Selain urusan skripsi, pekerjaan adalah sesuatu yang tidak kupikir terlalu rumit, kurasa Ryu pun pun tahu itu. Aku cukup tahu diri dengan tidak mengambil judul skripsi yang terlalu menyulitkan, meski dosen pembimbing menyayangkan hal itu. Seharusnya aku bisa mengejar IPK yang optimal, katanya. Namun, prioritasku adalah bisa lulus tepat waktu dan segera bekerja dengan layak. Aku tidak meremehkan pekerjaanku di bar, tapi, tanpa kujelaskan pun, hampir semua orang paham bahwa pekerjaan di tempat itu memang cukup rawan bagi perempuan.
Om gue yang punya bar-nya, Ki. Ya lo tau, kan, kayak gimana kondisi di sana. Lo nggak papa? Sandra, temanku, memastikan kesediaanku, setelah kutanya pekerjaan apa yang ditawarkan. Aku masih cukup waras untuk tidak menjerumuskan diri ke dalam barisan perempuan yang digilir pengunjung laki-laki meski setelahnya akan diganjar saldo rekening yang menggendut.
Kalo sekedar nganter-nganter minuman ya nggak papa, San. Yang jelas gue nggak bakat pake baju-baju seksi, kataku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ajaib memang kekuatan orang dalam. Berkat Sandra dan cerita menyedihkan tentangku yang anak yatim piatu dan harus membiayai kuliah sendiriaku tidak tahu apakah Sandra menambahkan bumbu-bumbu mengenaskan dalam ceritanyaaku bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak tapi jam kerja tidak terlalu panjang. Kadang tamu-tamu memberikan tip yang lumayan. Beruntung sekali tidak ada kejadian-kejadian menyebalkan selama aku menjadi pelayan. Godaan-godaan kecil kuanggap wajar, risiko kerja di bar. Selebihnya hanya tatapan sinis dari para LC yang menemani tamu-tamu. Kuanggap angin lalu, tentu saja. Urusanku hanya bekerja, kalau sampai ada yang menyenggol, ya terpaksa bekal sabuk hitam semasa sekolah dulu kukeluarkan.
Sesekali Ryu menjemputku sepulang kerja. Kalau tidak langsung pulang, kadang kami makan di warung tenda di pinggir jalan, atau membeli nasi padang lalu dimakan di kos-kosanku.
Ibumu nggak nyariin? tanyaku begitu menginjakkan kaki di teras kos-kosan. Ini malam Minggu, dan aku prihatin melihat satu-satunya sahabatku itu menjomlo sekian lama.
Udah bilang tadi. Ibu nanyain kamu, Ki. Sejak skripsi udah nggak pernah ke rumah, jawab Ryu.
Tapi kamu cerita, kan, kalo aku kerja?
Ryu mengangguk. Ini kali ke empat dalam seminggu ini Ryu mengantarjemputku kerja. Aku sebenarnya keberatan, tapi jawaban Ryu membuatku hampir tersedak.
Kamu tambah kurus, Ki. Kasian bisa kabur kebawa angin malem.
TAPI LO JEMPUTNYA SAMA AJA PAKE MOTOR, RYU MAHENDRA!
Ryu tertawa terbahak-bahak, tapi buru-buru kulempar dengan kunci motor. Ini sudah jam 12 malam, dan hanya kami berdua yang ada di sini. Aku baru saja menghabiskan seporsi nasi padang dengan kuah tunjang, rendang yang super empuk, sayur nangka, dan sambal cabai hijau yang luar biasa lezatnya. Seperti tidak makan enak berhari-hari.
Beberapa bulan lagi kami lulus. Ryu bahkan sudah selesai sidang dan sedang magang di perusahaan ayahnya. Sidang skripsiku seminggu lagi, kurasa tidak ada hambatan yang berarti, semoga saja. Om Hadi, ayah Ryu, sempat menawariku untuk magang juga, tapi aku tidak mau dianggap aji mumpung. Om Hadi perlu melihat ijazahku dulu.
***
Aku mematut diri di depan cermin. Sudah cukup. Di saat teman-temanku membuat kebaya khusus, menyewa penata rias dan fotografer profesional, aku mencukupkan diri dengan memakai kebaya peninggalan Mama.
Hari ini wisuda, dan beberapa hari yang lalu aku pamit keluar dari bar sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Omnya Sandra karena sudah menerimaku bekerja selama setahun terakhir. Aku hanya bisa menutup mulut saat laki-laki berperut buncit itu mengutarakan alasannya, Nggak bisa saya itu menolak permintaan Sandra, soalnya dia istri saya yang paling kece mainnya!
Ryu yang pagi tadi kuberitahu di telepon soal itu langsung tertawa kencang, Kamu itu selain pekerja keras rupanya agak kurang perhatian sama temen, ya, Ki.
Maksudnya gimana?
Udah sejak lama rumor Sandra jadi ani-ani.
Tapi si bos bilangnya istri.
Eh, nggak tau juga, sih. Ya mungkin istri ¦ ke sekian! Ryu terkikik geli.
Tapi dia baik sama aku. Kasian paling, ya.
Yaaa ¦ bisa dibilang baik, bisa juga dia tau kalo kamu nggak bernilai tinggi kalo dijual di bar, kayak teman-teman satu gengnya.
Aku menghela napas panjang mengingat potongan pembicaraanku dengan Ryu. Ryu benar. Aku pernah mengeluhkan mengapa aku tidak secantik dan sekaya Sandra yang terlihat mudah membayar ini itu. Rupanya Tuhan memberikan fisik yang biasa-biasa saja, memilihkan jalan berupa kerja keras untuk hidup dan membayar uang kuliah, semata-mata untuk menjagaku. Mungkin juga berkat doa-doa panjang Mama semasa hidupnya. Dulu aku sering mendengar Mama berkata, Mama usahakan sekeras mungkin menjagamu hingga ujung mata Mama, Akira, selebihnya Mama serahkan penjagaanmu di tangan Tuhan.
Ma, kangen.
Ponselku berbunyi. Ryu.
Ya, Ry?
Udah kelar belom dandannya?
Udah, sih. Kenapa?
Buruan keluar, aku tunggu di depan gang. Ada Ibu sama Ayah juga ini, mobilnya nggak bisa masuk.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






