Redaksiku.com – Fenomena gunung menangis kembali menghebohkan masyarakat Nusa Tenggara Barat setelah sejumlah bukit di Kecamatan Sembalun mengeluarkan aliran air deras layaknya air terjun. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa jam setelah hujan intens melanda wilayah tersebut.
Video yang menunjukkan air mengalir deras dari sisi bukit tanpa jalur sungai langsung viral di media sosial, memancing reaksi takjub sekaligus cemas dari warganet.
Masyarakat Sembalun menyebut fenomena ini sebagai “air terjun dadakan,” istilah yang belakangan semakin sering muncul karena peristiwa serupa sudah beberapa kali terjadi.
Namun kali ini, warga mengaku terkejut karena kemunculan air terjun jauh lebih banyak, lebih deras, dan terlihat seolah-olah bukit sedang mengeluarkan air dari seluruh sisinya membuat istilah gunung menangis semakin melekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Viral Air Terjun Dadakan di Sembalun Cetuskan Kecemasan Warga
Fenomena gunung menangis bermula ketika hujan deras mengguyur Sembalun pada Senin (8/12/2025). Hanya dalam waktu dua jam, air dari perbukitan mulai turun deras dari titik-titik yang bukan aliran sungai. Video menunjukkan betapa cepat air jatuh, membelah bukit dengan pola aliran yang tidak biasa.
Ketua Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup Sembalun, Rijalul Fikri, mengakui bahwa fenomena air terjun dadakan bukanlah hal baru, tetapi debit air kali ini jauh lebih besar.
Tumben sebesar dan sederas ini, ungkapnya. Ia menyebut warganet menjulukinya gunung menangis karena dari jauh terlihat seperti air keluar spontan dari permukaan bukit.
Sebagian warga yang sempat merekam kejadian mengaku awalnya mengira hanya aliran kecil. Namun semakin lama, intensitas air bertambah cepat hingga masuk ke aliran sungai besar yang menuju permukiman. Rasa takut pun muncul, terutama bagi mereka yang lokasi rumahnya dekat jalur air.
Trauma Banjir Masa Lalu Kembali Terbayang
Bagi warga Sembalun, melihat gunung menangis bukan hanya fenomena visual yang unik. Ada trauma lama yang kembali mengemuka.
Beberapa tahun lalu, banjir bandang besar melanda wilayah tersebut dan menelan korban jiwa serta merusak rumah dan persawahan.
Kita panik karena ada trauma masa lalu, ujar Rijal. Warga yang tinggal di pinggiran sungai langsung siaga, memindahkan barang-barang penting dan mengawasi kontur air sungai di dekat rumah mereka.
Meski kejadian kali ini tidak mengakibatkan kerusakan fisik yang signifikan pada rumah warga, rasa takut itu cukup kuat.
Beberapa penduduk mengaku sempat tidak tidur hingga air benar-benar surut, memastikan tidak ada banjir susulan. Fenomena cantik ini bagi sebagian warga merupakan tanda bahaya yang tidak boleh diremehkan.
Dampak ke Lahan Pertanian, Sawah Terdampak Hingga Tiga Hektare
Selain memicu kepanikan, gunung menangis juga memberikan dampak nyata pada lahan pertanian warga. Aliran air yang tiba-tiba turun dari bukit masuk ke sungai dan meluap ke area persawahan hingga tiga hektare.
Menurut Rijal, tanaman hortikultura adalah yang paling terdampak. Banyak petani merugi karena tanaman mereka baru memasuki usia subur. Jika hujan intens lebih lama, kerugian bisa jauh lebih besar dan bahkan mengganggu suplai hasil panen lokal.
Meski rumah warga belum terdampak, kondisi ini sudah cukup mengganggu mata pencaharian masyarakat Sembalun.
Para petani berharap kejadian ini tidak berlanjut, terutama mengingat curah hujan tinggi masih diperkirakan terjadi beberapa hari ke depan.
Kenapa Gunung Menangis Bisa Terjadi? Analisis Sementara
Fenomena gunung menangis sebenarnya merupakan proses alam yang berkaitan erat dengan tanah yang jenuh air akibat hujan intens.
Ketika tanah di perbukitan tidak mampu lagi menyerap air, air akan mencari jalur tercepat untuk turun, sehingga menciptakan aliran seperti air terjun di permukaan bukit.
Namun menurut Rijal, faktor manusia juga punya peran. Ia menyebut adanya alih fungsi lahan untuk perkebunan dan vila yang kini semakin marak.
Area resapan air menyempit, sehingga air kehilangan tempat untuk meresap dan akhirnya meluap dari permukaan bukit.
Analisis ini juga membuka diskusi di kalangan warganet mengenai pentingnya menjaga vegetasi alami di hilir gunung. Banyak yang mengingatkan bahwa perubahan kecil pada ekosistem bisa memicu fenomena alam yang tidak bisa diprediksi.
Reaksi Publik Takjub, Ngeri, dan Viral Seketika
Saat video gunung menangis mulai tersebar, publik menunjukkan beragam reaksi. Ada yang mengagumi keindahannya dan menyebut fenomena itu mirip film fantasi. Ada pula yang mengaku ngeri melihat derasnya aliran air yang tampak datang tiba-tiba.
Di platform X dan Instagram, frasa gunung menangis masuk daftar trending beberapa jam setelah video itu diunggah. Konten-konten analisis, komentar lucu, hingga spekulasi penyebab fenomena itu bermunculan.
Warganet dari berbagai daerah mengaku baru pertama kali melihat fenomena seperti itu. Namun, sebagian mengingatkan bahwa meski terlihat indah, kejadian seperti ini bisa menjadi tanda potensi bencana di masa depan jika tidak ditangani serius.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau






