Mas Bayu mematikan laptopnya.
Ternyata aku salah! Memang kamu libur, tapi kamu bilang mau gowes aja sama grup sepedamu. Aku kecewa banget. Mas kan udah tiap libur sepedaan sama teman-temanmu, giliran aku minta kamu gabung sama teman-teman kantorku, kamu nggak mau! Aku mulai mengeluarkan semua keresahan yang selama ini kusimpan.
Cuman sekali aja, kok dimasalahin banget, sih? celetuknya tanpa beban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Darahku mulai naik ke ubun-ubun. Kali ini aku nggak mau lagi mengalah dan menganggap semua baik-baik aja.
Mas bilang cuman sekali? tanyaku dengan suara keras.
Nggak usah teriak, Mir! kata Mas Bayu tak kalah keras.
Aku tidak peduli lagi. Terus kenapa kalau aku teriak? tantangku. Bukan cuman sekali aja Mas nolak aku ajak tiap ada acara kantor. Selalu alasannya sibuk, padahal aku udah ngomong dari jauh-jauh hari, berharap kamu bisa meluangkan waktu saat akhir pekan. Aku kan juga pingin seperti pasangan yang lain, ditemani suaminya jalan-jalan.
Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. Mataku sudah penuh dengan air mata.
Jangankan acara kumpul akhir pekan, tiap aku ada acara pengajian pun, Mas nggak pernah mau jemput. Alasan kamu karena aku masih ada teman yang bisa nganterin pulang atau aku bisa jalan pulang sendiri. Ini pas udah di Riyadh. Kamu tahu gimana takutnya aku karena belum terbiasa jalan sendiri di tempat asing, tapi Mas nggak mau ngerti. Sama seperti kejadian waktu di Madinah. Gimana bisa Mas bilang kalau aku harus belajar mandiri, sementara aku baru sekali itu ke Madinah? Kamu nggak ngerasain takutnya aku waktu itu! seruku terputus-putus. Aku tak kuasa menahan tangis. Dadaku terasa sesak dan kepala berat seakan mau pecah.
Ya ampun, Mir! Aku berbuat kayak gitu memang supaya kamu mandiri dan tidak tergantung sama aku. Aku nggak selamanya bisa dampingin kamu, Amira. Kalau suatu hari nanti ada apa-apa yang menimpaku, kamu sudah terbiasa sendiri. Lagipula, aku ngelepas kamu juga pakai perhitungan, aku sudah perhitungkan bahaya apa nggaknya.
Kira-kira dong, Mas, kalau nyuruh aku mandiri. Nggak sore-sore aku disuruh jalan pulang sendiri. Kalau udah lama dan banyak teman, mungkin aku berani. Aku menyeka air mata dengan kasar.
OK. Soal pergi bareng teman-teman kantormu dulu, aku minta maaf. Terus terang, aku memang kurang nyaman pergi ramai-ramai kayak gitu. Aku nggak suka keramaian, Mir. Kamu kan tahu itu. Kalau kamu pingin liburan, tinggal bilang aja, nanti kita pergi berdua. Mas Bayu menghela napas.
Kamu nggak suka keramaian atau nggak suka kumpul sama teman-temanku? Buktinya kamu rajin kalau kumpul sama teman gowesmu. Lagipula, kalau pergi berdua kan udah sering, Mas. Aku pinginnya kita ramai-ramai. Aku pingin teman-teman kantorku kenal sama kamu, ngelihat kita berdua. Aku pingin ngasih tahu siapa suamiku, gimana aku bangga punya suami kayak Mas. Bukankah kalau orang tahu siapa suami atau istri kita, bisa mencegah fitnah? Apa aku salah?
Nggak salah, kok! Hanya masalahnya, aku nggak biasa aja. Berarti memang harus mencoba lebih terbuka lagi. Nah, kalau kayak gini kan enak, Mir. Jangan dipendam kalau kamu ngerasa ada yang salah. Langsung aja diomongin.
Aku juga nggak biasa ngomong langsung perasaanku, Mas. Aku takut nanti kamu nganggap aku manja, terlalu berlebihan seperti yang kamu bilang ke aku, kan?
Mas Bayu terdiam.
Kamu juga, Mas. Selama ini kalau ada masalah, selalu kamu pendam sendiri. Apa pernah kamu cerita sama aku kalau lagi ada masalah?
Aku pingin cerita, tapi takut kamunya keganggu. Takut kamu mikir aku lemah, kok suami ngeluh ke istrinya, padahal istrinya udah repot sama urusan rumah. Orang tuaku mengajarkan untuk selalu memecahkan masalah sendiri, tanpa merepotkan orang lain. Jadi, dari kecil aku sudah terbiasa mencari jalan keluar tiap masalahku sendiri. Aku nggak mau dianggap lemah, Mir! Itu aib buatku! Mas Bayu meremas rambut dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat lelah.
Ya Allah, Mas! Kamu nggak perlu malu untuk curhat masalah apa pun. Kita suami istri. Sudah seharusnya kita saling terbuka dan saling dukung, saling kasih masukan.
Mas Bayu bergeming.
Dulu kamu perhatian banget sama aku, sabar, dan lembut. Tapi, beberapa tahun terakhir ini kenapa kamu mulai nggak peduli? Aku bertanya sambil memandangnya.
Perlahan Mas Bayu mengangkat wajah dan balas menatapku. Ia terlihat ingin bicara, tapi ragu-ragu. Aku menanti dengan sabar.
Benar kamu mau tahu semua keresahanku? tanyanya pelan.
Aku mengiyakan.
Setelah menarik napas dan mengembuskannya, Mas Bayu mulai berbicara. Awal menikah memang aku sangat bahagia, aku sangat mencintaimu. Begitu juga tahun demi tahun yang kita lewati bersama. Rasa kecewa mulai hadir ketika Mama selalu menanyakan kapan kita punya anak. Mama berpikir kamu menggunakan alat kontrasepsi. Aku jelaskan kalau Allah memang belum memberikan kita keturunan.
Aku dengan sabar mendengarkan.
Lama-lama aku tertekan. Ingin sekali cerita sama kamu, tapi aku nggak sanggup. Kamu pasti akan marah dan terpukul. Makanya sejak itu aku seperti menarik diri, supaya kamu nggak merasakan perubahanku. Aku sayang kamu, Amira! Meskipun kamu belum bisa hamil, aku nggak akan meninggalkanmu. Aku sayang kamu! Itu juga sebabnya aku nekat menerima pekerjaan dari Pak Abdurrahman untuk membuka restoran di sini, dengan harapan bisa selalu dekat kamu karena kamu nggak mau pulang ke Riyadh. Mas Bayu berhenti sejenak.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






