Makanya, aku sengaja nggak ngasih tahu kalau aku mau pulang, pingin ngasih kejutan, tapi ternyata ¦ aku yang kaget. Bisa kamu bayangkan sakit hatiku saat itu? Melihat istri yang dirindukan pergi dengan lelaki lain? teriak Mas Bayu menggelegar.
Aku terlonjak, kaget dan takut. Dadaku sakit menahan tangis yang sedari tadi akan meluap. Pelan aku terisak. Belum pernah aku melihat Mas Bayu semarah ini. Namun, aku bersyukur, akhirnya terkuak juga alasan Mas Bayu berubah. Ternyata, ia merasa tertekan karena belum punya anak. Aku sudah menyangka sebetulnya, tapi berusaha tidak memercayainya.
Aku tak kuasa menahan tangis. Bahuku berguncang, semua luka dan kesedihan yang selama ini kupendam, keluar begitu saja. Ragu-ragu Mas Bayu menggenggam tanganku dan perlahan merengkuhku ke dalam pelukannya. Tangisku semakin keras. Semua kenangan pahit, kekecewaan, sakit hati, pertengkaran demi pertengkaran, meluap bagai air bah yang menemukan pintu keluar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Aku balas memeluk Mas Bayu.
Lalu, apa lagi yang membuatmu kecewa padaku? tanya Mas Bayu.
Kamu nggak perhatian, padahal hanya sekedar pesan ngingetin aku untuk tidak lupa makan atau sekedar nanya gimana kerjaku hari itu, itu sangat berarti buatku. Kamu selalu anggap remeh hal-hal kecil seperti itu, padahal bagiku sangat berarti, ujarku di tengah isakan yang semakin kencang.
Kita udah pernah bahas ini, kan? Aku bukan orang yang rajin memberi kabar. Untuk orang sepertiku sulit, Mir. Rasanya seperti dikekang, gitu, kesannya kamu nggak percaya padaku. Mas Bayu merenggangkan pelukannya, lalu dengan ibu jarinya ia mengangkat daguku agar menatap wajahnya. Lembut ia menyeka air mataku.
Aku nggak minta setiap saat, Mas. Sekali aja tiap pagi, sekaligus kamu kasih kabar kalau sudah selamat sampai di kantor. Nggak susah kan?
Memang nggak susah bagi yang sudah biasa, tapi kalau tipenya kayak aku gini, butuh usaha keras supaya nggak lupa.
Kenapa sih, kamu nggak mau coba dulu. Aku juga nggak minta langsung harus kamu lakukan, tapi paling nggak kamu mau janji untuk nyoba, gerutuku menekan rasa kesal yang mulai muncul lagi.
Iya ¦ iya ¦, aku akan coba. Mas Bayu mengalah.
Aku juga pingin didengarkan kalau lagi mau cerita. Selama ini, kalau pulang kantor, Mas langsung main HP, jarang banget mau dengar aku cerita atau ngobrol. Kalau aku tanya, selalu jawabnya capek, mau santai dulu, istirahat dulu ¦, lanjutku.
Terus ¦, apa lagi? Mas Bayu berdiri mengambil segelas air putih. Kamu mau minum? tawarnya.
Aku mengangguk. Memang sejak datang tadi aku belum sempat minum. Baru terasa sekarang kalau kerongkonganku kering. Mas Bayu memberikan segelas air dingin dan langsung kuteguk sampai habis. Rasa sejuk air dingin mengalir membasahi mulut dan kerongkonganku. Suasana kembali hening. Perutku tiba-tiba terasa perih, kulirik jam di tanganku, pukul 01.25. Pantas saja cacing-cacing di dalam sudah ramai bernyanyi. Aku teringat soto di dapur yang dimasak Mas Bayu.
Kamu lapar? Mas Bayu menahan tawa ketika mendengarkan suara aneh dari perutku.
Aku tersipu.
Aku masak soto, tuh. Mau makan?
Nggak, nanti aja. Aku belum selesai ngomong, tolakku cepat.
Baik, Tuan Putri, apa lagi salah hamba? Mas Bayu duduk kembali di sampingku.
Tadi, dengarkan aku kalau mau cerita, pulang kantor nggak boleh main HP.
Terus main HP-nya kapan? Mas Bayu memandangku dengan pandangan memelas.
Kalau aku udah selesai cerita. Kamu kan nggak ngerasain gimana bosannya aku di rumah, Mas. Sendirian, di negeri orang. Aku kembali menyeka air mata yang menetes.
Iya, aku janji akan selalu dengerin ceritamu. Sudah? Aku lapar, nih! Lanjut nanti lagi abis makan, ya?
Meskipun dongkol, aku setuju untuk makan siang. Bayangan segarnya soto panas mengalahkan rasa jengkelku pada Mas Bayu. Aku bergegas ke dapur untuk memanaskan soto. Mas Bayu menata piring di taman belakang, tempat kami akan makan siang. Setelah kuahnya panas, aku mengambilkan semangkuk untuk Mas Bayu. Kami menikmati makan siang sambil memandang bunga-bunga yang bermekaran di taman.
Jadi, kalau aku mengikuti semua yang kamu sebutkan tadi, kamu nggak akan minta cerai, kan? tanya Mas Bayu sambil menyeruput kuah sotonya dengan nikmat.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






