Novel Room for Two Bab 34: Produk Gagal

- Penulis

Kamis, 21 November 2024 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Room for Two Bab 34 Karya Bumban Dafnah

Room for Two Bab 34 Karya Bumban Dafnah

Novel Room for Two Bab 34: Produk Gagal

Room for Two Bab 34 Karya Bumban Dafnah
Room for Two Bab 34 Karya Bumban Dafnah

Ada yang berbeda ketika aku membuka mata di kesempatan berikutnya. Perutku masih terasa nyeri, masih berdenyut dan linu. Namun, tidak ada lagi harapan dalam perasaanku. Jika sebelumnya rasa nyeri itu menandakan keberadaan calon anakku, kali itu sakit yang kurasakan menunjukkan ketiadaannya. Rahimku hanyalah cangkang kosong yang ditinggalkan penghuninya.

Satu sisi dalam diriku berkata, seharusnya aku bahagia. Bukankah aku tidak menginginkan bayi itu? Bukankah aku selalu berharap ia mati sehingga aku tidak perlu terbebani? Iya ¦ benar, tapi itu dulu sebelum Reivan mau menerima keadaanku. Itu dulu sebelum aku tahu Alston telah memanfaatkan kebodohan dan keluguanku. Itu dulu. Namun, setelah aku dan Reivan berbaikan dan setelah ia juga bersedia memberi pengasuhan, kehilangan bayi itu terasa menyakitkan. Amat sangat menyakitkan.

Padahal aku sudah menyiapkan kamarnya. Padahal diam-diam aku sudah merangkai namanya. Padahal aku juga sudah membayangkan akan menciptakan foto keluarga yang bahagia, bersama Reivan dan kedua neneknya ¦.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Reivan?

Yang datang kemudian ke hadapanku bukanlah suamiku, tapi Mama dan Bu Lia. Aku berusaha duduk, tetapi nyeri yang menyerang memaksaku bertahan dalam posisi berbaring. 

Reivan mana?

Dia pulang dulu. Mama menjawab sembari merapikan helai-helai rambutku. 

Saat itu aku merasa pening.  Seluruh tubuhku, lahir dan batinku, semua terasa nyeri.

Kenapa Reivan pulang? Hana masih di sini.

Dia harus menguburkan bayi kamu, Hana.

Menguburkan bayiku?

Kenapa? Hana, kan, belum lihat bayinya, Mah! Kenapa dikubur sekarang? Hana belum lihat bayinya, Hana mau lihat dulu bayinya!

Bukannya menjawab, Mama hanya bertukar pandangan dengan Bu Lia. Kenapa mereka diam? Aku butuh jawaban!

Mana Reivan? Bu Lia, mana Reivan? Panggil dia ke sini, suruh dia balik lagi! Telepon Reivan sekarang! Mama telepon Reivan!

Neng Hana, tenang, Neng ¦.

Hana, kamu enggak boleh gini ¦. Kamu harus istirahat dulu.

Panggil Reivan sekarang! Panggil, Ma! Mana hape Hana? Siniin hape Hana!

Dengan tangan bergetar kuterima ponselku dari Bu Lia. Langsung kupanggil nomor Reivan dari daftar panggilan terakhir. Lama sekali aku menunggu hingga panggilan itu diangkat dan diterima Reivan. Ia bicara dengan suara sengau.

Mana anakku, Reivan?

Hana, dia sudah aku kubur di halaman rumah

Kenapa kamu kubur dia tanpa seizinku?!! Kenapa di halaman rumah? Dia bukan anak kucing! Dia anakku! Jahat kamu, Reivan!

Hana, sudah dulu. 

Mama merebut ponselku lalu menyerahkan ponsel itu ke Bu Lia. Ia merengkuhku dalam pelukannya. Aku menangis tersedu-sedu di sana.

Kenapa, sih, padahal semuanya udah baik-baik aja ¦. Padahal Reivan udah baik-baik aja, ibunya juga udah baik-baik aja, semua kelihatannya udah baik-baik aja. Padahal Hana juga udah siap jadi ibu. Kenapa Tuhan masih ngehukum Hana, Ma? Pertama Papa, sekarang anak Hana ¦. Hana berdosa banget, ya? Hana itu enggak pantas bahagia, ya? Kenapa?

***

 

Sebuah belaian lembut di kepala membuatku terjaga. Ketika kutengok, wajah Reivan langsung masuk dalam area pandangku. Ia terlihat kuyu dengan rona kehitaman menggantung di bawah matanya. Raut wajahnya sendu seperti disaput awan duka. Aku tak mengerti mengapa ia tampak begitu terluka, padahal mungkin ia tidak mengalami kehilangan sebesar yang kurasakan.

Reivan ¦.

Aku di sini.

Kenapa kamu kubur anak aku di depan halaman rumah? 

Langsung kuutarakan pertanyaan pertama yang terlintas di benakku. Aku membutuhkan jawaban dan kepastian, tidak bisakah Reivan memberi penghormatan yang lebih baik dengan menguburkannya di tempat yang layak?

Maaf aku enggak tanya dulu sama kamu. Aku harus ambil keputusan cepat. Tapi Hana, sengaja kulakukan itu biar kalau kamu kangen, kamu bisa langsung datang ke tempat peristirahatannya. Aku sudah pastikan makamnya dirapikan dan dibuat sebagus mungkin.

Selalu saja ¦ Reivan selalu memiliki jawaban yang tidak terduga. Ia membiarkanku berburuk sangka hanya untuk menghantamku dengan kebenaran yang tidak disangka-sangka.

Belum kelihatan jelas wajahnya mirip siapa, tapi kukira ¦ karena kata dokter dia perempuan, dia akan mirip kamu. Aku ada fotonya.

Air mata kesedihan kembali membasahi kedua pipiku kala melihat galeri foto di ponsel Reivan. Di sana ada beberapa gambar sesosok bayi merah yang amat mungil, ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan Reivan. Kesepuluh jarinya telah tumbuh sempurna. Matanya, hidungnya, mulutnya, bahkan tangan dan kakinya pun sudah ada. Ia tampak begitu kecil dan ringkih. Ia pernah ada di rahimku, tetapi setelah ia tidak ada, sulit rasanya menganggap ia sosok yang nyata, sosok yang pernah menempati perutku, sosok yang selama 19 minggu terakhir membuatku merasa menjadi ibu.

Kamu mau kasih dia nama siapa?

Aku menggeleng, tak sanggup rasanya menyusun kata-kata. 

Kalau udah punya namanya nanti tinggal bilang aja, buat kita ukir di nisannya.

Sarah?

Apa?

Aku mau kasih dia nama Sarah.

Reivan tersenyum dan mengangguk. Sarah. Bagus. Cocok. Aku suka, katanya sambil memaksakan diri tersenyum. 

Tidak lama setelah itu Reivan menghela napas panjang. Sesekali ia mengalihkan pandangan sambil mengelap sudut matanya.

Reivan ¦ kamu kenapa?™

Maaf, aku agak ¦ terbawa suasana. Aku ngerasa bersalah, Seharusnya kalau kamu sakit, malam itu

Bukan karena kamu. Kugenggam tangan Reivan. Bukan salah kamu. Please, aku enggak mau kita saling menyalahkan. Iya aku sedih, iya aku kehilangan, tapi aku enggak mau tambah sedih karena kita malah ribut cari siapa yang salah. Aku cuma pengin kita saling menguatkan. Aku juga mau ¦ mau berterima kasih karena kamu, dan ibu kamu, sudah mau menerima Sarah jadi bagian dari keluarga kita. Terima kasih karena ikut merasa kehilangan atas kepergiannya. Terima kasih karena ikut merasa memiliki walau dia belum terlahir ke dunia ini. Terima kasih, Reivan, aku banyak sekali dapat kebaikan dari kamu ¦ sampai-sampai enggak tahu harus balas kebaikan kamu itu dengan cara apa dan gimana.

Reivan berdiri. Ia menghampiriku lalu memeluk tubuhku seerat mungkin.

Aku sayang kamu, Ishana. Dan pastinya aku sayang Sarah karena dia bagian dari dirimu juga.

Terima kasih. Maaf aku selalu ngecewain kamu, selalu ngebebanin kamu dengan kelakuan-kelakuanku. Maaf aku selalu ngandelin kamu. Maaf karena aku berulang kali gagal, jadi anak, jadi istri, jadi ibu ¦.

Kata-kataku terhenti oleh tangisan. Mengucapkan semua itu membuat batinku perih karena menyadari, betapa rusaknya diriku sebagai manusia. Aku produk Tuhan yang gagal, aku tidak bisa diperbaiki. Ada Reivan sebagai suami yang masih mau membersamaiku pun adalah sebuah anugerah yang sebetulnya tidak kayak kumiliki.

Kurasa, sekarang papamu dan Sarah lagi bertemu di atas sana. Kurasa mereka sedang melihat kita. Dan kurasa ¦ enggak baik kalau mereka sampai mendengar kata-katamu tadi. Memang pasti sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, apalagi kalau kita enggak sempat memenuhi harapan-harapannya. Tapi kalau kemudian mereka memilih pergi, kupikir itu bukan berarti kamu gagal lalu boleh merutuki diri sendiri. Kupikir ¦ kamu justru harus ingat harapan yang pernah mereka titipkan itu. Kamu harus tetap hidup dengan penuh semangat, dengan begitu mereka yang pergi akan merasa kepergiannya lebih dihormati.

Papa berharap aku jadi istri yang baik buat kamu. Aku bergumam pelan sembari membayangkan wajah Papa. Lalu aku membayangkan Sarah. Tapi apa yang diharapkan oleh janin yang belum bisa bicara?

Mungkin dia hanya ingin kamu tahu, bahwa dia pernah ada dan jadi bagian dari dirimu. Dan kehadirannya, meskipun singkat, sudah menghadirkan cinta bagi keluarga kita.

***

 

Aku baru bisa berkunjung ke makam Sarah dua hari kemudian. Saat itu langit menurunkan air hujan, membasahi gundukan tanah yang tingginya tidak seberapa. Aku berjongkok di samping gundukan itu, ditemani Reivan yang membungkuk memayungiku. Kutaburkan bunga berwarna-warni ke atasnya makamnya, kubelai nisan yang bertuliskan namanya.

Dalam hati, pertama-tama kuucapkan maaf kepada Sarah. Maaf karena aku tidak betul-betul menjaganya. Maaf karena aku berulang kali menyakitinya. Maaf karena cintaku kepadanya datang begitu terlambat. Namun, aku juga berterima kasih kepadanya. 

Terima kasih karena mau memilihku sebagai ibunya. Terima kasih karena telah bertahan saat situasi sedang teramat sulit. Terima kasih karena telah membuatku merasakan kebahagiaan menjadi calon ibu. Dan seperti yang Reivan bilang ¦.

Terima kasih karena telah hadir dan mendatangkan cinta bagi keluarga kita. Tanpa kamu, Mama mungkin masih tersesat. Mama mungkin makin tersesat. Terima kasih, Sarah.

Aku berdiri dibantu Reivan. Ia kemudian mengajakku duduk di balkon sambil menatap nisan Sarah yang basah bermandikan air hujan. Tak lama setelahnya, dari kejauhan, kulihat semburat pelangi. Kurasa itu Papa dan Sarah sedang berjalan bersama di sana. Kurasa aku mendengar mereka berkata, aku akan bertahan karena hari esok masih menyimpan harapan. []

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Cara Menonaktifkan SafeSearch Google di HP dan Laptop

Teknologi

Cara Menonaktifkan SafeSearch Google di HP dan Laptop

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:38 WIB