Dampak Buruk Asap Karhutla bagi Anak-anak di Banjarbaru, Kalsel

- Penulis

Selasa, 8 September 2026 - 23:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dampak buruk asap — Seorang warga di Kampung Pengayuan, Banjarbaru, mengamati lahan gambut yang kering akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Warga di Kampung Pengayuan, Banjarbaru, kini dihantui kecemasan akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi.

Redaksiku.com – Siti Sarah, seorang warga di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kini hidup dalam bayang-bayang kecemasan yang mendalam. Sebulan terakhir, ia sulit memejamkan mata karena ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengintai di depan mata. Lahan gambut yang mengering di sekitar pemukimannya menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja, memicu kepanikan setiap kali aroma asap tercium di udara.

Kondisi di lapangan memang mengkhawatirkan. Merujuk pada data BPBD Kalsel, tercatat ada 436 peristiwa karhutla yang terjadi di wilayah Banjarbaru sejak awal Januari hingga 29 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 71 insiden di antaranya menghantam kawasan Landasan Ulin Selatan, tempat Sarah tinggal. Tingginya frekuensi kebakaran ini membuat warga setempat harus selalu dalam kondisi siaga satu.

Pada Rabu, 19 Agustus 2026, ketakutan Sarah menjadi nyata. Api tiba-tiba berkobar di area yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari kediamannya. Kondisi lahan yang kering dipadu dengan hembusan angin kencang membuat api merambat dengan sangat cepat. Sarah menggambarkan situasi tersebut sebagai api yang seolah melompat, berpindah titik dalam hitungan detik sebelum akhirnya membesar dan mendekati pemukiman warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Siang harinya, api jauh. Tapi karena angin kencang, mungkin jelaganya terbawa terbang. Kebakarannya seolah melompat, tiba-tiba dekat, dan cepat membesar.”

— Siti Sarah

Situasi di kampung tersebut sempat kacau. Raungan teriakan meminta tolong terdengar dari berbagai sudut saat warga berusaha menyelamatkan diri dan harta benda. Sarah sendiri tidak hanya berdiam diri; ia ikut terjun langsung memadamkan api dengan peralatan seadanya, menggunakan kayu untuk memukul titik api agar tidak terus meluas. Beruntung, petugas pemadam kebakaran segera tiba di lokasi dan berhasil mengendalikan kobaran api sebelum menyambar deretan rumah warga.

Namun, teror api tidak berhenti di situ. Hanya berselang dua hari, tepatnya pada Jumat, 21 Agustus 2026, kebakaran besar kembali terjadi di lokasi yang berdekatan. Meski titik api kali ini berada lebih jauh dari rumah Sarah, trauma yang ditinggalkan tetap membekas. Sarah kini mengaku selalu dihantui rasa takut setiap kali harus meninggalkan rumah, bahkan ia sering terjaga di malam hari karena cemas api akan menyala secara tiba-tiba tanpa peringatan.

Dampak Kesehatan dan Lingkungan

Selain ancaman fisik berupa api yang menjilat lahan, kabut asap yang dihasilkan menjadi musuh tak kasat mata bagi penduduk. Sarah menjadi salah satu korban pertama yang merasakan dampak buruk dari kualitas udara yang memburuk. Asap tebal atau jerubu masuk ke dalam rumah hingga mengganggu jarak pandang, sementara bau menyengatnya menembus hingga ke dalam kamar tidur.

Gangguan kesehatan yang dialami Sarah diperparah oleh riwayat asma yang ia derita sejak kecil, sehingga ia kini harus berjuang menghadapi batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga pusing yang terus menerus menyerang.

Kondisi yang dialami Sarah mencerminkan realitas pahit yang dihadapi banyak warga di Kalimantan Selatan selama musim kemarau. Lahan gambut yang seharusnya menjadi penyangga ekosistem justru berubah menjadi sumber bencana karena mudah terbakar. Tanpa penanganan serius pada manajemen lahan, siklus kebakaran ini diprediksi akan terus berulang dan mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan penderita penyakit pernapasan kronis.

Paparan kabut asap akibat karhutla mengandung partikel halus (PM2.5) yang sangat berbahaya bagi paru-paru dan dapat memperburuk kondisi kesehatan penderita asma secara signifikan dalam jangka pendek maupun panjang.

Langkah Antisipasi dan Penanganan

Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus berupaya melakukan pemadaman di berbagai titik panas (hotspot) yang terdeteksi. Namun, tantangan geografis di lahan gambut yang dalam membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran lahan mineral biasa. Seringkali, api yang tampak padam di permukaan masih menyimpan bara di dalam tanah yang bisa menyulut api kembali saat terpapar panas matahari.

Gunakan masker medis atau masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan jika tercium bau asap, serta pastikan ventilasi rumah tertutup rapat untuk mencegah partikel asap masuk ke area hunian.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di area lahan gambut. Kerjasama antara warga setempat, seperti yang ditunjukkan oleh Sarah dan tetangganya, dengan petugas pemadam kebakaran menjadi kunci utama dalam meredam dampak kerusakan yang lebih luas. Tanpa kewaspadaan kolektif, lahan-lahan yang tersisa akan terus terancam menjadi abu, meninggalkan jejak trauma bagi warga yang tinggal di sekitarnya.

Pertanyaan Umum

Mengapa lahan gambut di Kalimantan Selatan sangat rawan terbakar?

Lahan gambut memiliki karakteristik menyimpan cadangan air di bawah permukaan. Saat musim kemarau panjang, lapisan gambut mengering dan menjadi sangat mudah terbakar, bahkan api bisa merambat di bawah permukaan tanah (api bawah tanah) yang sulit dipadamkan oleh petugas.

Bagaimana cara melindungi diri dari paparan kabut asap?

Langkah terbaik adalah membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, gunakan masker yang mampu menyaring partikel udara, perbanyak minum air putih, dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala sesak napas atau iritasi saluran pernapasan.

Apa yang harus dilakukan jika melihat titik api di sekitar lingkungan?

Segera laporkan kepada otoritas setempat, seperti BPBD, pemadam kebakaran, atau aparat desa agar dapat segera dilakukan tindakan pemadaman sebelum api meluas. Hindari mendekati lokasi kebakaran tanpa peralatan pelindung diri yang memadai.

Ringkasan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berdampak buruk bagi kesehatan warga, terutama anak-anak dan penderita asma, karena paparan partikel halus (PM2.5) dari asap yang memicu gangguan pernapasan serta trauma akibat ancaman api yang mendekati pemukiman.

Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker N95, serta segera melapor ke otoritas setempat jika menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

5 Bandara Kembali Beroperasi Normal Pasca Erupsi Gunung Krakatau
Dampak Erupsi Anak Krakatau, Kemenhaj Pastikan Keselamatan Jamaah Umrah
Kebakaran Lahan Terjadi di Kaki Gunung Guntur Garut
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat di Aceh dan Sumut
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Pembukaan Bandara
Debu Vulkanik Anak Krakatau Tak Terdeteksi di 4 Bandara
Gempa Bumi M2,6 Guncang NTT, BMKG Minta Warga Waspada
Krisis Air Bersih di Hutan Adat Suku Mapur Bangka

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 04:10 WIB

5 Bandara Kembali Beroperasi Normal Pasca Erupsi Gunung Krakatau

Selasa, 8 September 2026 - 23:46 WIB

Dampak Erupsi Anak Krakatau, Kemenhaj Pastikan Keselamatan Jamaah Umrah

Selasa, 8 September 2026 - 23:36 WIB

Dampak Buruk Asap Karhutla bagi Anak-anak di Banjarbaru, Kalsel

Selasa, 8 September 2026 - 23:20 WIB

Kebakaran Lahan Terjadi di Kaki Gunung Guntur Garut

Selasa, 8 September 2026 - 22:46 WIB

BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat di Aceh dan Sumut

Berita Terbaru