Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday Diungkap Media? Ini Faktanya

- Penulis

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday Diungkap Media? Ini Faktanya

Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday Diungkap Media? Ini Faktanya

Redaksiku.com – Nama Jason Arday, akademisi yang pernah mencatat sejarah sebagai profesor kulit hitam termuda di University of Cambridge, tengah menjadi sorotan besar di Inggris.

Sosok yang sebelumnya dikenal lewat kisah hidup inspiratif itu kini menghadapi pertanyaan serius mengenai sejumlah klaim akademik, prestasi olahraga, kegiatan amal hingga bagian dari cerita pribadinya.

Kontroversi tersebut bahkan berujung pada pengunduran diri Arday dari University of Cambridge pada Rabu, 5 Agustus 2026, tak lama setelah kampus mengumumkan penyelidikan baru terkait informasi mengenai kualifikasi dan jabatan kehormatannya.

Meski sejumlah media menggunakan istilah seperti false claims, fabrication, atau mempertanyakan kebenaran cerita Arday, penting dicatat bahwa tidak semua tuduhan telah terbukti sebagai kebohongan. Sebagian masih berupa dugaan atau ketidaksesuaian yang tengah diperiksa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dugaan Plagiarisme Disertasi Jason Arday

Salah satu masalah terbesar berkaitan dengan disertasi PhD Arday tahun 2015 di Liverpool John Moores University.

Analisis yang diberitakan media Inggris menemukan lebih dari 100 bagian dalam disertasinya yang disebut memiliki kemiripan dengan tesis akademisi lain, Paula Zwozdiak-Myers, yang diterbitkan sekitar enam tahun sebelumnya. Beberapa bagian dilaporkan identik atau hampir identik.

Namun, persoalan ini tidak sesederhana menyebut Arday telah terbukti melakukan plagiarisme.

Liverpool John Moores University sebelumnya telah melakukan pemeriksaan dan tidak menetapkan tuduhan plagiarisme tersebut, dengan sejumlah persoalan dianggap kemungkinan merupakan kesalahan yang jujur dan wajar.

Arday juga membantah melakukan plagiarisme. Ia mengakui terdapat kesalahan dalam pekerjaan akademiknya dan menyebut kurangnya supervisi selama proses doktoralnya sebagai salah satu faktor.

Persoalan kembali membesar setelah muncul informasi baru mengenai karya dan riwayat akademiknya. Cambridge kemudian mengumumkan penyelidikan tersendiri.

Klaim Jabatan di Sejumlah Universitas Dipertanyakan

Media juga menelusuri riwayat jabatan akademik yang pernah dikaitkan dengan Arday.

Profil Arday sebelumnya disebut mencantumkan sejumlah posisi bergengsi, termasuk posisi profesor tamu di Ohio State University serta University of Glasgow.

Menurut laporan The Guardian, kedua universitas tersebut membantah posisi profesor tamu sebagaimana tercantum dalam profil tersebut. Durham University juga mengatakan Arday sudah tidak memiliki posisi di institusi itu ketika sebuah biografi masih menyebutnya sebagai profesor kehormatan.

Perlu dibedakan bahwa Arday memang pernah bekerja di University of Glasgow; yang dipersoalkan dalam laporan tersebut adalah klaim jabatan tertentu yang dicantumkan dalam biografinya, bukan seluruh riwayat pekerjaannya.

Klaim Gelar Master di Birkbeck Tak Ditemukan

Pertanyaan berikutnya muncul mengenai pendidikan Arday.

Ia pernah disebut telah menyelesaikan pendidikan master di bidang psychodynamic practices di Birkbeck, University of London, yang kemudian membuatnya menjadi konselor berkualifikasi.

Namun ketika The Guardian menghubungi Birkbeck, universitas tersebut mengatakan tidak dapat menemukan catatan mahasiswa bernama Jason Arday yang pernah belajar di sana.

Temuan ini kemudian menjadi salah satu bagian yang ikut mendorong pemeriksaan lebih luas terhadap riwayat akademiknya.

Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday Diungkap Media? Ini Faktanya
Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday Diungkap Media? Ini Faktanya

Mengaku Punya Buku, tetapi Penerbit Menyebut Buku Itu Tak Pernah Terbit

Salah satu ketidaksesuaian paling konkret menyangkut sebuah buku berjudul Being Young, Black and Male: Challenging the Dominant Discourse.

Arday disebut pernah menyatakan dirinya telah menerbitkan buku tersebut bersama Palgrave Macmillan.

Akan tetapi, penerbit kemudian menjelaskan bahwa mereka memang pernah menerima proposal buku Arday, tetapi buku tersebut pada akhirnya tidak pernah diterbitkan.

Kasus ini menjadi salah satu klaim yang paling banyak disorot media karena terdapat konfirmasi langsung dari pihak penerbit.

Klaim Lari 600 Mil dalam Enam Hari Berubah Menjadi 12 Hari

Prestasi olahraga Arday juga mulai diperiksa.

Dalam sejumlah penampilan publik, ia pernah menyebut berhasil berlari 600 mil atau sekitar 966 kilometer hanya dalam enam hari.

Jika benar, pencapaian tersebut akan menempatkannya di antara atlet ultramaraton dengan kemampuan luar biasa.

Namun saat ditanya mengenai cerita tersebut, Arday menjelaskan bahwa tantangan 600 mil itu sebenarnya dilakukan dengan jeda istirahat dan diselesaikan dalam periode 12 hari, bukan enam hari. Sejumlah universitas yang sebelumnya mencantumkan prestasi enam hari itu juga dilaporkan telah mengubah atau menghapus keterangannya.

Cerita 30 Maraton dalam 35 Hari Ikut Disorot

Arday juga mengaku pernah menjalani 30 maraton dalam 35 hari untuk kegiatan amal.

Cerita tersebut menjadi semakin luar biasa karena ia mengatakan sempat mengalami serangan epilepsi dan mengalami retak halus pada tulang kakinya ketika tantangan masih berlangsung, tetapi kemudian tetap menyelesaikan sembilan maraton berikutnya.

Dokter yang dimintai pendapat oleh The Guardian mengatakan berlari dengan cedera tersebut akan sangat menyakitkan, meskipun secara medis bukan berarti mustahil dilakukan. Karena itu, klaim ini masih lebih tepat disebut dipertanyakan daripada dinyatakan terbukti palsu.

Klaim Mengumpulkan Dana Amal hingga £5,5 Juta

Arday selama bertahun-tahun juga disebut berhasil mengumpulkan dana sekitar £5 juta hingga £5,5 juta untuk kegiatan amal.

Ketika media mempertanyakan angka tersebut, Arday kemudian menjelaskan bahwa uang itu bukan dikumpulkannya seorang diri, melainkan bersama berbagai kelompok penggalangan dana selama sekitar dua dekade.

Saat diminta mengidentifikasi anggota kelompok tersebut, Arday mengatakan terdapat perjanjian kerahasiaan atau NDA yang membuatnya tidak dapat mengungkap nama mereka.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata apakah aktivitas amal pernah dilakukan, melainkan bagaimana klaim pengumpulan jutaan pound tersebut sebelumnya disampaikan kepada publik.

WaterAid Membantah Cerita Relawan ke Luar Negeri

Arday juga pernah dikaitkan dengan cerita bahwa dirinya pergi ke Amerika Selatan dan Afrika Barat untuk memasang fasilitas air bersama WaterAid.

Namun WaterAid mengatakan organisasinya tidak mengirim relawan untuk melakukan kegiatan semacam itu ke luar negeri dan juga tidak mendorong perjalanan sukarela dengan biaya sendiri.

Dalam memoar terbarunya, Arday disebut tetap menceritakan perjalanan ke Brasil untuk memasang sebuah sumur, tetapi tidak lagi menyebut WaterAid dalam bagian tersebut.

Cerita Kepala Babi dan Penyelidikan Polisi Ikut Dipertanyakan

Bagian paling mengejutkan dari kontroversi ini menyangkut dugaan intimidasi rasial yang dialami Arday.

Perlu ditegaskan, terdapat bukti bahwa Arday memang pernah menjadi sasaran pelecehan dan ancaman bernuansa rasial, dan Cambridge sebelumnya bahkan mengambil langkah untuk menyaring email yang ditujukan kepadanya.

Namun sebuah cerita spesifik kemudian dipertanyakan.

Arday mengatakan sebuah kepala babi yang telah dipotong pernah dikirim ke rumah orang tuanya. Ia kemudian menceritakan bahwa polisi menyelidiki kejadian tersebut dengan mendatangi sejumlah toko daging di London Selatan dan menemukan toko yang diduga menjual babi tersebut.

Ketika The Guardian memeriksa cerita itu, toko-toko yang disebut mengatakan tidak pernah didatangi polisi terkait penyelidikan tersebut.

Lebih jauh lagi, Metropolitan Police mengatakan kepada media bahwa rincian mengenai penyelidikan polisi sebagaimana diceritakan Arday “categorically” tidak benar dan tidak pernah ada penyelidikan tersebut.

Pernyataan polisi tersebut menjadi salah satu temuan paling serius dalam pemeriksaan terhadap cerita pribadi Arday.

Cambridge Awalnya Membela Jason Arday

Menariknya, University of Cambridge pada awal kontroversi justru memberikan pembelaan kuat kepada Arday.

Universitas pernah menggambarkan serangan terhadapnya sebagai kampanye keji untuk merusak kredibilitasnya, terlebih karena Arday memang menghadapi pelecehan rasial.

Tetapi posisi Cambridge berubah setelah universitas menerima informasi baru.

Cambridge kemudian menyatakan telah memulai penyelidikan mengenai kualifikasi dan jabatan kehormatan Arday serta mengatakan tidak akan berkomentar lebih jauh sampai proses tersebut selesai.

Tidak lama setelah pengumuman itu, Arday menyatakan mundur.

Jason Arday Membantah Narasi yang Menyerangnya

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Arday tidak mengakui bahwa semua tuduhan terhadap dirinya benar.

Ia mengatakan kritik merupakan bagian dari kehidupan akademik, tetapi serangkaian tuduhan, spekulasi, dan sorotan publik yang diterimanya telah memberikan dampak mendalam terhadap dirinya dan orang-orang terdekatnya.

Arday juga menegaskan pengunduran dirinya tidak boleh dianggap sebagai penerimaan terhadap narasi yang berkembang tentang dirinya.

Karena itu, penyebutan kasus ini sebagai “kebohongan Jason Arday” tetap perlu ditempatkan dalam konteks: terdapat klaim yang telah bertentangan dengan keterangan institusi lain, tetapi ada pula tuduhan—terutama terkait plagiarisme—yang masih diperdebatkan dan belum menghasilkan keputusan akhir dari penyelidikan Cambridge.

Kontroversi Berlanjut Setelah Arday Mundur

Kasus tersebut belum berakhir dengan pengunduran dirinya.

Sejumlah akademisi senior Cambridge kini dilaporkan mendorong penyelidikan independen terhadap proses pengangkatan Jason Arday sebagai profesor pada 2023. Mereka mempertanyakan bagaimana proses pemeriksaan rekam jejak calon profesor dilakukan dan apakah universitas melakukan verifikasi yang memadai sebelum memberikan salah satu posisi akademik bergengsi tersebut.

Sementara itu, memoar Arday berjudul Great and Unfortunate Things tetap dijadwalkan terbit. Simon & Schuster mengatakan penerbitan akan dilanjutkan meskipun kontroversi berlangsung.

Arday juga mengklaim mendapat tawaran senilai “1,4 juta” untuk memoarnya, tanpa menjelaskan apakah angka tersebut dalam dolar AS atau pound sterling. Hingga laporan terbaru diterbitkan, Simon & Schuster tidak mengonfirmasi besarnya pembayaran tersebut.

Kesimpulan

Kasus Jason Arday berubah cepat dari kisah keberhasilan akademik menjadi salah satu kontroversi terbesar di lingkungan universitas Inggris tahun ini.

Yang telah muncul sejauh ini bukan hanya dugaan plagiarisme, tetapi juga ketidaksesuaian mengenai jabatan akademik, buku yang diklaim terbit, prestasi lari 600 mil, penggalangan dana jutaan pound, hubungan dengan WaterAid hingga detail penyelidikan polisi terkait ancaman terhadap keluarganya.

Namun, sampai penyelidikan selesai, tidak tepat menganggap seluruh cerita hidup Jason Arday telah terbukti bohong. Sejumlah klaim memang telah dibantah atau tidak dapat diverifikasi oleh institusi terkait, sementara klaim lainnya masih menjadi objek pemeriksaan.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sertijab Polres Barru, Kapolres Dorong Pelayanan kepada Masyarakat
Rotasi Jabatan di Polres Barru, Sejumlah Perwira Dapat Amanah Baru
IShowSpeed Kecelakaan Saat Rayakan Pencapaian Besar, Ini Kondisi Terbarunya
Krisis Maroko Terbaru, Ini Penyebab, Dampak, dan Kondisi Terkini
Pemdes Libureng Bersama KKN Unhas Wujudkan TPU Bersih, Nyaman, dan Asri
Edukasi Door to Door, Polsek Pujananting Perkuat Pencegahan Karhutla
Miss Supranational 2026 Jadi Sorotan, Ini Jadwal, Peserta, dan Fakta Kontes Kecantikan Dunia
Presiden Korsel Minta Prabowo Bantu Jembatani Dialog dengan Korut, Peran Indonesia Jadi Sorotan

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday Diungkap Media? Ini Faktanya

Kamis, 6 Agustus 2026 - 21:17 WIB

Sertijab Polres Barru, Kapolres Dorong Pelayanan kepada Masyarakat

Rabu, 5 Agustus 2026 - 05:10 WIB

Rotasi Jabatan di Polres Barru, Sejumlah Perwira Dapat Amanah Baru

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:42 WIB

IShowSpeed Kecelakaan Saat Rayakan Pencapaian Besar, Ini Kondisi Terbarunya

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:04 WIB

Krisis Maroko Terbaru, Ini Penyebab, Dampak, dan Kondisi Terkini

Berita Terbaru

Wanita Tidak Bercerita Tapi Sering Melakukan

Life Style

Wanita Tidak Bercerita Tapi Sering Melakukan 5 Hal ini

Jumat, 7 Agu 2026 - 12:17 WIB