Novel: Nayanika (Part 7)

- Penulis

Minggu, 29 September 2024 - 16:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Nayanika (Part 7)

Ya ketawanya nggak gitu juga, balasku dengan nada kesal.

Emang ketawaku kayak gimana?

Aku memicingkan mata. Resek banget sih, Mas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Arya kembali ingin menimpali, tapi terhenti ketika seseorang muncul dari arah dalam.

Hayo, pada ngapain berduaan di sini? Nggak boleh loh. Belum halal.

Dia adalah Ayah Arya, yang berdasarkan penilaianku sekali lihat cukup ramah dan fleksibel. Ha! Dia tidak tahu saja anaknya pernah mengunjungiku di malam hari untuk memintaku menjadi istrinya.

Bicara soal WO.

Bapak-bapak dengan perawakan tinggi dengan perut sedikit buncit itu menatap anaknya seolah tidak percaya, lalu bergantian menatapku. Ada sebuah senyuman di sana. Senyuman tulus dan berbentuk penerimaan.

Jangan mau diajak ngapa-ngapain dulu sama Arya.

Ayah, tegur Arya dengan raut wajah datar. Bekas seringai menyebalkannya tadi sudah tidak tersisa di wajahnya.

Ayahnya mencolek lengan atas anaknya. Becanda. Kamu itu loh, Mas. Kaku banget kalau soal gini-gini. Kasihan Naya nanti.

Aku cukup lega melihat pribadi Ayah Arya yang seperti itu. Setidaknya di keluarga mereka ada yang bisa mencairkan suasana. Jika mendengar obrolan teman-temanku yang sudah menikah, mertua itu ada saja bentuk dan rupanya.

Kami kembali ke dalam karena yang lain sudah mulai kumpul di ruang tamu untuk menikmati sajian penutup. Aku menunduk ketika banyak pasang mata melihat kami datang dari arah luar, bersama ayahnya Arya pula. Tatapan mereka seperti memiliki arti, rasanya seolah tertangkap basah sedang melakukan hal-hal yang tidak senonoh.

Dengan perasaan malu, aku kembali duduk di samping Mama yang sedari tadi ikut tersenyum menggoda. Jika saja tubuhku bisa menyusut sekecil semut, maka aku akan berubah dan segera mencari lubang untuk menghilang.

***

Arya dan keluarganya sudah pulang, keluarga dari pihakku pun ikut pamit, tinggal aku, Mama yang kini memilah makanan yang masih bisa dipanaskan dan Bibik yang sibuk mencuci piring bekas pakai.

Aku sedang sibuk memisahkan piring bersih dan kotor untuk dicuci, namun pikiranku tidak pada benda-benda rapuh itu. Entah kenapa aku masih terganggu dengan sikap ibu Arya tadi. Sangat kontras dengan suaminya. Ibu Arya bahkan sempat menatapku lama tanpa ekspresi, seperti tidak menaruh minat padaku.

Entah apa yang salah, karena sebelumnya aku tidak pernah berinteraksi dengannya. Bahkan tadi adalah pertemuan kedua kami setelah kematian Diandra dulu. Jadi aku merasa tidak memiliki latar belakang masalah dengannya. Selama lamaran tadi pun rasanya aku cukup sopan dan tidak melakukan kebodohan seperti biasanya. Atau apakah hanya dengan diam aura kebodohanku nampak di matanya?

Mbak? Ada lagi piring kotornya?

Aku tersadar dengan panggilan Bibik. Aku melihat piring bersih yang sedari tadi kupegang, dan beberapa diantaranya yang sudah kotor.

Ada, Bi. Bentar.

Segera kubereskan kerjaanku, lalu menyerahkan semua piring kotor yang tersisa. Setelah tidak ada lagi, aku meminta ijin pada Mama untuk kembali duluan ke kamar. Aku sangat lelah malam ini, padahal dibandingkan Mama, kesibukanku tidak ada apa-apanya.

Aku berdiri di depan cermin, kembali meneliti wajahku dengan polesan hiasan. Tidak ada yang aneh, bahkan aku percaya diri mengatakan jika bayanganku di cermin tampak cantik malam ini. Lalu mengapa Arya menatapku seperti itu?

Kubuka jepitan rambut yang membentuk sanggul sederhana di rambutku. Kuraih kapas dan pembersih make up di meja rias, lalu mengusap wajah dengan memulai di bagian pipi kanan. Ketika hampir selesai, ketukan dari luar pintu kamar terdengar, dan tidak lama kemudian sosok Mama muncul di baliknya.

Udah bersih-bersih aja, Nay.

Aku tersenyum tipis. Capek banget, Ma. Habis ini mau mandi, lalu tidur.

Mama ikut membantuku melepas kancing kebaya yang berada di punggung. Mama sedari tadi perhatikan, kamu kok murung? Kenapa?

Aku menoleh sebentar melihat Mama, lalu kembali menatap cermin sambil menggeleng. Cuma capek, Ma.

Kenapa, Nay? Kali aja Mama bisa bantu? desaknya.

Sejujurnya aku mulai takut dengan keputusan yang kuambil. Apakah Arya dan keluarganya akan baik memperlakukanku? Apakah aku bisa memenuhi harapan mereka? Bisa menjadi ibu yang baik untuk Ren dan Hime? Duh, kenapa keraguan kembali muncul di saat seperti ini?

Ma, kok Naya jadi gimana ya? Takut kalau keluarga Arya nantinya nggak bisa Nerima Naya. Mamanya terutama. Aku memilih duduk di kursi rias, memutuskan untuk menceritakan kegelisahanku.

Mama menunduk, dahinya berkerut penuh tanya. Kenapa sama mamanya?

Aku mengangkat bahu. Kayak galak gitu loh, Ma.

Masa sih? Nggak kok. Selama Diandra menjadi menantunya, hubungan keduanya baik-baik aja. Mama dan dia juga sering saling mengunjungi. Ya, mungkin adalah beberapa masalah, namanya juga ibu mertua dan mantu, tapi rasanya bukan masalah yang besar juga.

Diandra nggak mau cerita mungkin, Ma, desakku lagi.

Kalau kayak gitu berarti Mama nggak bisa tahu. Mama merapikan rambutku, yang masih keras karena semprotan hair spray. Kenapa kamu nggak ngomongin ini ke Arya saja?

Aku menggeleng lemah. Nggak enak.

Mama mendesah, memegang kedua bahuku. Kalau udah nikah, nggak boleh ada kata nggak enak sama suami kamu sendiri. Masalah bagaimana pun harus kamu diskusikan. Biar plong. Nggak makan hati.

Meski tidak yakin bisa melakukannya, aku mengangguk patuh. Lalu memeluk perut Mama yang kini tepat berada depan wajahku. Apakah ini yang dimaksud oleh orang-orang? Ada semacam kebimbangan ketika menjelang hari pernikahan?

Part sebelum dan selanjutnya ->Nayanika

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru