Resmi! Mulai 2026, Pemerintah Gunakan Face Recognition untuk Bansos, Ini Manfaat dan Tantangannya

- Penulis

Rabu, 4 Juni 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Bansos Indonesia mulai 2026 pakai face recognition dan AI, targetkan efisiensi hingga Rp100 triliun. (Foto: Pexels)

Ilustrasi. Bansos Indonesia mulai 2026 pakai face recognition dan AI, targetkan efisiensi hingga Rp100 triliun. (Foto: Pexels)

Pemerintah Indonesia akan mulai menerapkan teknologi face recognition dalam proses penyaluran bantuan sosial (bansos) mulai Januari 2026.

Sistem ini diharapkan bisa meningkatkan akurasi data penerima dan memangkas potensi penyelewengan anggaran.

Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan saat menghadiri peluncuran program Sahabat-AI di Jakarta pada Senin, 2 Juni 2025.

Luhut menjelaskan bahwa sistem pengenalan wajah akan terhubung langsung dengan data penerima, sehingga proses distribusi bansos dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan efisien.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Teknologi Pengenalan Wajah Siap Digunakan Januari 2026

Ilustrasi. Bansos Indonesia mulai 2026 pakai face recognition dan AI, targetkan efisiensi hingga Rp100 triliun. (Foto: Pexels)
Resmi! Mulai 2026, Pemerintah Gunakan Face Recognition untuk Bansos, Ini Manfaat dan Tantangannya

Menurut Luhut, mulai Januari 2026, setiap penerima bansos akan diverifikasi melalui sistem pengenalan wajah atau face recognition yang terintegrasi dengan data pemerintah.

Verifikasi ini akan digunakan untuk mengkonfirmasi identitas dan status terbaru dari penerima bansos.

Nanti yang tidak terima maupun yang harus terima, dia berikan langsung face recognition dan kemudian sehingga data kita ke-update, ujar Luhut.

Sistem ini akan memperbaharui data secara otomatis, sehingga bisa mencerminkan kondisi terkini dari setiap individu, termasuk perubahan status pekerjaan atau kelayakan lainnya.

Pemerintah Targetkan Efisiensi Dana hingga Rp100 Triliun

Salah satu target utama dari digitalisasi bansos ini adalah efisiensi anggaran. Luhut menyebut bahwa penggunaan teknologi ini berpotensi menghemat hingga Rp100 triliun dalam pengelolaan bantuan sosial.

Penghematan tersebut berasal dari pengurangan data ganda, pemangkasan penerima fiktif, serta otomatisasi sistem pemutakhiran data penerima.

Dengan begitu akan menghemat berapa triliun nanti? 100 triliun, ujarnya.

Luhut menambahkan bahwa penggunaan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan atau AI, sudah menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi sekadar pilihan.

AI Akan Deteksi Perubahan Status Penerima

Teknologi Artificial Intelligence (AI) yang diterapkan dalam sistem ini tidak hanya memverifikasi wajah, tetapi juga akan mendeteksi perubahan status sosial dan ekonomi calon penerima bantuan.

AI akan memantau secara berkala siapa saja yang masih layak menerima bansos dan siapa yang sudah tidak berhak.

Kita akan buat supaya AI ini bisa memisahkan perubahan-perubahan berapa yang berhak terima bansos hari ini, berapa mungkin bulan depan atau minggu depan, kata Luhut.

Ia menjelaskan bahwa sistem tersebut akan mampu mengidentifikasi secara otomatis apabila seseorang kehilangan pekerjaan atau memperoleh penghasilan, dan status kepantasan mereka akan diperbarui secara real-time.

Dengan sistem ini, seorang warga yang hari ini menganggur dan menerima bantuan, bisa saja bulan depan dinyatakan tidak berhak lagi jika sudah memperoleh pekerjaan.

Pendekatan ini diklaim akan menciptakan ekosistem bansos yang adaptif dan dinamis, sesuai dengan kondisi aktual masyarakat.

Digitalisasi Bansos Jadi Bagian Ekosistem Pemerintahan Modern

Langkah ini merupakan bagian dari visi pemerintah dalam menciptakan ekosistem pemerintahan yang berbasis data dan teknologi canggih.

Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi pelayanan publik memang telah menjadi fokus utama, termasuk dalam sektor keuangan sosial.

Dengan integrasi data biometrik dan sistem AI, pemerintah berharap tidak hanya meningkatkan ketepatan sasaran bansos, tetapi juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana negara.

Langkah ini dinilai sangat relevan mengingat banyaknya laporan tentang penyimpangan bansos, baik berupa penyaluran ke orang yang tidak layak, data ganda, hingga praktik pungli.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Meskipun penggunaan face recognition dan AI dinilai revolusioner, ada sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.

Beberapa di antaranya adalah perlindungan data pribadi, kesiapan infrastruktur digital di daerah, serta literasi teknologi di kalangan masyarakat penerima bantuan.

Namun, pemerintah optimistis bahwa implementasi teknologi ini akan membawa perubahan besar dalam sistem jaring pengaman sosial Indonesia.

Diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan bisa lebih cepat mendapatkan bantuan, tanpa hambatan birokrasi yang panjang.

Langkah ini juga akan memberi sinyal kuat bahwa pengelolaan bansos di Indonesia telah memasuki era baru berbasis teknologi pintar, yang lebih efisien, akurat, dan transparan.

Sistem ini akan terintegrasi dengan data kependudukan yang dikelola oleh Dukcapil untuk memastikan keabsahan identitas.

Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini juga diharapkan mampu menekan praktik manipulasi data oleh oknum tak bertanggung jawab.

Pemerintah memastikan bahwa seluruh proses akan mematuhi prinsip keamanan dan perlindungan data pribadi.

Penerapan sistem face recognition juga akan diuji coba terlebih dahulu di beberapa daerah sebelum diluncurkan secara nasional.

Nantinya, penerima bantuan cukup menunjukkan wajah mereka ke alat pemindai tanpa perlu membawa dokumen fisik.

Sistem ini dikembangkan melalui kerja sama lintas kementerian, termasuk Kementerian Sosial dan Kementerian Kominfo.

Para pengamat menyebut langkah ini sebagai transformasi digital terbesar dalam sejarah penyaluran bansos Indonesia.***

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Respons Hyundai soal Permasalahan Hyundai Ioniq 5 AA Juju yang Viral
Cara Menonaktifkan SafeSearch Google di HP dan Laptop
Relawan Gempa NTT Ahmad Zaki Ali Wafat Saat Salurkan Bantuan, Gubernur Sampaikan Duka
Anti Ribet! 15 Ide Bekal Simpel dan Sehat untuk Anak TK yang Bisa Dibuat di Rumah
Nama El Rumi Viral Usai Dikaitkan dengan Inisial EJR di Threads, Ini Respons Hukumnya
Kecelakaan Maut Tol Jagorawi, Mobil Mewah Hancur Usai Tabrak Truk Kontainer
Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Jadi Tersangka KPK, Ini Kronologi OTT dan Kasusnya
Wih! BOSP SDN Tallo Tua Rp151 Juta, Kepala Sekolah Tak Tahu

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:03 WIB

Respons Hyundai soal Permasalahan Hyundai Ioniq 5 AA Juju yang Viral

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Cara Menonaktifkan SafeSearch Google di HP dan Laptop

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Anti Ribet! 15 Ide Bekal Simpel dan Sehat untuk Anak TK yang Bisa Dibuat di Rumah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:36 WIB

Nama El Rumi Viral Usai Dikaitkan dengan Inisial EJR di Threads, Ini Respons Hukumnya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:27 WIB

Kecelakaan Maut Tol Jagorawi, Mobil Mewah Hancur Usai Tabrak Truk Kontainer

Berita Terbaru

Cara Menonaktifkan SafeSearch Google di HP dan Laptop

Teknologi

Cara Menonaktifkan SafeSearch Google di HP dan Laptop

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:38 WIB