Novel : Bertahan di Atas Luka Part 16

- Penulis

Rabu, 9 Oktober 2024 - 12:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 16

Ibu bilang apa? tanya Mas Bayu sambil fokus mengemudi mobil.

Kata Ibu, aku harus nurut apa kata suami, jawabku, meskipun dari hati yang paling dalam aku belum benar-benar ikhlas untuk melepaskan karierku, lanjutku dalam hati.

Alhamdulillah. Berarti sekarang tinggal kamu yang harus memutuskan. Kamu udah salat, udah minta nasihat Ibu, seharusnya kamu sudah bisa ambil keputusan, ujarnya sambil menoleh sejenak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku diam. Entah kenapa, sejak pulang dari rumah Ibu, perasaanku tidak enak.  Seperti ada yang salah. Berkali-kali aku berusaha meyakinkan diri sendiri, kalau semua yang aku lakukan hanya ingin mencari rida Allah. Namun, mengapa sukar sekali rasanya untuk ikhlas? Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja.

Mas Bayu melirik, lalu dengan tangan kirinya ia menggenggam tanganku. Aku membiarkannya. Semakin lama, linangan air mataku semakin deras, hingga mengaburkan pandangan. Aku tidak berusaha menyeka mataku, biar saja.  Aku ingin mengeluarkan semua rasa kecewa dan marah dari dalam dada. Apakah begini menjadi seorang istri yang belum berhasil hamil?  Menjadi manusia yang tidak punya hak untuk bersuara?

Udah, dong, nangisnya.  Kan aku minta kamu berhenti kerja juga untuk kebaikan kita? Supaya kamu nggak perlu capek harus pulang malam, harus lembur ngurus kerjaan.  Belum lagi kalau ada yang nggak beres, kamu kena marah.

Aku masih membisu.

Jangan khawatir, semua gajiku akan aku kasih ke kamu.  Kamu yang pegang dan ngatur semua pengeluaran sehari-hari, termasuk untuk Ibu.

Aku nggak enak sama keluargamu. Kan kamu juga harus ngasih Mama sama Papa? Nanti apa kata mereka, kesannya Ibu jadi seperti benalu, ujarku terbata-bata diantara isak tangis.

Mas Bayu tersenyum.

Nggak perlu ngomong gitu. Ibumu kan ibuku juga.  Kita udah suami istri, keluargamu ya keluargaku. Baik, gini aja, aku ambil untuk Mama dulu, setelah itu kamu simpan. Gimana?

Ragu aku mengangguk, nggak mungkin terus terang kalau sebenarnya aku juga takut kalau tidak pegang uang. Biasanya kalau mau membeli apa-apa, aku cukup izin Mas Bayusekedar memberi tahu sajauntuk memakai uangku sendiri. Aku bisa memutuskan sendiri, tidak perlu minta pada suami.  Kalau nanti aku tidak kerja, mau nggak mau aku akan bergantung pada Mas Bayu.

Dah, stop nangisnya! Jalanin aja dulu, kalau nanti misalnya udah nyoba nggak kerja, tapi malah tertekan, kamu boleh kerja lagi.  Aku janji.

Aku merasa agak terhibur. Alhamdulillah.

Baiklah, Mas. Setelah selesai acara di kantor, aku akan masukkan surat pengunduran diri.  Bismillah, semoga Allah rida dengan keputusanku dan ngasih kita momongan.

Aamiin. Mas Bayu terlihat lega.

Aku mulai menyiapkan diri, terutama menata hatiku, menyusun rencana apa yang akan aku lakukan ketika tidak bekerja lagi. Akhirnya saat itu tiba juga.  Selesai acara besar di kantor, aku memberikan surat pengunduran diri. Semua kaget karena aku memang tidak bicara apa-apa sebelumnya. Aku bahkan tidak memberi tahu Marisa. Wajar kalau ia marah dan sempat tidak mau bicara padaku. Namun, setelah mendengar alasanku, ia menjadi pendukung utama.  Ia yang selalu memberikan nasihat untuk membuatku tetap semangat.

Masa-masa awal di rumah, aku gunakan untuk membereskan barang-barang yang selama ini tidak sempat aku rapikan. Tanpa terasa, hari sudah beranjak siang. Berikutnya, aku memasak untuk Mas Bayu. Ternyata, walaupun berada di rumah, waktu bergulir dengan cepat. Kesibukan menata rumah cukup menyita waktu. Menjelang sore, aku istirahat sambil membaca.  Sungguh, semuanya tidak seburuk yang kubayangkan.

Aku memutuskan untuk menikmati hari-hariku di rumah. Mas Bayu juga tampak bahagia. Hubungan kami yang sempat dingin, perlahan mulai menghangat. Kami banyak melakukan kegiatan bersama. Setiap pagi, sebelum berangkat bekerja, Mas Bayu menyempatkan diri mengajakku jalan pagi.

Bulan demi bulan, aku nikmati sambil mencari kesibukan apa yang akan aku lakukan. Meskipun sudah berusaha menerima keadaan, rasa kecewa masih sering hadir dalam hatiku. Aku merindukan suasana hiruk pikuk di kantor, suara saling debat, dan pujian kalau bisa bekerja dengan baik. Juga rasa khawatir tidak bisa menepati deadline.  Suasana itu yang membuat hidupku bergairah. Aku kehilangan semua itu. Namun, aku langsung teringat tujuanku tinggal di rumah. Sekali lagi kecewa itu harus aku simpan baik-baik.

Menjelang setahun aku di rumah, suatu hari Mas Bayu pulang dan membawa berita mengejutkan. Saat itu kami sedang menikmati makan malam.

Kamu mau umrah nggak, Mir? Tiba-tiba Mas Bayu bertanya dengan wajah sungguh-sungguh.

Siapa yang nggak pingin, Mas. Semua juga mau, tapi kan biayanya mahal. Kayaknya nggak mungkin dalam waktu dekat ini, kan? Apalagi aku kan udah nggak kerja, penghasilan kita berkurang.

Bismillah. Kalau Allah berkehendak, semua jadi mungkin, cetus Mas Bayu dengan yakin.

Aku ˜amin™ aja, deh. Kalau beneran bisa, pasti senang banget. Sekalian ajak orang tua kita, jawabku sambil menikmati soto ceker lamongan.

Doa kamu langsung terkabul, Mir! Serius, ini. Aku diterima kerja di perusahaan asing di Riyadh! pekiknya gembira.

Aku terpana.  Riyadh? Di mana itu?

Hei, kok bengong? Kamu nggak suka aku kerja di luar negeri?

Riyadh itu di mana, Mas? tanyaku polos.  Terus terang, aku memang belum pernah mendengar kota itu.

Kamu nggak tahu Riyadh? Ya ampun Mir! Riyadh itu ibukota Arab Saudi.  Mekkah, Madinah, itu kota-kota di sana juga.

Aku menganggguk dengan mulut terbuka.

Kapan kamu kirim surat lamarannya? tanyaku penasaran.

Sudah enam bulan yang lalu. Udah sempat nyerah karena nggak ada kabar, eh ternyata tadi pagi aku dapat surat elektronik yang ngasih tahu kalau aku diterima! Wajah Mas Bayu berseri-seri.

Terus, aku gimana?

Ya kamu ikutlah.  Untung kamu udah keluar kerja, kan?

Aku masih tak percaya dengan kata-kata Mas Bayu. Dia melamar kerja jauh ke negeri orang tanpa membicarakannya denganku terlebih dahulu. Aku merasa diabaikan, padahal aku istrinya. Aku kembali menelan kekecewaan.

Aku ikut? Kalau kamu kerja aku kan sendirian. Takut, ah. Mana negara kayak gitu. Aku sering dengar cerita orang yang umrah, serem, Mas! Aku bergidik mengingat banyaknya cerita miring soal keadaan di negara gurun pasir itu.

Jangan mudah percaya sama omongan orang. Kita kan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku harus ikut, ya? Kenapa sih kamu pingin banget kerja di sana?

Karena bisa sering umrah, bisa ngajak orang tua juga untuk umrah, bisa haji juga. Enak kan? jawab Mas Bayu dengan mata berbinar.

Aku harus ikut, ya? tanyaku lagi, berharap aku bisa tetap di Indonesia.

Kamu nggak mau ikut? Terus mau ngapain sendirian di sini?

Di sini aku nggak sendirian, kan ada Ibu sama si kembar.

Yakin nggak mau ikut? Istri itu harus ikut suaminya, ke mana suami pergi.

Kutatap wajah Mas Bayu, wajah yang selalu menemani hari-hariku. Sanggupkah aku hidup berjauhan dengannya? Apakah aku bisa hidup tanpa melihat senyum dan mendengar tawanya? Memang teknologi sekarang semakin canggih, aku bisa saja tetap menikmati senyumnya lewat panggilan video, tetapi tetap berbeda rasanya.

Mas udah salat istikharah? Aku mencoba mengingatkan.

Alhamdulillah, sudah. Sejak aku dinyatakan lulus persyaratan awal, aku langsung salat minta petunjuk apakah ini yang terbaik untuk aku dan kamu.  Hasilnya, aku lulus lagi tes tahap berikutnya dan semakin mantap untuk menerima kerjaan ini. Mas Bayu menjawab dengan penuh semangat. Aku tidak tega untuk mematahkan kebahagiaannya.

Ini pesanan es campurnya, Bu. Suara pelayan menghentikan ceritaku untuk sementara.

Aku mengangguk dan menerima segelas es campur berwarna merah jambu dengan potongan buah-buahan yang sangat menggugah selera. Setelah mengucapkan terima kasih, aku mulai menyuap es ke dalam mulut.  Lezat. Manis sirup, kolang-kaling, dan kelapa muda terasa memanjakan indera pengecapku.

Yakin, nggak mau, Sa?  Enak banget. Sumpah!

Ogah, nimbun racun gitu. Isi gula semua, nggak, deh! Marisa mendelik melihat es campur di depanku.

Ceritanya nanti aja disambung lagi, ya, Sa.  Kita ngobrol yang lain aja. Capek harus ngomongin masalah gue, ucapku sambil menelan suapan terakhir es campur.

Marisa setuju.  Terserah lo, aja.  Kalau udah, kita lanjut belanja, yuk! Biar gue yang bayar, kan gue yang ngajak, katanya sambil memanggil pelayan.

Aku tertawa.  Makasih, ya, Sa! Lo emang beneran sahabat setia.

Iya, setia nraktir kan maksudnya?

Aku tergelak.  Untuk sejenak aku bisa melupakan luka di hati.

-bersambung-

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

One Piece 1190: Spoiler, Cerita Terbaru, dan Perkembangan Besar Dunia Bajak Laut
Chris Hansen Kembali Jadi Sorotan, Profil Jurnalis Investigasi di Balik To Catch a Predator
The Odyssey Christopher Nolan Jadi Sorotan, Film Epik dengan Produksi Terbesar
Cara Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana 17 Agustus 2026, Syarat dan Link Pendaftaran
Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Jalani Operasi Pita Suara, WAKEONE Ungkap Kondisi Terbarunya
Sinopsis Reborn Rookie, Drama Korea Fantasi dengan Plot Tak Terduga yang Bikin Penasaran
Festival Teman Tulus 2026, Jadwal, Line Up, Tiket, dan Fakta Konser Musik
Miss Supranational 2026 Jadi Sorotan, Ini Jadwal, Peserta, dan Fakta Kontes Kecantikan Dunia

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:09 WIB

One Piece 1190: Spoiler, Cerita Terbaru, dan Perkembangan Besar Dunia Bajak Laut

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:23 WIB

Chris Hansen Kembali Jadi Sorotan, Profil Jurnalis Investigasi di Balik To Catch a Predator

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:37 WIB

The Odyssey Christopher Nolan Jadi Sorotan, Film Epik dengan Produksi Terbesar

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:19 WIB

Cara Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana 17 Agustus 2026, Syarat dan Link Pendaftaran

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:20 WIB

Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Jalani Operasi Pita Suara, WAKEONE Ungkap Kondisi Terbarunya

Berita Terbaru