Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, dunia kembali dihadapkan pada ancaman nyata bernama ekstremisme.
Secara bahasa, kata ekstrem dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai sesuatu yang berada di posisi paling ujung, paling keras, atau fanatik. Dalam konteks bahasa Arab, istilah ekstrem identik dengan kata at-tatharruf, yang berarti menyimpang dari jalan tengahbaik ke arah kiri maupun kanan. Sifat ekstrem ini, menurut para ahli, cenderung membawa manusia menjauh dari keselamatan dan mendekatkan pada kebinasaan.
Ekstremisme dapat diartikan sebagai paham yang diwarnai fanatisme berlebihan, hingga membuat penganutnya tidak segan menggunakan kekerasan terhadap pihak yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Sikap berlebihan ini bukan hanya menjadi persoalan dalam Islam saja, melainkan juga muncul di berbagai agama lain seperti Kristen, Yahudi, Hindu, hingga Budha. Tak heran, ekstremisme kerap disandingkan dengan istilah radikalisme dan fundamentalismedua fenomena yang sering memicu konflik atas nama agama.
Akar Sejarah Ekstremisme
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sejarah peradaban, keseimbangan adalah prinsip utama yang diajarkan oleh Islam. Al-Qur™an dan sunnah Rasulullah Saw. telah mengajarkan bahwa dalam menjalankan agama pun harus dilakukan secara wajar, tidak berlebihan dan tidak memaksakan diri. Konsep wasathiyah atau jalan tengah adalah nilai luhur yang menjadi identitas Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Namun, seiring waktu, lahirnya beragam penafsiran dalam agama dan keinginan sebagian kelompok untuk memaksakan satu tafsir sebagai yang paling benar, telah memunculkan benih-benih fanatisme. Fanatisme inilah yang dalam perjalanan sejarah sering menimbulkan perpecahan, kekerasan, bahkan teror.
Fenomena Ekstremisme di Tengah Masyarakat
Bentuk ekstremisme bisa muncul dalam berbagai manifestasi. Salah satunya adalah gerakan Takfiri, yakni kelompok yang gemar mengkafirkan sesama Muslim hanya karena perbedaan pandangan atau mazhab. Tuduhan ini kerap menjadi pemicu konflik berdarah, seperti yang terjadi antara Sunni dan Syiah di Timur Tengah, terlebih pasca pecahnya perang saudara di Suriah sejak 2011.
Selain itu, konsep al-wala™ wal bara™ yang dalam Islam sejatinya bermakna cinta dan loyalitas kepada yang dicintai Allah serta menjauhi apa yang dibenci-Nya, juga sering disalahartikan. Kelompok tertentu mengerdilkan makna tersebut dengan membatasi loyalitas hanya pada kelompoknya sendiri dan memusuhi yang di luar kelompok. Pola pikir eksklusif ini menciptakan jurang perpecahan di tengah umat dan masyarakat luas.
Salah satu bentuk ekstremisme paling mengkhawatirkan adalah aksi bom bunuh diri. Dalam terminologi Islam, tindakan ini disebut intihar, yaitu membunuh diri sendiri secara sengaja. Islam melarang keras bunuh diri karena jiwa manusia adalah amanah dari Allah. Sayangnya, pelaku bom bunuh diri seringkali dimanipulasi secara ideologis hingga mereka rela mati demi sebuah tujuan yang disebut syahid, meski sejatinya itu adalah bentuk penyimpangan serius dari ajaran agama.
Ciri-Ciri Ekstremis: Mengenali untuk Mencegah
Ulama terkemuka Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya Islam Jalan Tengah menjelaskan beberapa ciri utama seorang ekstremis. Pertama, menutup diri dari pandangan orang lain dan menganggap hanya pendapatnya yang benar. Kedua, mudah berburuk sangka terhadap sesama. Ketiga, cenderung mempersulit praktik beragama, dan terakhir, gemar mengkafirkan orang lain, bahkan sampai menghalalkan darahnya.
Gejala ekstremisme ini harus dikenali sejak dini, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Peran pendidikan, keluarga, dan tokoh agama sangat penting dalam membentuk pemahaman yang seimbang dan moderat tentang agama serta kehidupan sosial.
Menuju Masyarakat Damai dan Inklusif
Mencegah ekstremisme tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsatermasuk keluarga, sekolah, institusi keagamaan, media, dan tokoh masyarakat. Upaya kolektif dalam memperkuat pendidikan karakter, literasi digital, dan moderasi beragama menjadi kunci dalam membentengi generasi muda dari pengaruh paham-paham menyimpang.
Penting untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, empati, dan saling menghormati dalam perbedaan. Masyarakat harus didorong untuk membuka ruang dialog yang sehat, saling belajar satu sama lain, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air yang kuat tanpa mengorbankan toleransi.
Dengan mengedepankan semangat persatuan dan keadilan sosial, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi semua. Sebab, Indonesia yang damai bukanlah Indonesia yang seragam, melainkan Indonesia yang mampu merayakan keberagaman dengan bijaksana.
Di tengah tantangan zaman yang kompleks, bangsa ini dituntut untuk terus menjaga keseimbanganmenjadi kuat dalam prinsip tanpa menjadi keras dalam sikap, serta menjadi tegas dalam iman tanpa kehilangan kasih sayang kepada sesama. Karena sejatinya, agama diturunkan untuk membawa rahmat, bukan teror; untuk menyebarkan kasih sayang, bukan kebencian; untuk memanusiakan manusia, bukan merendahkannya.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Muhammad Rinaldy






