Redaksiku.com – Generasi muda di Desa Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten, memanfaatkan media musik dan seni sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis ekosistem pesisir yang kian memburuk pada Jumat, 4 September 2026. Aksi kreatif ini muncul sebagai respons atas hilangnya mata pencaharian nelayan tradisional akibat reklamasi Teluk Jakarta, degradasi hutan mangrove, serta pencemaran laut yang masif. Langkah ini menjadi upaya kolektif warga untuk menyuarakan ketidakadilan sosial sekaligus menuntut perhatian terhadap keberlangsungan lingkungan pesisir yang menjadi tumpuan hidup mereka selama puluhan tahun.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Pesisir
Dadap yang sebelumnya dikenal sebagai sentra penghasil kerang hijau terbesar di kawasan Jabodetabek kini menghadapi tantangan produksi yang signifikan. Perubahan lanskap pesisir memaksa nelayan beralih dari pencarian kerang alami ke sistem budidaya menggunakan keramba jaring apung. Namun, sistem ini menuntut modal awal yang besar, berkisar antara puluhan hingga ratusan juta rupiah, yang tidak terjangkau oleh sebagian besar nelayan lokal.
Kondisi ini mengakibatkan ketergantungan ekonomi yang semakin dalam, di mana mayoritas keramba kini dikuasai oleh pemodal dari luar daerah. Warga lokal, termasuk para perempuan, akhirnya terserap menjadi buruh budidaya dengan upah yang minim. Keterbatasan akses modal ini sering kali memaksa keluarga nelayan terjerat dalam praktik pinjaman bank keliling atau rentenir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang pengupas kerang di Dadap rata-rata mampu mengolah 12 hingga 15 kilogram kerang per hari dengan upah bersih sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000.
Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Tangerang, Fatimah, mengungkapkan bahwa perempuan di wilayah tersebut harus menempuh berbagai strategi untuk bertahan hidup. Mereka beralih profesi menjadi asisten rumah tangga, pengemudi ojek, hingga pedagang keliling. Sebagian lainnya mencoba mengolah hasil laut yang kurang diminati pasar menjadi produk UMKM seperti kerupuk untuk menambah nilai ekonomi keluarga.
Beban Ganda Akibat Krisis Lingkungan
Selain tekanan ekonomi, masyarakat juga harus menghadapi ancaman banjir rob yang membawa material lumpur serta sampah ke pemukiman warga hampir setiap hari. Fenomena ini tidak hanya merusak properti, tetapi juga menyita waktu produktif warga yang seharusnya digunakan untuk mencari nafkah. Beban ganda ini menciptakan tekanan fisik dan emosional yang signifikan bagi para ibu di Dadap.
Kelelahan ekstrem akibat harus membersihkan rumah dari lumpur setiap hari secara langsung berdampak pada pola asuh dan kesejahteraan emosional anak-anak di pesisir Dadap.
Salah satu warga bernama Imah mengakui bahwa situasi lingkungan yang buruk memicu ketegangan di dalam rumah tangga. Ketika rutinitas harian terganggu oleh banjir rob, tingkat stres yang tinggi sering kali berujung pada kelelahan emosional. Dampak dari krisis ekosistem ini pun merambah hingga ke ruang privat keluarga dan pertumbuhan psikologis anak.
Seni sebagai Kanal Ekspresi
Di tengah kepungan masalah tersebut, kelompok pemuda setempat memilih untuk tidak tinggal diam dan menggunakan jalur kreatif. Melalui musik dan seni visual, mereka mendokumentasikan perubahan yang terjadi di kampung mereka sebagai bentuk advokasi sosial. Fenomena ini sejalan dengan tren di berbagai daerah di Indonesia, di mana komunitas lokal mulai menggunakan instrumen seni untuk mengkritisi kebijakan lingkungan.
Contoh serupa terlihat pada inisiatif di Desa Bonde, Majene, di mana guru PAUD dan orang tua menciptakan alat musik dari sampah sebagai upaya edukasi cinta lingkungan. Begitu pula dengan gerakan di Bandung yang menjadikan panggung musik sebagai ruang tumbuh bagi talenta muda untuk mengangkat isu-isu sosial. Upaya-upaya ini menegaskan bahwa seni telah menjadi alat efektif dalam menyatukan komunitas di tengah tantangan zaman.
“Musik menjadi elemen pemersatu sekaligus medium untuk menyampaikan keresahan masyarakat yang selama ini terpinggirkan oleh pembangunan yang tidak pro-lingkungan.”
— Aktivis Komunitas Pesisir
Keterlibatan kaum muda dalam isu pesisir Dadap bukan sekadar hobi, melainkan bentuk partisipasi aktif dalam menjaga identitas kampung. Dengan menyuarakan kondisi nyata di lapangan melalui karya, mereka berharap kesadaran publik terhadap nasib masyarakat pesisir dapat meningkat. Langkah ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah pembangunan seharusnya tidak mengorbankan kesejahteraan warga yang telah tinggal di sana selama turun-temurun.
Pertanyaan Umum
Mengapa nelayan di Dadap kesulitan mencari kerang hijau?
Nelayan kesulitan karena adanya perubahan lanskap pesisir, proyek reklamasi, hilangnya ekosistem mangrove, serta pencemaran laut yang membuat habitat alami kerang rusak.
Bagaimana perempuan di Dadap menyiasati kesulitan ekonomi?
Mereka melakukan diversifikasi pekerjaan seperti menjadi pengupas kerang, asisten rumah tangga, pengemudi ojek, hingga mengolah sisa hasil laut menjadi produk UMKM untuk menambah penghasilan keluarga.
Apa peran musik bagi kaum muda di Dadap?
Musik digunakan sebagai sarana perlawanan dan ekspresi untuk menyuarakan kondisi lingkungan yang rusak serta menuntut keadilan bagi masyarakat pesisir yang terdampak pembangunan.
Ringkasan
Generasi muda di Dadap menggunakan musik dan seni sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis lingkungan pesisir akibat reklamasi dan pencemaran laut.





