Redaksiku.com – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kini tengah menata ulang peta bisnisnya dengan menjadikan sektor infrastruktur digital sebagai mesin pertumbuhan utama masa depan. Melalui anak usahanya, PT DSST Mas Gemilang atau yang lebih dikenal sebagai DSST, perusahaan di bawah naungan Sinar Mas Group ini mulai tancap gas dalam memperluas jaringan pusat data serta merambah ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang sedang berkembang pesat di Indonesia.
Langkah strategis ini bukan sekadar upaya diversifikasi biasa. Analis dari Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus, dalam risetnya pada Rabu (9/9/2026), menekankan bahwa DSST memegang peran vital sebagai pilar infrastruktur digital bagi grup tersebut. Berdiri sejak 1996, DSST kini tidak hanya berfokus pada solusi teknologi informasi, tetapi juga bertindak sebagai entitas induk yang menggenggam investasi strategis di perusahaan telekomunikasi besar seperti PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).
Ekspansi Agresif Pusat Data SM+
Salah satu motor penggerak utama dalam transformasi ini adalah SM+, merek layanan pusat data milik DSST. Saat ini, mereka telah mengelola 24 lokasi dengan kapasitas total 10 megawatt (MW). Namun, angka ini diproyeksikan akan melonjak tajam menjadi 43 MW pada akhir tahun buku 2026, sebuah lompatan yang menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menangkap permintaan pasar digital yang kian masif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penambahan kapasitas ini didukung oleh dua proyek besar yang sedang dikerjakan:
- Fasilitas pusat data di Tangerang dengan kapasitas 12 MW yang akan menambah daya tampung secara signifikan.
- Pusat data di Kuningan, Jakarta, dengan kapasitas 21 MW yang merupakan hasil kerja sama strategis atau joint venture dengan LG CNS.
Menariknya, fasilitas di Kuningan tersebut telah menunjukkan performa komersial yang impresif. Seluruh kapasitas 21 MW yang tersedia sudah habis terjual, dengan alokasi 1 MW untuk pelanggan segmen enterprise dan 20 MW sisanya diserap oleh hyperscaler, yang mayoritas berasal dari sektor teknologi global.
Proyek pusat data di Kuningan memiliki potensi pengembangan jangka panjang yang luar biasa, dengan ruang ekspansi yang memungkinkan kapasitasnya melonjak hingga 60 MW setelah tahap awal beroperasi pada kuartal IV-2026.
Model Bisnis dan Potensi Masa Depan
Dari sisi operasional, DSST menerapkan kalkulasi yang cukup disiplin untuk menjaga profitabilitas. Perusahaan mengalokasikan belanja modal atau capex sekitar US$ 9 juta per megawatt, termasuk biaya lahan. Jika biaya lahan dikeluarkan, angka tersebut turun menjadi sekitar US$ 7 juta per megawatt. Dengan target margin EBITDA di kisaran 50% hingga 60%, bisnis ini diproyeksikan mampu memberikan imbal hasil atau internal rate of return (IRR) yang stabil di angka belasan persen.
Untuk mengamankan pertumbuhan di masa depan, DSST kini mulai beralih ke model build-to-suit (BTS). Dalam model ini, infrastruktur dibangun berdasarkan komitmen kebutuhan pelanggan sejak awal, bukan atas dasar spekulasi pasar. Strategi ini memberikan visibilitas yang jauh lebih baik terhadap tingkat utilisasi aset dan memastikan bahwa setiap investasi modal yang dikeluarkan memiliki imbal hasil yang lebih terukur.
Lebih jauh lagi, perusahaan tidak hanya berhenti pada penyewaan ruang server. DSST mulai menjajaki peluang masuk ke ekosistem AI yang mencakup infrastruktur GPU, komputasi (compute), hingga sistem penyimpanan (storage). Jika rencana ini terealisasi, DSSA akan memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dalam rantai pasok teknologi di Indonesia.
Hasil pengecekan kanal menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, total kapasitas pusat data yang dikembangkan DSST berpotensi mencapai 1 gigawatt (GW).
Analisis Valuasi Pasar
Berdasarkan perhitungan Indo Premier Sekuritas, jika DSST berhasil mencapai kapasitas 1 GW, potensi nilai ekuitas bisnis pusat data tersebut bisa mencapai Rp 338,9 triliun dengan asumsi multiple 20 kali EV/EBITDA. Angka ini memberikan gambaran betapa besarnya ekspektasi pasar terhadap transformasi digital yang dilakukan oleh DSSA.
Namun, Aurelia mengingatkan bahwa valuasi saat ini sudah mencerminkan sebagian besar ekspektasi tersebut. Ruang kenaikan harga saham di masa depan akan sangat bergantung pada realisasi nyata dari ekspansi kapasitas yang dijanjikan serta struktur kepemilikan DSST pada proyek-proyek tersebut.
Perlu dipahami bahwa asumsi valuasi sebesar Rp 397 triliun bagi DSSA sangat bergantung pada skenario kepemilikan penuh, sementara angka tersebut akan berbeda jika DSST hanya memegang porsi saham minoritas dalam proyek pengembangan pusat data.
Hingga perdagangan hari ini, saham DSSA menunjukkan tren positif dengan kenaikan harga sebesar 0,86% ke level Rp 1.170 per saham. Dalam satu bulan terakhir, saham ini tercatat telah mengalami penguatan sebesar 18,17%, mencerminkan optimisme investor terhadap arah bisnis baru perusahaan.
Pertanyaan Umum
Apa fokus utama bisnis digital DSSA saat ini?
DSSA melalui anak usahanya, DSST, berfokus pada pengembangan infrastruktur digital, yang mencakup operasional pusat data di bawah merek SM+, solusi teknologi informasi, serta investasi di perusahaan telekomunikasi seperti XL Axiata dan Mora Telematika.
Mengapa DSST beralih ke model build-to-suit?
Model ini dipilih untuk meningkatkan efisiensi modal dan visibilitas pendapatan, karena fasilitas dibangun berdasarkan kebutuhan spesifik pelanggan yang sudah berkomitmen, sehingga mengurangi risiko spekulasi kapasitas yang tidak terpakai.
Bagaimana potensi pertumbuhan bisnis pusat data perusahaan?
Perusahaan memiliki target jangka panjang untuk mencapai kapasitas hingga 1 gigawatt (GW). Sebagian besar kapasitas awal yang sedang dikembangkan, seperti di Kuningan, telah habis terjual kepada pelanggan sektor teknologi dan hyperscaler, yang menunjukkan permintaan pasar yang sangat tinggi.
Ringkasan
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melalui anak usahanya, DSST, tengah mengekspansi bisnis pusat data dengan target kapasitas jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW). Langkah ini didorong oleh tingginya permintaan hyperscaler serta adopsi model bisnis build-to-suit untuk mendukung ekosistem AI di Indonesia.






