Noel Ebenezer Menangis dan Minta Amnesti Presiden Prabowo Usai Jadi Tersangka

- Penulis

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 11:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Noel Ebenezer Menangis dan Minta Amnesti Presiden Prabowo Usai Jadi Tersangka

Noel Ebenezer Menangis dan Minta Amnesti Presiden Prabowo Usai Jadi Tersangka

Redaksiku.com – Kasus yang menjerat mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer atau yang akrab dikenal dengan Noel Ebenezer, bikin publik heboh.

Noel yang dulu dikenal vokal sebagai aktivis sekaligus pejabat, kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Momen paling menyentuh adalah ketika Noel terlihat menangis saat digelandang penyidik KPK dengan rompi oranye khas tahanan. Tangannya diborgol, wajahnya terlihat muram, dan dalam kondisi tersebut ia melontarkan sebuah harapan besar: amnesti dari Presiden Prabowo Subianto.

Semoga saya mendapatkan amnesti dari Presiden Prabowo, ucap Noel dengan suara bergetar di Gedung Merah Putih KPK, Jumat (22/8/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Permintaan Maaf Noel

Bukan cuma permintaan amnesti, Noel juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Dengan nada penuh penyesalan, ia mengungkapkan tiga pihak yang paling berat baginya untuk dikecewakan: Presiden Prabowo, keluarganya, dan masyarakat Indonesia.

Saya meminta maaf kepada Presiden Pak Prabowo. Kedua, saya minta maaf kepada anak dan istri saya. Ketiga, saya minta maaf terhadap rakyat Indonesia, kata Noel dengan wajah tertunduk.

Momen ini langsung jadi sorotan publik. Banyak yang mempertanyakan ketulusan Noel, tapi di sisi lain ada juga yang merasa iba karena melihat seorang pejabat yang dulu vokal, kini jatuh dalam posisi serba sulit.

Noel Ebenezer Menangis dan Minta Amnesti Presiden Prabowo Usai Jadi Tersangka
Noel Ebenezer Menangis dan Minta Amnesti Presiden Prabowo Usai Jadi Tersangka

Awal Kasus yang Menjerat Noel

Kasus ini bermula dari laporan dugaan pemerasan sertifikasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan. Sertifikasi K3 sebenarnya adalah kewajiban perusahaan demi melindungi tenaga kerja dari potensi kecelakaan kerja. Biaya resmi penerbitannya hanya sekitar Rp275 ribu.

Namun, menurut KPK, praktik di lapangan jauh berbeda. Perusahaan yang ingin mendapatkan sertifikat itu dipaksa membayar hingga Rp6 juta per dokumen. Dari sini, terkumpul dana sekitar Rp81 miliar.

Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menjelaskan bahwa Noel diduga ikut menerima aliran dana tersebut. Sejumlah uang tersebut mengalir kepada pihak penyelenggara negara, yaitu saudara IEG (Immanuel Ebenezer Gerungan) sebesar Rp3 miliar pada Desember 2024, kata Setyo.

Dengan kata lain, meski jumlah yang diterima Noel disebut hanya Rp3 miliar, praktik pemerasan ini sudah berlangsung lama sejak 2019 dan nilainya sangat besar.

Bantahan Noel: “Saya Bukan Hasil OTT”

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Noel mencoba memberikan klarifikasi. Ia menolak narasi yang menyebut dirinya ditangkap lewat operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Saya ingin klarifikasi bahwa saya tidak di-OTT. Pertama itu. Kedua, kasus saya bukan kasus pemerasan, agar narasi di luar tidak menjadi narasi kotor yang memberatkan saya, tegas Noel.

Pernyataan ini menandakan bahwa Noel ingin menegaskan posisinya, bahwa ia tidak tertangkap tangan dan merasa kasus ini masih bisa ia luruskan lewat proses hukum. Namun publik tetap terbelah. Ada yang percaya dengan klarifikasinya, ada juga yang skeptis.

Jeratan Hukum yang Berat

Dalam perkara ini, Noel dijerat dengan Pasal 12 huruf (e) dan/atau Pasal 12B UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pasal-pasal ini bukan main-main. Jika terbukti, ancaman hukuman bisa sangat berat, mulai dari kurungan panjang hingga denda dalam jumlah besar. Publik tentu menunggu bagaimana kasus ini akan berjalan, mengingat Noel adalah figur publik dengan rekam jejak panjang dalam dunia aktivisme dan politik.

Ironi Seorang Aktivis

Banyak yang menyebut kasus Noel sebagai ironi. Dulu, ia dikenal sebagai aktivis yang vokal mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah. Namun kini, ia justru terjerat kasus yang berhubungan dengan penyalahgunaan kekuasaan.

Perjalanan hidup Noel yang awalnya diwarnai idealisme kini tampak berbalik arah. Tangisan dan permintaan amnesti yang ia sampaikan di depan publik semakin memperkuat kesan bahwa situasi ini benar-benar berat untuknya.

Reaksi Publik

Video Noel yang menangis dan meminta amnesti langsung viral di media sosial. Banyak netizen yang mengomentari dengan sudut pandang berbeda. Ada yang merasa kasihan karena ia terlihat begitu terpukul, tapi tidak sedikit juga yang menilai bahwa permintaan amnesti itu terlalu instan mengingat besarnya kerugian negara akibat kasus yang menjeratnya.

Sebagian warganet bahkan membandingkan kasus Noel dengan pejabat lain yang tersangkut masalah korupsi. Kalau semua minta amnesti, terus siapa yang tanggung jawab? tulis salah satu komentar netizen di X (Twitter).

Nasib Noel ke Depan

Hingga kini, belum jelas apakah permintaan Noel untuk mendapatkan amnesti dari Presiden Prabowo akan direspons. Secara hukum, pemberian amnesti biasanya berkaitan dengan kasus politik, bukan tindak pidana korupsi.

Artinya, peluang Noel untuk mendapatkan amnesti terbilang kecil. Namun, politik di Indonesia kadang penuh kejutan. Publik masih menunggu bagaimana pemerintah akan menyikapi permintaan yang cukup kontroversial ini.

Kesimpulan

Kasus Noel adalah pengingat bahwa siapapun, baik aktivis maupun pejabat, bisa tergelincir ketika dihadapkan dengan godaan kekuasaan dan uang. Tangisan Noel di KPK mungkin akan dikenang sebagai salah satu momen paling dramatis dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia.

Apakah ia akan benar-benar mendapatkan amnesti dari Presiden Prabowo, atau justru harus menjalani hukuman berat sesuai hukum yang berlaku, hanya waktu yang bisa menjawab.

Yang jelas, publik kini menyoroti dengan seksama setiap perkembangan kasus ini, sembari berharap penegakan hukum berjalan dengan adil tanpa pandang bulu.

 

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Berbagai Sumber

Berita Terkait

Anti Ribet! 15 Ide Bekal Simpel dan Sehat untuk Anak TK yang Bisa Dibuat di Rumah
Nama El Rumi Viral Usai Dikaitkan dengan Inisial EJR di Threads, Ini Respons Hukumnya
Kecelakaan Maut Tol Jagorawi, Mobil Mewah Hancur Usai Tabrak Truk Kontainer
Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Jadi Tersangka KPK, Ini Kronologi OTT dan Kasusnya
Praperadilan dr Tifa Gugur, Kasus Dugaan Ijazah Jokowi Masuk Tahap Berikutnya
Wih! BOSP SDN Tallo Tua Rp151 Juta, Kepala Sekolah Tak Tahu
Kalimantan Hadapi Musim Kemarau, Ancaman Karhutla hingga Pembangunan IKN Terus Berjalan
Duh! Rp19,4 Miliar Digelontorkan, Jalan Pujananting Kok Mandek?

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Anti Ribet! 15 Ide Bekal Simpel dan Sehat untuk Anak TK yang Bisa Dibuat di Rumah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:36 WIB

Nama El Rumi Viral Usai Dikaitkan dengan Inisial EJR di Threads, Ini Respons Hukumnya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:30 WIB

Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Jadi Tersangka KPK, Ini Kronologi OTT dan Kasusnya

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Praperadilan dr Tifa Gugur, Kasus Dugaan Ijazah Jokowi Masuk Tahap Berikutnya

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:35 WIB

Wih! BOSP SDN Tallo Tua Rp151 Juta, Kepala Sekolah Tak Tahu

Berita Terbaru

Cara Tepat Menghadapi Pembeli yang Suka Menawar

Bisnis

4 Cara Tepat Menghadapi Pembeli yang Suka Menawar

Sabtu, 22 Agu 2026 - 12:42 WIB

Foto: Aulia, murid SMKN 5 Barru, menerima bantuan.

Pendidikan

Kepedulian Gubernur Sulsel Sampai ke Murid SMKN 5 Barru

Sabtu, 22 Agu 2026 - 09:49 WIB