Redaksiku.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan seluruh kabel udara yang semrawut di berbagai ruas jalan ibu kota dapat dipindahkan ke bawah tanah dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Kebijakan ambisius ini digagas langsung oleh Gubernur Pramono Anung untuk mengubah wajah perkotaan agar terlihat lebih rapi, modern, dan aman bagi seluruh warga.
Langkah penataan ini memerlukan koordinasi lintas sektor yang kuat karena melibatkan bentangan kabel yang sangat panjang. Pemerintah daerah menyadari bahwa pengerjaan fisik skala besar ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada anggaran pendapatan belanja daerah semata.
Penampakan kabel udara di Jakarta. (iStock/Ariessya Putri)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Tata Ruang Melalui Sarana Jaringan Utilitas Terpadu
Gubernur Pramono Anung memperkirakan total panjang jaringan kabel di permukaan yang harus ditangani mencapai sekitar 6.500 kilometer di seluruh wilayah Jakarta. Keberadaan kabel yang semrawut selama ini kerap dikeluhkan karena merusak estetika kota serta menimbulkan potensi bahaya keselamatan umum.
“Saya terus terang mem-planning-kan dalam 5 tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan. Apakah lima tahun itu bisa atau tidak, karena memerlukan kurang lebih 6.500 kilometer yang harus ditangani,” ujar Pramono saat meninjau proyek di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Infrastruktur utama yang diandalkan dalam program ini adalah Sarana Jaringan Utilitas Terpadu atau yang dikenal sebagai SJUT. Sistem ini dirancang khusus untuk menempatkan berbagai jenis kabel dan pipa utilitas secara terpadu di bawah permukaan tanah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp90 miliar pada tahun ini untuk mengawali pembangunan infrastruktur bawah tanah sepanjang 16,9 kilometer.
Penerapan sistem tersebut diyakini mampu mengurangi keruwetan kabel yang membentang di atas jalan raya secara bertahap. Transformasi ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam menciptakan tata ruang perkotaan yang tertib.
“Kalau itu bisa diturunkan, maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda,” kata Gubernur Pramono menambahkan.
Kesiapan Teknis Kabel Telekomunikasi dan Listrik
Proses pemindahan ribuan kilometer kabel dari udara ke dalam tanah memiliki tingkat tantangan teknis yang bervariasi. Jaringan kabel yang membentang di atas jalan raya ibu kota umumnya terdiri dari dua kategori utama, yakni kabel telekomunikasi dan kabel jaringan listrik.
Sejauh ini, pemindahan kabel telekomunikasi menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dan sudah mulai dikerjakan di beberapa titik. Salah satu contoh keberhasilan penataan tersebut dapat dilihat di kawasan Jalan Dr. Supomo, Jakarta Selatan.
“Sekarang hampir di beberapa tempat seperti di tempat Jalan Dr. Supomo ini, sudah berhasil kita turunkan, kita rapikan,” ungkap Pramono.
Sementara itu, jaringan listrik memerlukan koordinasi teknis yang jauh lebih mendalam sebelum bisa diturunkan sepenuhnya ke bawah tanah. Aspek keamanan dan keandalan pasokan listrik kepada masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam proses persiapan teknis tersebut.
Kolaborasi Bersama Badan Usaha Swasta
Dasar hukum pelaksanaan program penataan utilitas ini telah diperkuat melalui penerbitan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2025. Regulasi tersebut memberikan pedoman bagi Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk bekerja sama dengan berbagai pihak swasta.
Pemerintah daerah menyadari bahwa target pemindahan jaringan sepanjang ribuan kilometer tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan sumber daya internal pemerintah. Oleh karena itu, pelibatan aktif dari badan usaha dan para pemangku kepentingan sangat dibutuhkan.
“Kalau ini ditangani secara total, artinya tidak hanya bergantung pada Bina Marga saja, saya yakin itu bisa dilakukan,” ujar Pramono.
Pemerintah menilai bahwa proyek pembangunan SJUT memiliki nilai keekonomian yang menarik bagi investor swasta. Potensi bisnis di sektor penyewaan ducting bawah tanah ini diharapkan mampu menarik minat korporasi untuk turut berinvestasi.
“Kami meyakini secara bisnis juga menarik sehingga dengan demikian penurunan kabel ini bisa menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh seluruh stakeholder yang ada di Jakarta ini,” tutur Pramono.
Titik Lokasi Prioritas Pembangunan SJUT
Pelaksanaan pembangunan jaringan utilitas terpadu pada tahap awal ini difokuskan pada sejumlah ruas jalan utama yang memiliki kepadatan aktivitas tinggi. Dinas Bina Marga DKI Jakarta telah memetakan koridor jalan yang akan segera dikerjakan menggunakan anggaran tahun ini.
- Ruas jalan utama MT Haryono dan Gatot Subroto di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.
- Kawasan Jalan Dr. Supomo dan Jalan Saharjo yang menjadi jalur penghubung penting.
- Koridor Jalan Abdullah Syafei, Tebet Barat Dalam Raya, serta kawasan Otista.
- Jalur penghubung wilayah Matraman dan Jatinegara.
Melalui pembangunan di berbagai titik strategis tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat segera merasakan manfaat langsung dari penataan kota yang lebih bersih dari gelantungan kabel. Pengawasan ketat juga akan terus dilakukan agar seluruh tahapan proyek berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Pertanyaan Umum
Kapan target penyelesaian pemindahan kabel semrawut di Jakarta?
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan seluruh kabel udara di permukaan tanah dapat dipindahkan ke bawah tanah dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Berapa panjang total kabel yang harus ditangani di Jakarta?
Gubernur Pramono Anung memperkirakan total jaringan kabel yang perlu ditangani mencapai sekitar 6.500 kilometer di seluruh wilayah ibu kota.
Berapa anggaran yang disiapkan untuk pembangunan SJUT tahun ini?
Pemprov DKI Jakarta menyiapkan anggaran sebesar Rp90 miliar untuk membangun Sarana Jaringan Utilitas Terpadu sepanjang 16,9 kilometer pada tahun ini.
Ringkasan
Pemprov DKI Jakarta menargetkan pemindahan 6.500 km kabel udara yang semrawut ke bawah tanah melalui Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) dalam waktu lima tahun ke depan.
Untuk tahap awal, pemerintah menyiapkan anggaran Rp90 miliar pada tahun ini guna membangun infrastruktur bawah tanah sepanjang 16,9 kilometer di sejumlah ruas jalan utama dengan menggandeng pihak swasta.






