Kamu nggak mikirin aku bakal gendut, ya?
Memang kenapa? Gendut juga tetap cantik. Yang paling penting tuh kamu sehat.
Mana ada gendut cantik, gendut sehat. Kamu belum lihat aku kalau gendut kayak gimana, sih
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lha itu … ibu hamil, kan, perutnya begini. Arka menarik kaosnya dan memperagakan cara jalan ibu yang hamil tua. Emang kurang gendut?
Itu buncit! Perutnya aja yang gede karena ada dedek bayinya.
Ya, sudah terserah. Yang penting aku sudah harus mulai menyiapkan buah-buahan, sereal gandum, oatmeal. Ah, tunggu aku lihat catatan yang dibilang dokter tadi.
Aku hanya menatap Arka yang membongkar buku agendanya. Emang seserius itu, ya?
Kamu pikir hamil itu main-main? Arka membentakku. Aku sakit hati, meski tahu yang dikatakannya benar. Aku tahu kamu suka nanas, makanya di sini aku tulis boleh makan, tapi porsi kecil. Duren? Aku rasa bukan masalah, kamu nggak suka, kan? Soda nggak boleh. Kopi, kafeina kurangi ya Sayang. No alkohol, ah ini, sih, sudah pasti. Arka terus saja membaca catatannya dengan komentarnya yang bahkan tidak ingin aku tanggapi. Tapi, dia sepertinya tidak peduli. Nggak boleh makan yang mentah-mentah, kayak …. Oh, ya besok tes TORCH kamu keluar. Lupa tadi mau kasih tahu.
Kapan?
Apanya?
Tesnya? Kok aku nggak dikasih tahu.
Tadi pas kamu diambil darahnya sebelum pulang.
Kenapa nggak izin dulu kalau mau TORCH?
Ya, itu memang insiatifku karena aku tidak melihat ada masalah buat melakukan tes itu. Lagi pula apa sih yang bikin kamu keberatan?
Sejak kecil aku memang suka memelihara kucing. Meski orangtuaku melarang, aku tetap melakukan. Aku pikir tidak bakal jadi masalah karena aku menjaga kebersihan kucing-kucingku, membawa ke dokter sekali waktu. Aku tidak tahu kalau Arka bakal serius melakukan tes itu setelah enam bulan lalu kami sempat membicarakannya.
Ya, jelas aku keberatan lah. Aku tidak peduli kalau ucapanku bakal memadamkan binar bahagia di wajahnya. Kamu sering melanggar batas kepemilikan yang sudah kita sepakati. Ingat? Tadi di rumah sakit kamu juga ambil paksa ponselku.
Arka menegakkan duduknya dan sedikit berputar agar bisa leluasa menatapku.
Karina, dokter bilang di awal kehamilan itu janin sangat rentan. Dia memintaku untuk menjagamu. Kamu tidak boleh terlalu capek. Jadi, menurutku kamu harus mengurangi ….
Nggak! Kamu nggak boleh larang-larang aku buat ngurusin Dazzling Queen, Ka. Kita sudah sepakat tentang hal ini. Lagi pula ini hidupku, bukan hidupmu.
Tapi itu juga bayiku, Karina!
Ucapan Arka membuatku bungkam.
Mau sampai kapan kamu membedakan ini milikku, ini milikmu. Lalu, kapan semua itu bakal kamu sebut milik kita?
Halaman : 1 2






