralih pada besannya dan mengulurkan tangan sambil cipika-cipiki. “Gimana kabarnya, Jeng? Attala enggak bikin masalah, kan?”

“Baru saja pagi tadi, anakmu berulah, Jeng,” ujar Gayatri dalam hati.

“Kok, diam aja, Jeng?” tanya Maya heran karena Gayatri tidak langsung menjawab pertanyaannya. “Attala, apa yang sudah kamu lakukan di rumah mertuamu?”

Maya mengalihkan pandangan ke arah Attala.

“Enggak, kok, Jeng. Attala, anak yang baik. Dia juga sangat sayang sama Kirei,” ujar Gayatri.

“Syukurlah. Jeng, kalau Attala melakukan kesalahan, tegur saja.Ngomong-ngomong, suamimu tidak ikut, Jeng?” Maya celingukan mencari keberadaan Gumilar yang tidak kelihatan batang hidungnya dari tadi.

“Mas Gumilar ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Nanti, Mas Gumilar nyusul ke sini,” jelas Gayatri.

Prasetyo berjalan menghampiri Maya dan Gayatri. Kebetulan, pas turun dari mobil, ponselnya berdering, lalu ia langsung memisahkan diri untuk menerima telepon dari karyawannya. Ada seseorang yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya untuk membangun sebuah hotel mewah di Bali. Ia pun membuat janji temu dengan orang itu Minggu depan. Setelah berbasa-basi sejenak, ia mengajak besan, istri, anak dan menantunya untuk masuk ke rumah.

Rumah ini terlihat begitu indah dengan dinding-dinding bercat krem dan coklat kayu. Warna krem lebih mendominasi ruangan tamu dan bagian luar rumah, sedangkan coklat kayu dibagian kusen, tiang, dan kusen jendela. Begitu juga dengan ruang keluarga. Lampu kristal tergantung dengan cantik di langit-langit. Rumah ini, ternyata sudah lengkap dengan segala isinya. Jadi, Attala dan Kirei tidak terlalu banyak membawa barang saat pindahan nanti. Cukup baju dan pernak-pernik yang lainnya.

Selagi, Mama, Papa dan Mama mertuanya melihat-lihat ruangan yang ada di lantai dasar. Attala mengajak Kirei untuk melihat kamar mereka yang ada di lantai dua. Di lantai dua ini, ada 3 ruangan. Satu ruang kerja, kamar pribadi, dan perpustakaan. Ia sengaja meminta kepada Papanya untuk memisahkan ruang kerja dengan perpustakaan supaya ketika ada yang butuh bahan bacaan, tidak mengganggunya saat melakukan pekerjaan serta dokumen-dokumen penting yang ada di ruang kerja aman.

Kirei langsung terpesona ketika Attala membuka pintu kamar. Ia tak menyangka suaminya itu tahu kamar impiannya yaitu kamar ala Korea dengan Bright-warn tone color. Kamar yang sering dilihatnya ketika menonton drama Korea. Interior kamar di Drakor, terkesan sangat girly dan cozy. Warna-warna cat yang digunakan pun cewek banget, seperti Pastel Pink, Khaki Web atau Antique Brass. Penggunaan warna ini sangat memanjakan mata. Hanya satu yang menjadi masalahnya, apa suaminya tidak keberatan dengan warna pink ini? Yang ia tahu, suaminya pecinta warna abu dan biru muda.

“Mas enggak masalah dengan warna cat kamar ini?” Kirei menatap Attala. Ia tak masalah jika harus mengganti warna catnya.

“Ini kamar yang kamu impikan, bukan? Jadi, Mas tidak masalah, yang paling penting cuman satu.” Attala membalas tatapan Kirei dengan penuh cinta.

“Apa?” tanya Kirei dengan nada menggoda.

“Ada yang menemani Mas tidur,” ujar Attala sambil berbisik di telinga kiri Kirei.

Adegan romantis dua insan yang sedang dimabuk asmara ini, ternyata disaksikan oleh Maya, Prasetyo dan Gayatri. Diantara mereka, Maya-lah yang lebih terlihat antusias. Ia begitu bahagia melihat anak dan menantunya. Ia juga bersyukur karena tidak salah memilih menantu.

“Mas, rumah ini, bukan hadiah dari Papa, kan?” tanya Kirei. Bukan tanpa alasan, ia mengeluarkan pertanyaan itu. Tapi, ia ingin rumah yang menjadi tempatnya berteduh adalah hasil jerih payah suaminya, bukan hasil instan. Karena salah satu kewajiban suami adalah memberikan tempat tinggal yang nyaman dan aman untuk keluarganya, ia tak masalah jika harus tinggal dulu di rumah yang kecil dan sempit.

“Kamu tenang saja, Rei, rumah ini Attala yang beli. Bukan hadiah dari Papa.” Prasetyo langsung menimpali ucapan Kirei. Dari dulu, ia tidak pernah memanjakan Attala. Meskipun, Attala anak tunggal.

“Mama, Papa, sejak kapan ada di sini?” Kirei terkejut. Ia melepaskan pelukan Attala. Wajahnya berubah merah karena malu.

“Ada lima menit yang lalu. Kalian sweet banget, sih, Mama jadi inget masa-masa awal menikah dengan Papa.” Maya memegang lengan kanan Prasetyo.

Kirei menundukkan wajah. Berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang entah seperti apa.

“Rei, Insya Allah Attala pasti bertanggungjawab atas dirimu. Selama kuliah di Korea, Attala punya bisnis kecil-kecilan bareng teman-temannya. Alhamdulillah, dari hasil bisnis itu, Attala bisa membangun rumah ini. Mama dan Papa enggak pernah memanjakan Attala karena tanggungjawab anak laki-laki itu besar. Ia harus dilatih untuk bekerja keras dan merasakan sebuah perjuangan,” jelas Maya.

“Memangnya, Mas Attala punya bisnis apa, Ma? Mas Attala belum cerita apa pun tentang bisnisnya sama aku.” Kirei penasaran bisnis yang dijalani suaminya.

“Attala dan teman-temannya di Korea menjalankan bisnis souvernir pernikahan, pesta, dan lain-lain. Kamu bisa kerja sama dengan Attala.” Maya mulai mengeluarkan keahlian dalam mempromosikan sesuatu.

Mereka pun terlibat pembicaraan tentang pengalaman dan lika-liku yang pernah dilalui dalam membina bahtera rumah tangga. Tanpa mereka sadari. Ada seorang pria berkacamata hitam yang dari tadi mengawasi dan memperhatikan rumah Attala di dalam mobil berwarna hitam. Pria itu membuka jendela, lalu membuang puntung rokok dan tersenyum misterius.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Cara Tepat Menghadapi Pembeli yang Suka Menawar

Bisnis

4 Cara Tepat Menghadapi Pembeli yang Suka Menawar

Sabtu, 22 Agu 2026 - 12:42 WIB

Foto: Aulia, murid SMKN 5 Barru, menerima bantuan.

Pendidikan

Kepedulian Gubernur Sulsel Sampai ke Murid SMKN 5 Barru

Sabtu, 22 Agu 2026 - 09:49 WIB