Kamu nggak pernah mau ngerti perasaanku! Aku capek, Mas! Aku merasa berjuang sendirian, aku merasa kamu nggak pernah benar-benar cinta dan sayang padaku! jeritku putus asa. Memang aku salah karena cerita ke laki-laki lain, tapi aku butuh orang untuk mengeluarkan semua rasa kecewaku. Dan Pras mau mendengarkan tanpa menghakimi, tanpa mengatakan kalau aku terlalu sensitif dan berlebihan.
Mas Bayu akhirnya meletakkan ponselnya di nakas. Wajahnya mengeras.
Jadi sekarang kamu nyalahin aku? Semua salahku? Kamu lupa gimana kerasnya aku berusaha untuk berubah demi kamu? Demi pernikahan kita? Kamu lupa? sentak Mas Bayu keras. Terus karena kecewa, kamu boleh pergi dan curhat ke lelaki lain? Kenapa nggak cerita semuanya ke aku? cecarnya sambil menatapku tajam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku masih terisak. Entah kenapa, aku merasa menjadi manusia yang paling kotor dan hina.
Jangan-jangan kamu gencar banget minta pisah karena ada Pras? Kamu udah lama menjalin hubungan sama dia? Iya, Amira? Jawab!
Kamu jahat, Mas! Tega banget nuduh aku kayak gitu! Selama ini kan aku sama kamu di Riyadh, baru pulang saat menjelang puasa. Aku baru ketemu Pras saat di rumah Marisa, lebaran kemarin. Gimana bisa kamu nuduh aku kayak gitu?
Aku tersedu. Sakit sekali rasanya dituduh oleh suami sendiri. Salahku memang, kenapa harus ada rasa cinta terhadap Pras, seperti cintaku pada Mas Bayu. Bagaimana bisa aku mencintai dua orang lelaki sekaligus?
Sudah, Mir! Aku mau salat Magrib dulu. Kamu juga salat, deh! Minta ampun sama Allah kalau hati kamu udah ada niat-niat yang nggak benar. Kita masih suami istri. Kamu masih istriku. Jadi tolong jaga diri kamu sebagai seorang istri. Kamu kan yang selalu gencar ingin saling terbuka dan bicara? Kamu yang minta aku berubah?
Aku menyeka air mata dengan kasar.
Aku nggak akan kayak gini kalau Mas lebih peka sebagai suami! kataku geram.
Setelah itu aku berlalu untuk berwudu dan salat di kamar Ibu.
Tangisku berlanjut saat aku bersujud dan mengadukan semuanya pada Allah. Kulantunkan doa dalam isakan lirih. Aku memang salah. Harusnya aku bisa menjaga diri, menolak pesona seorang Prasetya. Aku lemah. Ya Allah, ampuni aku. Tolong bantu aku keluar dari masalah ini.
Pikiranku mengembara, teringat saat aku mulai tertarik lagi pada Pras, saat aku memutuskan untuk tidak pulang ke Riyadh dan mendengar suara kecewa Mas Bayu di telepon. Semuanya terekam dalam ingatan seperti sebuah adegan film yang diputar kembali.
Kamu kenapa, Mir? Kok kayak gelisah gitu? Pras menegurku ketika kami jalan berdua untuk yang kesekian kalinya.
Kali ini kami berada di sebuah bookcafe di daerah Tebet. Kami sengaja memilih tempat ini karena suasana kafe yang nyaman, perpaduan restoran dan perpustakaan. Jadi pengunjung dan pecinta buku bisa menikmati hidangan sambil membaca berbagai novel maupun buku-buku pengetahuan yang lain. Kursi dan meja dari kayu disusun dengan rapi. Beberapa lemari penuh dengan aneka buku berdiri di setiap ruangan.
Kami memilih duduk dekat sebuah rak buku besar berisi koleksi novel karya penulis-penulis dalam dan luar negeri.
Mir? Pras kembali menegurku.
Aku mengangkat wajah dan menatap wajah tampan di depanku.
Aku nggak apa-apa, kok. Cuman bingung aja, Mas Bayu udah nanyain terus kapan aku pulang ke Riyadh, jawabku pelan.
Lho, ya wajar Bayu nanyain kamu. Dia pasti bingung sendirian di sana. Kok bingung? tanyanya heran.
Aku tak menjawab. Hatiku sedang menimbang apakah pantas aku menceritakan masalah rumah tangga pada lelaki lain? Aku ingin sekali membagi beban di hati ini pada orang yang mau mendengarkan tanpa harus menghakimi. Aku butuh teman yang bisa mengerti. Sebetulnya Marisa sangat baik, tapi aku kadang tidak terima kalau ia menyalahkan sikapku. Sementara itu, aku juga tidak mungkin cerita ke Ibu atau si kembar karena pasti mereka juga akan menyalahkanku.
Aku ingin sekali berbagi dengan Pras, akan tetapi hatiku masih ragu. Namun, akhirnya kuputuskan untuk bercerita sedikit tentang masalahku dan Mas Bayu. Aku berharap, Pras bisa memberikan pandangan lain karena sebagai lelaki ia bisa merasakan berada di sisi Mas Bayu.
Aku mau cerita sama kamu, tapi malu, Pras. Aku malu, soalnya ini masalah rumah tanggaku, ujarku ragu-ragu.
Pras memandangku dengan serius, siap mendengarkan apa yang akan kusampaikan.
Sebetulnya, rumah tanggaku dan Mas Bayu sedang tidak baik-baik saja. Hubungan kami sedang diuji. Meskipun terlihat harmonis, aku sudah lama memendam rasa kecewa. Ada sesuatu yang membuat kami selalu bertengkar. Sifat Mas Bayu yang tertutup dan kurang peka terhadapku merupakan salah satu sebab renggangnya hubungan kami.
Aku mulai bercerita sambil mengambil sebuah novel dari lemari kaca. Novel yang bercerita tentang sepasang suami istri yang memilih berpisah setelah menikah selama duapuluh tahun. Aku tersentak karean merasa isi novel itu hampir sama dengan apa yang kualami.
Bukannya dalam sebuah pernikahan, pertengkaran itu wajar dan biasa terjadi? tanya Pras sambil melihat menu di meja.
Memang, tapi kalau masalahnya nggak selesai-selesai karena gengsi untuk mengaku salah, gimana?
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






