Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part.5)

- Penulis

Kamis, 28 November 2024 - 13:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part.5)

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part.5)

Bab. 5

Tuhan tidak hanya menjodohkan kita dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama, agar kita bisa merasa nyaman dengan pasangan. Namun, tidak hanya itu, Dia juga menjodohkan kita dengan orang-orang yang memiliki perbedaan, bahkan dalam banyak hal tetap bisa saling melengkapi satu sama lain agar mereka tetap bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang mereka lewati.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap kejadian yang manusia alami tidak ada yang kebetulan. Semuanya merupakan rencana yang indah dari Tuhan. Salah satunya Tuhan jadikan aku berteman dengan Fania sebagai jalan untuk mengenal Haura. Haura, sebenarnya dulu kuliah di kampus yang sama denganku dan juga Fania. Hanya saja, kami beda angkatan, fakultas dan jurusan. Tapi, kenapa dulu aku nggak pernah ketemu sama dia, ya? Ah, sungguh proses yang sedikit rumit tapi indah.

 

Satu tahun telah berlalu. Hubunganku  dengan Haura semakin lebih dekat.  Lagi-lagi aku yakin bahwa ini bukanlah suatu kebetulan semata. Mungkin ini  sudah menjadi salah satu rencana terindah dari Sang Maha Kuasa untukku dan Haura.

Setiap kami mengobrol sering membahas hal-hal yang serius, seperti bagaimana kelanjutan hubungan ini menuju ke jenjang yang lebih serius, tentang rencana menikah, dan rencana-rencana yang kami susun untuk merajut masa depan bersama.

 

Aku dan Haura memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Kami sama-sama suka suasana yang tenang dan damai. Saat mengunjungi suatu tempat kami akan memilih tempat tersendiri yang tidak banyak orang berlalu lalang. Kami akan betah berlama-lama menikmati suasana malam yang sepi yang hanya ditemani kerlip bintang dan suara nyanyian serangga malam.

 

Namun, aku dan Haura juga memiliki beberapa hal yang berbeda. Aku si Dendrophile (orang yang menyukai pepohonan dan hutan) dan Orophile (orang yang menyukai gunung dan suka mendaki), sedangkan dia si Thalassophile (orang yang menyukai laut). Selain itu, Haura juga memiliki hobi membaca, sedangkan aku bukannya tidak suka membaca, hanya saja mudah mengantuk dan pusing kepala saat berlama-lama membaca buku.

 

Suatu malam kami menikmati indahnya malam di sebuah cafe. Cafe ini menjadi tempat favorit kami berdua. Di cafe ini ada sebuah halaman yang cukup luas  yang ditumbuhi rerumputan.

 

Beberapa lazy bean bag sofa di pasang di halaman ini. Lampu taman yang redup sengaja di pasang sedikit menjauh agar pengunjung bisa menikmati indahnya langit malam yang bertabur bintang-bintang. Suasana seperti ini yang menjadi daya tarik tersendiri dari cafe ini.

 

Saat itu kebetulan bukan di akhir pekan, sehingga pengunjung cafe sedang tidak banyak. Saat itulah untuk pertama kalinya aku mencoba mengungkapkan keinginanku untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, yaitu pernikahan.

 

“Ra, kamu tahu nggak? Aku lagi memikirkan seorang perempuan yang beberapa hari ini memenuhi pikiranku.” Aku menatap binar matanya.

 

“Hmm, siapa perempuan itu? Kapan kamu temui dia? Di mana, aku kenal nggak sama orang itu?” cecarnya. Aku menagkap ada sinyal-sinyal kecemburuan di matanya.

 

“Ssst. Dengarkan dulu sampai aku selesai bicara,” cegahku. Sebenarnya aku sedang merasa gugup, tetapi aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi gejolak rasa ini.

 

“Oh, oke, sorry.” Ia menungguku melanjutkan

 

“Setiap kali aku bertemu dengannya, semakin aku sadar betapa menariknya perempuan yang satu ini. Selama itu pula aku sungguh mengaguminya. Aku tak pernah tahu pasti sudah berapa lama hatiku terpikat oleh wanita cerdas dan cantik seperti dia.”

Aku berhenti sejenak, lalu menghela napas.

“Aku selalu terpukau pada caranya memandang dunia ini. Aku tahu, cinta itu bukan sekadar ucapan. Cinta bukan pula sesuatu yang bisa dipermainkan. Cinta itu tidak seperti lirik dalam sebuah lagu yang dimulai di bulan Desember lalu berakhir di Januari. Cinta seharusnya tanpa akhir. Selamanya, abadi.” Wajah Haura mulai sedikit berubah memerah, rasa cemburu sudah mulai mengambil alih hati yang semula damai-damai saja.

 

Aku memperbaiki posisi duduk, menatap Haura masih bisa menahan cemburunya dengan berusaha terlihat tenang mendengarkan ucapanku. “Cinta itu untuk masa sekarang dan masa depan. Lalu ….”

“Irfan, seriuskah kamu? Kamu anggap aku ini apa? Teganya kamu memuji perempuan lain di depanku!” ucap Haura lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.

 

“Hei, Cantik! Please dengarkan dulu. Aku belum selesai bicara.” Aku meraih tangannya. Haura menunduk. “Sayang, lihat aku! Maksudku … maukah kamu melewati setiap hari, bulan, dan tahun merajut masa depan denganku? Maukah kamu menikah denganku?” rayuku.

 

Aku menatap matanya. Ada sesuatu keterkejutan yang terpancar dan tak bisa disembunyikan dari sorot matanya itu. Ia masih tetap diam. Namun, ia tak bisa menyembunyikan reaksinya yang salah tingkah. Ia menunduk dan tersenyum.

 

“Hei, Ra. Are you okay?”

 

“Irfan, kamu serius? Jangan bercanda, deh. Aku kira kamu ….” Haura tak melanjutkan ucapannya.

 

“Seriuslah. Apa aku terlihat sedang mengajakmu bercanda? Makanya, dengarkn dulu sampai selesai kalau aku lagi bicara. Ra, aku serius. Aku butuh jawabanmu,” ucapku.

 

Aku pun menangkap sinyal-sinyal cinta darinya. Ia tersipu malu. Pipinya semakin merona menambah cantik wajahnya yang terkena cahaya dari lampu cafe. Namun, Haura masih belum mengucapkan apa pun.

 

“Jadi …?” selidikku menuntut segera jawaban darinya.

 

Haura mengangguk, lalu menunduk tersipu sampai akhirnya aku mendengar ia mengucapkan, “Iya,” lirihnya.

 

“Yes!!” Sahutku sambil mengepalkan dan mengangkat tangan penuh semangat. Hatiku sangat berbunga-bunga. Aku hampir saja berteriak dan melompat kegirangan kalau saja tidak ingat sedang berada di tempat umum. Sadar Haura tengah memerhatikanku, aku pun segera menarik tanganku. Malu.

 

“Ma-maaf. Tadi itu reflek. Habisnya aku sangat senang. Terima kasih, ya, Ra,” ucapku.

 

Haura pun hanya tersenyum. Suasana di antara kami menjadi hening sejenak. Hatiku terasa terbang ke atas awan. Aku pun sebenarnya menangkap sinyal-sinyal rasa yang ia pancarkan dari perubahan perilakunya saat kami sedang berduaan.

 

Aku menikmati proses ini dengan bahagia. Dia gadis yang aku inginkan. Semoga saja hubungan ini bisa berlanjut hingga aku bisa melamarnya untuk menjadi pendamping hidupku hingga tua nanti.

 

Detik demi detik terus bergulir. Hari berganti bulan. Tak terasa hubunganku dengannya sudah satu tahun berlalu. Haura memang bukan cinta pertamaku. Namun, aku selalu yakin dan berharap dia adalah tambatan cinta terakhirku. Dia adalah akhir dari petualangan pencarian cintaku.

 

Dari beberapa perempuan yang pernah mewarnai perjalanan kisah cintaku, hatiku berkata Haura perempuan yang berbeda dari lainnya. Dia begitu memikat hatiku. Hatiku sudah tertaut padanya. Aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Aku ingin menikahinya.  Meskipun, dalam setiap hubungan ada saja ujiannya. Tapi, Haura tetap setia dan bertahan menjalani hubungan ini.

 

“Ra, tahukah kamu, ada miliyaran manusia tercipta di bumi ini, dan dari semuanya itu intuisiku selalu tertuju kepadamu,” ucapku saat itu.

 

“Alaaah, gombal,” ledek Haura sambil melemparkan kertas tisu yang ia remas-remas membentuk bola kertas.

 

“Eh, serius lho. Gak percaya?”

 

“Nggak! Kalau kamu memang serius, buktikan! Beranikah  kamu datang ke rumah orang tuaku? Datang dan bicaralah pada Papaku kalau kamu mau melamarku!”

 

“Siapa takut? Beranilah! Tapi, nggak sekarang, juga, ya,” jawabku.

 

“Ya iya lah. Ini kan sudah malam. Kapan?”

 

“Beri waktu aku untuk berpikir, tolong ….” Aku merengek penuh harap.

 

“Aku tak mau menunggu terlalu lama. Aku butuh kepastian darimu, Fan. Kamu beneran serius mencintaiku, kan?”

 

Sejak malam itu aku terus memikirkan tentang hubunganku dengan Haura. Apakah aku bisa menjadi imam yang baik untuknya? Sementara aku terkadang tidak bisa sepenuhnya menjaga hatiku.

 

Jiwa mudaku masih bergejolak. Aku laki-laki dan masih muda. Aku masih memiliki banyak waktu untuk penjajakan mencari cinta yang cocok. Begitulah pikirku saat itu.

 

Selama aku berpacaran dengan Haura, semua terasa begitu indah. Tak pernah kujumpai masalah yang berarti.

 

Aku selalu teringat dengan perkataan ibu. Ibu yang meminta aku untuk mulai mencari perempuan yang benar-benar mau serius dalam hubungan dan segera membina rumah tangga.

 

“Nak, kamu itu sudah dewasa sekarang. Sudah waktunya memikirkan masa depan, bukan lagi buat main-main. Kalau sudah punya teman perempuan yang dekat denganmu dan kamu merasa dia cocok jadi pendampingmu, segera bawa ke sini. Kenalin sama ibu, lalu kita melamarnya,” ucap ibu suatu malam selesai makan malam.

 

“Iya, Bu. Irfan tahu. Ada, sih, perempuan yang lagi Irfan dekati. Tapi, untuk saat ini aku masih belum yakin apa aku bisa menjadi imam yang baik, Bu?

 

Iya, benar kata ibu. Aku sudah waktunya memikirkan masa depan. Tidak mungkin hidupku akan begini terus. Sudah waktunya serius untuk mencari calon istri. Sudah cukup masa petualangan cinta yang kulalui. Aku yakin Haura sosok yang tepat untuk menjadi istriku.

 

Apa lagi yang aku ragukan? Lagi pula Haura juga pernah mengatakan ia bersedia menikah denganku. Tuhan, tunjukkan jalan yang terbaik untukku, lirihku dalam doa.

 

Dalam kebimbanganku aku memohonnpetunjuk pada Allah. Di sepertiga malamku, aku mencoba merayu Allah dalam keheningan. Aku memohon dalam setiap sujud dan doa agar diberikan petunjuk jalan terbaik. Jika memang Haura jodoh terbaik untuk dunia dan akhiratku, tautkan hatiku dan hatinya untuk selalu bersama dalam satu tujuan cinta. Tapi, jika memang Haura bukan jodohku, jauhkan ia dari kehidupanku untuk selamanya.

 

Doa itu yang selalu kupanjatkan setiap selesai melakukan salat Istikharah. Sebab aku sadar, sebagai manausia aku memiliki rencana, keinginan dan harapan, tetapi Allah yang menentukan segala takdir seluruh makhluk.

 

Sebelum aku menemui orang tua Haura rencananya aku akan membawanya ke rumah untuk kukenalkan Haura pada orang tua dan keluargaku.

 

“Ra, sebelum aku menemui Papamu, aku ingin mengenalkanmu pada Bapak dan Ibu. Mau, kan?”

 

“Aku mau, kapan?”

 

“Kalau kamu siap, sekarang juga boleh.”

 

“Ayo!”

 

Sore itu aku dan Haura sudah waktunya untuk kencan berdua. Tapi aku lebih mengajaknya menemui ibu dan bapakku di rumah. Rupanya Haura pun mengiyakan. Saat kami datang, seisi rumah terlihat sepi, ternyata ibu dan Bapak sedang bersantai di teras balkon lantai dua. Aku mendekati mereka, memberi tahu bahwa Haura sedang menunggu mereka di bawah.

 

“Bu, Pak, maaf ada seseorang yang mau bertemu Ibu dan Bapak. Irfan kenalkan pada Ibu dan Bapak,” ucapku.

 

“Mau ketemu Ibu sama Bapak? Siapa?” tanya ibu. Aku turun menemui Haura yang menunggu di kursi teras rumah. Lalu, aku mempersilakan Haura masuk dan duduk di ruang tamu. Tak lama ibu dan bapak menyusul.

 

“Eh, ada tamu rupanya. Sudah lama menunggu?” sapa ibu. Haura segera bangkit dari duduk dan mengulurkan tangan untuk salim pada ibu, disusul bapak.

 

“Bu, Pak, kenalkan ini Haura, pacarku, doakan, ya, semoga kami berjodoh,” Aku melirik ke arah Haura. Ia mengangguk dan menyunggingkan senyum pada ibu, lalu pada Bapak.

 

“Haura.”

 

Haura mengulurkan tangan untuk salim dan mencium tangan kedua orang tuaku. Ibu dan bapak menyambut uluran tangan Haura. Tidak ada yang aneh. Semua berjalan sewajarnya. Haura memang masih terlihat canggung di depan ibu dan bapakku. Tidak apa-apa. Wajar saja, namanya juga pertemuan pertama.

 

“Nak Haura satu kantor sama Irfan?”

 

“Nggak, Bu. Eh, maaf saya harus memanggil dengan apa?”

 

“Nggak apa, Nak. Apa pun boleh. Senyamannya Nak Haura saja,” ucap ibu

 

“Saya kerja di kampus swasta, Bu.”

 

“Sudah lama kenal sama Irfan?”

 

“Kurang lebih satu tahun, Bu.” Haura masih terlihat gugup.

 

Haura, ibu dan bapak masih asik mengobrol. Sesekali terdengar tawa mereka. Aku merasa lega karena Haura bisa mengakrabkan diri dengan keluargaku.

 

Setelah ibu dan bapak merasa cukup untuk sedikit ‘meng-interview’ calon menantunya, ibu dan bapak undur diri untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan kami berdua di ruang tamu.

 

Kini wajah Haura sudah terlihat lebih santai. Tak setegang sebelum bertemu dan mengobrol dengan ibu dan bapak.

 

“Ra, are you oke?”

 

“Yeah, kenapa emangnya?” Haura menautkan kedua alisnya. “Ibu dan bapak asik juga, ya. Baik orangnya. Tak seperti yang aku khawatirkan. Tadi sebelum aku sampai ke sini, aku sudah over thinking. Ternyata tak semenakutkan itu. He he he.”

 

“Terima kasih ya, Ra.”

 

“Untuk apa?”

 

“Iya, kamu sudah mau aku ajak untuk mengenal keluargaku. Dan …, dari cara kamu ngobrol sama ibu dan bapakku tadi, menunjukkan kalau kamu enjoy dengan proses ini. Aku sangat senang. Semoga setelah kita menikah nanti istriku dengan orang tua dan keluargaku semakin dekat.”

 

“Amin.”

 

Hari itu aku berhasil mengenalkan  Haura dengan orang tuaku. Satu langkah pasti membuatku semakin yakin untuk segera melamar dan menikahi Haura. Ibu dan bapak telah memberikan sinyal lampu hijau untuk melanjutkan pada hubungan serius berikutnya, menikah.

 

Setelah keluargaku mengenal Haura, aku sempat beberapa kali  mengajak Haura ke rumah. Haura juga sudah semakin akrab dengan keluargaku, terlebih ibu. Itu sebabnya, aku tak ingin Haura lebih lama menanti.

 

“Irfan, kamu nggak lupa, kan sama janjimu? Kamu pernah janji untuk datang ke rumah untuk melamarku pada kedua orang tuaku,” ucap Haura.

 

“Iya, aku sedang menunggu waktu yang tepat. Sabar, ya,”

 

Sepulang mengantar Haura dari undangan pernikahan teman Haura aku sengaja untuk mampir sejenak bertemu dengan kedua orang tuanya. Papa dan mamanya menyambut baik kehadiranku. Aku sempat diinterogasi beberapa pertanyaan.

 

“Sudah berapa lama kenal Haura?” tanya Papa Haura. Aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Pembawaannya yang tegas tapi tetap memberika kesan wibawa.

 

“Kurang lebih setahun, Om,” jawabku.

 

“Sudah lama juga, ya. Nak Irfan kerja? Satu kantor sama Haura? Atau ….” Papa Haura tak melanjutkan perkataannya.

 

“Tidak, Om. Aku tidak sekantor dengan Haura. Pekerjaan kami pun tidak saling berhubungan. Kami memang satu almamater, hanya beda angkatan. Saya … temannya Fania.”

 

“Oh, jadi, kamu kenal Fania?”

 

“Iya, Om. Dulu kami satu kelas.”

 

Aku mencoba mengakrabkan diri dengan kedua orang tua Haura terutama sang Papa. Karena biasanya anak perempuan adalah anak kesayangan ayahnya. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padaku, aku sangat bisa merasakan betapa sayangnya seorang ayah kepada anak gadisnya ini. Ini bisa menjadi bekal untukku bagaimana seorang ayah memberikan perlakuan yang baik terhadap anak gadisnya. Karena setelah menikah nanti tanggung jawab seorang ayah akan dilimpahkan ke pundak suaminya.

 

Aku semakin yakin untuk menikahi Haura setelah kedua orang tuanya memberikan sinyal-sinyal restu untuk melanjutkan hubungan ini. Tekatku semakin kuat.

 

Banyak hal yang harus aku persiapkan sebelum melangkah lebih jauh untuk membina rumah tangga. Aku mulai sering menyempatkan diri membaca buku-buku tentang persiapan pernikahan dan berumah tangga, membaca buku dan literatur lain tentang parenting. Sebab setelah memerhatikan dan mengobrol dengan orang tua Haura, aku yakin mereka telah banyak belajar untuk menerapkan parenting yang baik untuk mendidik anak-anaknya. Haura sebagai contohnya. Jika bukan dilahirkan dan dididik oleh orang tua yang baik, tidak akan terbentuk kepribadian yang baik dan akhlak yang santun seperti Haura.

 

Selain membaca buku aku juga mulai sering mencari informasi dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Aku mulai sering mengunjungi teman-teman yang telah lebih dulu menikah untuk meminta sedikit nasihat dari pengalaman-pengalaman mereka.

 

Waktu terus berjalan. Hari pun berganti. Tibalah saatnya momen untuk melamar Haura. Aku harus mempersiapkan segala keperluannya. Begitu pun dengan Haura. Aku harus menyelaraskan tujuan, visi dan misi tentang masa depan yang akan kami bangun bersama.

 

“Fan, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan sebelum kita menikah. Karena, apa yang akan kusampaikan ini adalah hal-hal penting yang bisa menjadi pemicu sesuatu yang besar.”

 

“Oke … baiklah. Sampaikan saja.” Cukup lama Haura hanya diam. Pandangannya  menerawang jauh. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

 

“Aku ingin memastikan apa kamu masih yakin dan sungguh mencintaiku?” Ia menatapku sambil mengaduk minuman di depannya yang sebenarnya sudah larut sedari tadi. Sorot matanya penuh selidik.

 

“Sayangku, cintaku, lihat aku dan dengarkan baik-baik.” Aku mengubah posisi dudukku. Kusentuh bahunya,  menyejajarkan posisinya agar pandangannya tepat di depan mataku. Lalu, “I love you much, much, much, more! Aku akan buktikan secepatnya. Minggu depan aku akan bawa keluargaku untuk datang ke Papa Mamamu melamarmu.” Aku menggamit jemarinya, lalu mengecup kedua punggung tangannya. “Kamu percaya padaku, kan?” tanyaku.

 

Haura tersenyum dan menganggukkan kepala tanda mengiyakan pertanyaanku.

 

“Bukan hanya itu, Irfan.” Ia menghela napas. “Setelah menikah nanti, aku tetap punya kebebasan untuk memilih, kan? Maksudku, memilih untuk melakukan apa yang aku mau. Mmm, maksudku …, apa aku bebas memilih mau stay di rumah atau tetap bekerja?” tanya Haura meminta kepastian.

 

“Tentu saja, Ra. Kamu boleh memilih apa pun yang ingin kamu lakukan. Kamu boleh memilih sesukamu. Menjadi ibu rumah tangga yang full mengurus keluarga di rumah  atau akan menjadi working mom, asalkan kamu bisa mempertanggungjawabkan pilihanmu itu.”

 

“Maksud aku, kamu tidak akan keberatan, kan, seandainya nanti aku memilih  tetap melanjutkan karierku?”

 

“Iya, Sayang. Aku tahu. Aku tahu seorang istri juga tetap memiliki hak untuk tetap mengembangkan potensi dirinya. Aku juga ingin istriku tetap bahagia dan berkembang dalam kariernya sama seperti sebelum aku menikahinya.”

 

“Alhamdulillah. Terima kasih, ya.” Senyum manis terkembang di wajah ayunya. Lalu, “Poin selanjutnya, soal finansial keluarga. Aku mau kita saling terbuka tentang kondisi keuangan. Tentang penghasilan dan lain-lainnya. Aku ingin saat kita sama-sama berpenghasilan, kita sisihkan sebagian untuk tabungan investasi, tabungan darurat, bersama untuk masa depan keluarga kita. Tanggung jawab pengelolaan keuangan ini menjadi tanggung jawab bersama. Apa kamu setuju?”

 

“Masalah keuangan rumah tangga  menjadi tanggung jawabku sebagai suami sebagai kepala keluarga. Sebagaimana aturan dalam agama kita bahwa nafkah keluarga adalah tanggung jawab penuh bagi suami. Untuk pengaturan dan pengelolaannya aku serahkan padamu nanti kalau kamu sudah menjadi istriku. Kamu boleh mengatur dan menggunakan uang yang aku berikan kepadamu untuk segala macam kebutuhanku, kebutuhanmu, kebutuhan anak-anak, dan kebutuhan kita.” Haura memerhatikanku dengan saksama.

 

“Kalau seandainya, nih, aku tak bekerja, tapi  ingin  memberi sesuatu hadiah atau semacamnya untuk kedua orang tua dan keluargaku tapi pakai uang kita kamu keberatan, nggak?”

 

“Jelas boleh, dong. Aku nggak akan keberatan, Sayang. Bagaimana pun setelah menikah nanti aku memiliki dua bapak dan dua ibu. Mereka semua menjadi orang tua kita. Tidak ada orang tuaku atau pun orang tuamu. Aku pun berharap kamu juga sama terhadap orang tua dan keluargaku.”

 

Kami terdiam sejenak saat seorang pelayan datang menawarkan apakah kami akan menambah makanan atau minuman.

 

“Saat kita berumah tangga nanti, bagaimana dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak kita nanti? Aku ingin kita kerjakan sama-sama. Kita bisa saling bantu.”

 

“Iya. Aku sepakat. Untuk pekerjaan rumah dan mengurus anak kita bisa lakukan bersama-sama, karena urusan-urusan seperti ini sudah semestinya menjadi tanggung jawab kita berdua. Aku percaya kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk aku dan anak-anak kita nanti.”

 

Hari-hari berikutnya aku dan Haura disibukkan dengan persiapan acara lamaran atau pertunangan kami. Kami berdua mengurus segala perencanaan dan perlengkapan dibantu kerabat dan saudara terdekat. Karena acara lamaran dan pertunangan ini hanya sederhana saja dan dihadiri oleh keluarga besar saja.

 

Hari  pertunangan dan lamaran pun tiba. Semua sudah kupersiapkan dengan baik. Bapak dan Ibu sibuk menelpon saudara yang diundang untuk ikut mengantarkanku. Beberapa keluarga ada yang sedang menata barang-barang hantaran ke dalam mobil. Aku sudah berdandan rapi. Kali ini aku memakai baju batik berlengan panjang warna kobinasi coklat dan hitam dipadukan dengan celana panjang warna hitam.

 

Sambil menunggu anggota keluarga yang lain bersiap-siap, kubuka ponselku dan mengirim pesan untuk Haura.

 

[“Assalamualaikum. Ra, sebentar lagi aku dan keluarga akan beraangkat. Kami masih bersiap-siap. Pamanku yang dari luar kota masih dalam perjalanan.”] tulisku dalam pesan WA.

 

[“Waalaikumussalam. Iya, nanti aku sampaikan sama Mama dan Papa. Hati-hati di jalan, ya.”]

 

Sepuluh menit kemudian semua keluarga yang ditunggu pun tiba. Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.15. Tak menunggu lama, kami segera meluncur menuju rumah Haura.

 

Kami tiba di kediaman keluarga Haura tiga puluh menit kemudian. Keluarga kami mendapat sambutan hangat. Acara lamaran pun dimulai. Aku dan keluargaku menempati tempat yang telah disediakan oleh tuan rumah.

 

Rangkaian acara berjalan dengan lancar. Bapak menyampaikan maksud dan tujuan keluargaku yang datang untuk melamar Haura.

 

“Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Hendra Cahyadi, Ibu Ranti Kemalasari, dan segenap keluarga yang kami hormati, untuk sambutan yang sangat baik atas kedatangan kami ke sini.

Perkenankan, saya Lukman Wardana beserta istri orang tua dari Irfan Nizar Wardana untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dengan maksud dan tujuan kedatangan kami. Maksud kedatangan kami yang pertama adalah untuk menyambungkan silaturahmi agar bisa saling mengenal lebih dekat.

 

Seperti yang telah kita ketahui bahwa ananda Irfan Nizar Wardana telah lama mengenal ananda Meidina Haura Bening. Yang menjadi pertanyaan buat kami adalah apakah ananda Meidina Haura Bening sudah mempunyai ikatan dengan laki-laki lain?” Bapak memberikan pertanyaan kepada keluarga Haura. Lalu, Papa Haura menjawab, “Belum ada.” Lalu, Bapak melanjutkan sambutannya.

 

“Jika memang belum ada yang melamar ananda Haura, maka izinkan anak kami yang bernama Irfan Nizar Wardana untuk melamar anak Bapak yang bernama Meidina Haura Bening.”

 

Kemudian Papa Haura memberikan sambutan sebagai jawaban atas permintaan Irfan dan keluarganya.

 

“Terima kasih atas niat baik ananda Irfan Nizar Wardana untuk melamar putri saya. Untuk jawaban atas permintaan ananda Irfan dan keluarga mari kita simak langsung jawaban dari ananda Haura. Bagaimana, Nak? Apakah kamu menerima lamaran dari Nak Irfan?” tanya Papa Haura.

 

Haura yang saat itu terlihat sangat anggun dan cantik menawan dengan balutan busana kebaya berwarna cream dan balutan hijabnya, “Terima kasih atas niat Irfan Nizar Wardana untuk melamar saya. Insya allah dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim dan atas restu dari Papa dan Mama saya bersedia menerima kamu sebagai calon suami saya. Semoga Allah meridai niat baik ini dan melancarkan prosesnya hingga akad nikah nanti.” Suara Haura bergetar karena menahan haru.

 

Aku sangat senang dan bersyukur proses lamaran ini telah terlaksana dengan lancar. Pada bulan-bulan berikutnya keluarga kami saling berkunjung dan berkumpul untuk membicarakan rencana pernikahan kami nanti. Semoga rencana indah ini berjalan lancar hingga sampai di hari yang bersejarah bagi aku dan Haura.

 

 

 

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

2 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Internasional

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:53 WIB