Viral di Media Sosial, Publik Terbelah
Sejak video kejadian diunggah, respons publik langsung membanjiri kolom komentar. Sebagian besar warganet menunjukkan empati kepada pasien, terutama karena kondisi kesehatan tidak bisa menunggu soal waktu administratif.
Kalau sudah sakit, masa cuma telat semenit langsung ditolak? tulis salah satu netizen. Ada pula yang menyoroti bahwa puskesmas seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan yang fleksibel dan manusiawi.
Namun, tidak sedikit juga yang membela petugas. Mereka menilai aturan dibuat untuk dijalankan, dan jika dilanggar satu orang, akan menimbulkan preseden bagi yang lain. Perdebatan ini membuat kasus pasien telat 1 menit ditolak berobat menjadi diskursus publik yang luas, bukan sekadar kejadian lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinkes Gowa Ingatkan Nakes Lebih Persuasif
Meski membela prosedur yang dijalankan puskesmas, Dinkes Gowa tetap memberikan catatan penting. Alamsyah mengingatkan agar tenaga kesehatan lebih memperhatikan cara berkomunikasi dengan pasien.
Saya harapkan teman-teman nakes ke depan lebih mengedepankan komunikasi yang persuasif. Pasien itu orang sakit, emosinya bisa labil, ujarnya.
Ia menekankan bahwa petugas seharusnya mendekati pasien dengan empati, menjelaskan secara perlahan, dan menghindari perdebatan terbuka seperti yang terlihat di video. Menurutnya, kesan berdebat justru memperkeruh situasi dan memicu salah paham.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski SOP dijalankan, kasus pasien telat 1 menit ditolak berobat tetap menyisakan evaluasi dari sisi pelayanan humanis.
Antara Aturan Jam dan Hak Pasien
Kasus ini kembali membuka diskusi lama tentang keseimbangan antara aturan administratif dan hak pasien. Di satu sisi, puskesmas harus menjalankan sistem agar pelayanan tertib dan terukur. Di sisi lain, pasien datang dalam kondisi sakit yang sering kali tidak bisa disesuaikan dengan jam.
Banyak pengamat menilai bahwa fleksibilitas kecil seperti toleransi waktu dapat mencegah konflik serupa. Apalagi jika pasien datang hanya selisih satu menit dari batas pendaftaran.
Kasus pasien telat 1 menit ditolak berobat pun menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan di level layanan dasar bisa berdampak luas ketika bertemu dengan realitas di lapangan.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels
Halaman : 1 2






