Redaksiku.com – Delapan hari menempati tenda darurat pascakebakaran besar di kawasan Dok Lima, Kelurahan Imbi, Jayapura Utara, mulai menyisakan beban mental bagi para penyintas. Rasa jenuh yang melanda warga pengungsi kini menjadi fokus perhatian Pemerintah Kota Jayapura, yang berupaya mencari cara agar kondisi psikologis mereka tetap terjaga di tengah keterbatasan fasilitas.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seperti logistik makanan dan pakaian memang telah tersalurkan secara rutin. Namun, hidup dalam ruang terbatas dengan privasi yang minim selama lebih dari sepekan mulai memicu tekanan tersendiri bagi warga, terutama bagi anak-anak dan kelompok lanjut usia yang berada di lokasi pengungsian.
Upaya Pemulihan Psikologis Warga Terdampak
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, menjelaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan tim di lapangan untuk tidak hanya fokus pada bantuan fisik. Sejak hari pertama kejadian, pemerintah memang telah menginisiasi program trauma healing untuk membantu warga memproses peristiwa traumatis yang mereka alami saat kehilangan tempat tinggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski langkah tersebut telah berjalan, Mathius mengakui bahwa kejenuhan adalah tantangan yang tidak bisa dihindari dalam masa transisi pascabencana. Ia menyadari bahwa tinggal di tenda pengungsian dalam jangka waktu yang belum ditentukan sangat menguras energi mental para korban kebakaran.
“Sudah berlangsung delapan hari warga atau korban ada di pengungsian. Tentu rasa jenuh itu sudah ada. Perlu ada hiburan. Nanti pemerintah akan memikirkan kira-kira penanganan seperti apa untuk menghilangkan rasa jenuh daripada para pengungsi ini.”
— Mathius Pawara
Pemerintah kini tengah merumuskan beberapa kegiatan pendukung untuk memecah rutinitas warga di tenda pengungsian. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih cair, sehingga warga tidak terus-menerus terkurung dalam bayang-bayang musibah yang baru saja menimpa mereka.
Hingga hari ke-8 masa tanggap darurat, pemerintah terus memantau kondisi kesehatan mental sedikitnya ratusan jiwa yang masih bertahan di lokasi pengungsian sementara pascakebakaran Dok Lima.
Strategi Penanganan Masa Transisi
Selain memberikan hiburan, pemerintah daerah juga mempertimbangkan untuk melibatkan komunitas atau relawan dalam kegiatan sosial yang lebih interaktif. Hal ini dinilai penting agar warga merasa tetap memiliki aktivitas yang produktif meski ruang gerak mereka terbatas.
Kegiatan berbasis kelompok seperti senam pagi bersama atau permainan edukatif bagi anak-anak dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi tingkat stres di lingkungan pengungsian.
Langkah-langkah yang sedang dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Jayapura mencakup beberapa poin strategis berikut:
- Penyediaan ruang aktivitas khusus yang aman bagi anak-anak untuk bermain dan belajar agar mereka tidak jenuh berada di dalam tenda.
- Pelibatan tenaga medis dan psikolog untuk melakukan pendampingan secara berkala guna memantau kesehatan mental warga secara lebih mendalam.
- Penyusunan jadwal kegiatan harian yang melibatkan partisipasi aktif warga agar mereka merasa memiliki kendali atas keseharian mereka di lokasi pengungsian.
- Koordinasi dengan pihak swasta atau organisasi masyarakat untuk memberikan bantuan hiburan yang edukatif dan menenangkan.
Penting untuk dipahami bahwa setiap bentuk intervensi psikologis harus dilakukan dengan pendekatan yang sensitif agar tidak justru menambah beban bagi warga yang masih berduka.
Pemerintah berharap bahwa melalui kombinasi bantuan fisik dan perhatian terhadap kesehatan mental ini, para pengungsi dapat bertahan dengan lebih baik hingga rencana pemulihan tempat tinggal mereka dapat terealisasi. Fokus utama saat ini adalah memastikan tidak ada warga yang mengalami penurunan kondisi kesehatan akibat tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Pertanyaan Umum
Apa saja bentuk trauma healing yang telah diberikan?
Pemerintah Kota Jayapura telah menurunkan tim khusus untuk memberikan pendampingan psikologis sejak masa awal pengungsian. Fokus utamanya adalah membantu warga, terutama anak-anak, untuk beradaptasi kembali setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
Bagaimana warga dapat menyampaikan keluhan selama di pengungsian?
Warga diimbau untuk berkoordinasi langsung dengan posko utama yang dijaga oleh Dinas Sosial dan perangkat kelurahan setempat. Petugas di lapangan siap menampung aspirasi terkait kebutuhan logistik maupun keluhan psikologis yang dialami warga.
Sampai kapan warga berada di pengungsian?
Masa tinggal di pengungsian bergantung pada percepatan proses pemulihan dan penyiapan hunian sementara atau permanen. Pemerintah saat ini masih melakukan koordinasi terkait langkah tindak lanjut bagi warga terdampak kebakaran Dok Lima.
Ringkasan
Setelah delapan hari mengungsi akibat kebakaran di Dok Lima, Jayapura, warga mulai mengalami kejenuhan dan tekanan psikologis meskipun kebutuhan logistik dasar mereka telah terpenuhi.
Untuk mengatasinya, Pemerintah Kota Jayapura kini menyiapkan program hiburan, aktivitas interaktif, dan pendampingan psikologis berkala guna menjaga kesehatan mental para korban.






