Redaksiku.com – Kabar beras bantuan berserakan di tanah di Tapanuli Utara viral di media sosial setelah warga mengunggah video kondisi karung bantuan yang pecah usai dijatuhkan dari helikopter.
Dalam rekaman yang menyebar cepat di TikTok, terlihat warga hanya memegang karung kosong sambil menunjukkan sisa-sisa beras yang mengotori tanah.
Bantuan itu seharusnya menjadi suplai darurat bagi warga yang terdampak banjir dan longsor di wilayah Tapanuli Utara Sibolga. Namun, kondisi medan yang terputus membuat distribusi dilakukan lewat udara, dan beberapa paket logistik tampak tidak mendarat dengan aman.
Peristiwa ini memicu reaksi besar dari publik. Banyak yang menyayangkan metode distribusi yang dianggap tidak tepat, sementara warga yang membutuhkan justru terpaksa mengumpulkan beras dari tanah dalam situasi darurat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Video Menunjukkan Beras Bantuan Berserakan di Lokasi
Video beras bantuan berserakan di tanah memperlihatkan beberapa warga memegang karung kosong sambil menunjukkan kondisi paket yang hancur. Dalam rekaman, beras terlihat tercecer di tanah dan tidak dapat dikonsumsi.
Seorang pria dalam video itu berkata dengan nada kecewa, Bapak perhatikanlah beras ini, Pak. Cuma dijatuhkan dari pesawat. Karung yang bolong dan isi beras yang hilang jadi bukti bahwa sebagian bantuan tidak diterima dengan layak.
Unggahan tersebut langsung dikomentari ribuan netizen, banyak yang marah, banyak yang sedih, banyak juga yang menilai pemerintah harus mengevaluasi cara distribusi semacam ini.
Warga Mengaku Bantuan Tak Bisa Dimakan
Keluhan warga makin ramai setelah mereka menyebut bahwa paket beras bantuan berserakan di tanah yang jatuh itu tidak dapat dimakan. Beras yang seharusnya menjadi penyambung hidup malah berubah menjadi tumpukan butiran yang bercampur tanah.
Kami dibantu tapi tidak ada gunanya, ujar seorang warga dalam video, menunjukkan karung kosong yang ia temukan.
Warga lain juga mengadu bahwa anak-anak sudah mulai kelaparan karena distribusi yang tidak merata dan tidak layak.
Situasinya berat, mengingat banyak desa dalam kondisi terisolasi total akibat akses darat runtuh.
Bantuan Dikirim Lewat Udara karena Akses Terputus
Distribusi lewat udara dilakukan karena kondisi medan sangat sulit. Jalan utama menuju beberapa desa benar-benar terputus akibat longsor dan banjir.
TNI AU dan Polri menerjunkan puluhan helibox yang berisi makanan siap saji, air bersih, beras, obat-obatan, selimut, dan logistik darurat lainnya. Namun, metode udara ini punya risiko fatal seperti yang terlihat dalam video beras bantuan berserakan di tanah.
Pemerintah menyebutkan bahwa situasi lapangan sangat dinamis, dan pengiriman udara sering kali menjadi satu-satunya opsi. Tapi warga berharap ada cara yang lebih aman agar bantuan tidak terbuang percuma.
Warga Terpaksa Mengumpulkan Sisa Beras di Lantai Tanah
Setelah beberapa paket jatuh dengan keras, warga terlihat berusaha mengumpulkan butiran beras yang tersisa di tanah.
Beberapa dari mereka mencoba menyelamatkan apa pun yang masih bisa dikonsumsi meskipun kondisinya tidak ideal.
Video itu menggambarkan kondisi darurat yang menyayat hati: warga korban bencana masih harus berebut menyelamatkan sisa makanan yang semestinya layak.
Anak-anak sudah kelaparan, kata warga lain dalam rekaman. Momen ini viral karena memperlihatkan benturan antara niat baik dan eksekusi yang tidak tepat.
Pemerintah Daerah Tanggapi Keluhan Warga
Pemerintah daerah melalui Gubernur Bobby Nasution menyatakan mereka akan mengevaluasi ulang mekanisme distribusi udara agar kasus seperti beras bantuan berserakan di tanah tidak terulang.
Pemantauan lewat udara terus dilakukan, dan tim lapangan diminta fokus ke daerah yang benar-benar terputus total. Namun belum ada pernyataan resmi apakah kerusakan paket bantuan di lokasi ini diakui atau akan ditindaklanjuti secara khusus.
Sementara itu, warga berharap ada penyaluran darat darurat yang lebih terkoordinasi.
Belum Ada Klarifikasi Resmi soal Bantuan yang Rusak
Hingga kini, pihak TNI, Polri, maupun pemerintah daerah belum memberikan klarifikasi detail mengenai klaim warga bahwa karung beras rusak saat dijatuhkan.
Pernyataan yang ada baru menyebut bahwa pengiriman udara dilakukan untuk mempercepat distribusi, bukan menjelaskan bagaimana paket bantuan bisa hancur.
Sementara itu, beredarnya video beras bantuan berserakan di tanah membuat publik menunggu penjelasan resmi mengenai apakah ada kesalahan teknis atau murni dampak dari kondisi lapangan yang ekstrem.
Kisah beras bantuan berserakan di tanah ini menggambarkan betapa sulitnya proses penyaluran logistik ke wilayah bencana dengan akses terbatas.
Dalam situasi darurat, niat baik memang tidak selalu berjalan mulus dan warga Tapanuli Utara yang terdampak banjir dan longsor merasakan langsung konsekuensinya.
Warga masih berharap bantuan darurat berikutnya bisa tiba dengan aman, merata, dan benar-benar bisa dikonsumsi tanpa ada yang terbuang percuma. Situasi yang mereka hadapi belum selesai, dan setiap bantuan sangat berarti.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau






